
Di dalam mobil, Reyhan tidak berhentinya mengoceh, membuat Erwin sedikit kewalahan menjawabnya.
“Pah, kok papa gak pernah tidur di rumah Reyhan sih? Papa banyak kerjaan ya?”
“Iya sayang.”
“Bagaimana sekolahnya?” tanya Erwin mengalihkan pembicaraan.
“Bagus, Reyhan banyak teman semuanya baik pah.”
“Oh ya ...”
“Iya pah, kemarin ada yang tanya papa Reyhan dimana. Reyhan bilang, papa lagi sibuk kerja.”
“Anak pintar.”
Erwin tersenyum melihat ocehan anak yang berumur 6 tahun tersebut, sambil mengelus kepala Reyhan dengan satu tangannya. Sementara tangan satunya fokus memegang setir mobil.
“Pah, Mama tadi malam menangis loh,” ujar Reyhan.
Membuat Erwin tertarik dengan pembicaraan bocah tersebut.
“Oh ya? Pasti Reyhan nakal ya, hingga membuat Mama menangis. Papa kan selalu bilang, kalau Reyhan tidak boleh nakal.”
“Enggak Pah, Reyhan gak nakal kok.”
“Lalu, kenapa Mama menangis?”
“Reyhan gak tahu pah. Mungkin Mama kangen Papa, sama seperti Reyhan kalau kangen Papa pasti nangis,” tutur Reyhan.
Erwin menghela napas berat, ia bingung harus menjawab apa.
“Kalau Reyhan lihat Mama nangis lagi, Reyhan bilang sama Mama, kalau Papa sangat sayang sama Mama. Oke,” tutur Erwin sambil menatap bocah tersebut.
Reyhan mengangguk mengerti.
“Ayo kita turun,” ajak Erwin.
Erwin membuka pintu terlebih dahulu, lalu melangkah memutar mobil membuka pintu untuk Reyhan. Ia menggendong Reyhan, untuk masuk ke salah satu mall.
***
Dirumah, Nisa masih setia mendengarkan kisah masa lalu sang Nenek. Setelah puas bercerita, nenek mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya.
Ia mengambil foto yang berukuran kecil, warnanya pun sudah mulai memudar.
__ADS_1
“Ini foto siapa Nek? Sepertinya tidak asing.”
“Ini adalah foto ibumu, waktu masih berusia 8 tahun.”
Nisa mengusap foto tersebut, tanpa sadar airmatanya mengalir.
“Mama,” ucapnya dalam hati.
“Mama sangat cantik Nek.”
“Iya, sangat cantik.”
Tampak ada raut sedih di wajah Nenek.
“Ada apa Nek?”
“Nenek sangat menyesal, Nenek merasa sangat bersalah hingga saat ini.”
Cairan bening mengalir begitu saja di pipi wanita yang sudah berusia tidak muda lagi itu.
“Kenapa Nek, kenapa menangis?” tanya Nisa mengusap cairan bening tersebut di kedua pipi Neneknya.
“Kamu harus tahu ini nak, setelah ini terserah kamu mau membenci Nenek.”
Flashback on.
Saat Nisa berusia 11 tahun, orangtuanya pergi ke berkunjung ke rumah Neneknya dengan menggunakan transportasi umum.
Karena pernikahan mereka tidak di restui oleh Ayahnya, mereka memutuskan untuk kawin lari.
Hampir 12 tahun usia pernikahan mereka, kedua orang tua Nisa memberanikan diri untuk datang ke rumah orang tuanya, ingin bermaksud untuk bersilahturahmi dan juga mendengar kabar jika Ayahnya sudah meninggal.
Kedatangan mereka di sabut baik oleh ibunya, karena sang Ayah sudah lebih dulu pulang menghadap sang pencipta.
Namun, mereka belum menceritakan kepada ibunya jika dirinya sudah mempunyai putri yang sudah berusia 11 tahun. Karena ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun ibunya nanti pikirnya.
Setelah pulang dari rumah orang tuanya, bus yang mereka tumpangi mengalami rem blong dan kecelakaan luar biasa. Menewaskan semua penumpang beserta sopirnya tak terkecuali orang tua Nisa sendiri.
Flashback off
“Nenek sangat menyesal, kenapa waktu itu Nenek tidak memaksanya untuk memakai mobil pribadi saja. Hiks, hiks.”
“Ini sudah takdir Nek. Nenek jangan sedih lagi, ada Nisa yang selalu bersama Nenek.”
Nisa memeluk Neneknya erat.
__ADS_1
“Maafkan Nenek. Membuatmu harus kehilangan orang tuamu sejak dini.”
“Jangan meminta maaf lagi Nek. Nisa tidak membenci Nenek sama sekali.”
“Benarkah?” tanya Nenek melepaskan pelukannya menatap Cucunya.
Nisa mengangguk tersenyum, lalu mengusap air mata neneknya tersebut.
Drrttt ... drrtt. Suara getar ponsel milik Nisa.
“Sebentar Nek, ada yang menghubungiku.”
Nenek Dira mengangguk.
Nisa mengerutkan keningnya, melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Ada apa lagi sih? Dia menghubungiku! Bukan kah dia Sudah membawa anakku!” kesal Nisa.
Walaupun dengan wajah kesal, Nisa tetap mengangkat panggilan dari Erwin tersebut.
“Halo, ada apa?” ketus Nisa.
“Nisa, Nisa tolong. Aku ada di rumah sakit, Reyhan terjatuh,” ucap Erwin dengan suara yang begitu khawatir.
Nisa mendengar jeritan Reyhan menangis memanggil Mamanya.
“Reyhan. Ada apa dengan anakku, hah?!” bentak Nisa.
“Berhenti bertanya, sekarang cepat kemari. Aku ada di rumah sakit xx.”
Tut,Tut,Tut. Panggilan langsung di tutup oleh Erwin.
“Sialan!” umpat Nisa dalam hati.
“Ada apa? Wajahmu terlihat begitu kesal.”
“Nek, kita ke rumah sakit sekarang. Reyhan kecelakaan.”
Nenek mengangguk, lalu mereka bergegas meninggalkan kamar tersebut.
.
.
.
__ADS_1