Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 63


__ADS_3

“Apa lagi yang kau tunggu? Cepat tanda tangan!” perintah Paman yang sudah tidak sabar.


“Ta—tapi Paman, Bara belum mengetahui hal ini.”


“Untuk apa lagi kau menunggu Bara, memberitahumu?! Sudah jelas-jelas dia sudah mengkhianatimu, hah!” ucap Paman yang sedikit membentak.


“Dimana otakmu sekarang? Masih mau mengharapkan Bara yang suatu saat pasti akan meninggalkanmu! Apa lagi sampai saat ini kau belum memberikan pewaris untuk Bara, Apa kau yakin kau bisa hamil?! Berapa bulan sudah kalian menikah hingga sekarang kau belum hamil juga kan!” bentak Paman yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


“Paman, kenapa Paman kenapa bicara seperti itu?” Seru Nisa dengan suara bergetar.


“Aku bicara Fakta Nisa! Bara itu butuh pewaris! Bara pasti lebih memilih anaknya, ketimbang kau! Sekarang cepat kau tanda tangani surat perceraian itu!”


“Ta—tapi Paman...,”


“Apa lagi yang kau pikirkan!!” Bentak Paman Ridwan.


Membuat wanita yang di samping Nisa juga ketakutan. Bahkan ada beberapa pengunjung di restoran tersebut memperhatikan mereka.


“Dasar bodoh!” umpat Paman Ridwan melihat Nisa belum menandatangani surat yang sudah di depan matanya.


“Berani sekali Paman, menyebut istriku bodoh!” Seru seseorang yang memakai topi yang duduk sejak tadi di dekat meja mereka.


Semua orang menoleh ke arah suara tersebut, tak terkecuali Nisa sendiri.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya, Paman Ridwan melihat pria yang membuka topinya itu adalah Bara.


“Bara,” ucapnya pelan.


“Iya. Kenapa? Apa Paman terkejut? Cih..!” Geram Bara.


“Bara, ini tidak seperti yang kau pikirkan, paman hanya...”


“Tidak seperti yang ku pikirkan bagaimana?! Sudah jelas-jelas aku mendengarnya sendiri! Jadi ini yang Paman lakukan, hingga datang ke rumahku kemarin! Apa penjelasan ku kemarin kurang jelas, hah!” bentak Bara tanpa peduli dengan Pamannya sendiri dan pengunjung sekitar.


Tak lama, datang seorang manajer restoran, menegur mereka.


“Mohon maaf Pak, mohon tidak melakukan keributan di dalam restoran kami! Silahkan selesaikan di luar dahulu,” ucap manajer tersebut dengan sopan.


“Maaf Pak, kami akan keluar. Maaf sudah membuat kegaduhan disini,” sahut Nisa dengan sopan.


“Ku peringatkan kepada Paman! Untuk tidak mengganggu kehidupanku lagi! Cukup sudah, Paman sudah menguasai semua kekayaan Ayah. Aku bahkan tidak pernah meminta sepersen pun, dan sekarang Paman meminta aku bercerai dengan istriku. Cih..! jangan mimpi!” geram Bara.


“Apa Paman pikir aku tidak tahu kelakuan curang Paman terhadap Ayahku?! Aku tahu semuanya, Paman! Hanya saja Ayah lebih memilih percaya kepada Paman, ketimbang kepadaku!”


“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah meninggalkan istriku!” geram Bara dengan penuh penekanan.


“Dan kau!” Bara menunjuk wanita yang masih duduk dengan ketakutan.

__ADS_1


“Aku tidak mengenalmu. Dibayar berapa kau? hingga mau melakukan pekerjaan kotor seperti ini! Apa kau tidak kasihan dengan anak dalam kandunganmu itu, kau memberikannya makan dengan uang hasil menipu!” bentak Bara, membuat perempuan tersebut tertunduk malu.


“Maafkan saya Tuan, hiks.., hiks., saya terpaksa melakukan ini,” sahutnya dengan suara bergetar.


“Mas, sudah mas. Ayo kita keluar,” ajak Nisa.


“Paman. Jangan salahkan aku jika Paman berani mengganggu istriku lagi!” Ancam Bara.


“Bara, kita bisa bicarakan ini baik-baik,” ucap Paman Ridwan mencoba menyentuh Bahu Bara. Dengan cepat Bara menepis lengan Pamannya, lalu mengambil kertas yang terletak di meja makan dan merobeknya, Bara sejenak menatap tajam Pamannya lalu menarik lengan istrinya, berjalan ke arah luar menuju mobilnya.


“Sialan...!” Umpat Paman Ridwan.


“Bagaimana ini? Mereka meminta waktu hanya hari ini,” Batin Paman Ridwan masih terlihat gelisah.


“Aku tidak mau kehilangan perusahaan ini, dengan susah payah aku mendapatkannya. Aku akan pikir cara lain,” batinnya.


“Tuan, saya permisi,” pamit wanita yang dengan perut buncitnya, yang disewa olehnya.


“Aku akan tetap membayarmu! Aku akan mentransfer uangnya, sekarang kau pergi lah!” Ucap Paman Ridwan berbicara tanpa melihat wanita tersebut.


Wanita tersebut mengangguk, lalu pergi meninggalkan Paman Ridwan yang terduduk lemas di kursinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2