
Di perkiraan, paman bernapas lega. Ia sudah bertemu dan meminta maaf kepada Nisa, yang selama ini ia berusaha mencari keberadaan Nisa.
“Alhamdullilah, ini cukup untuk membayar kontrakan ku yang beberapa bulan menunggak,” lirih paman.
“Nisa, hatimu itu sungguh mulia. Sangat beruntung orang yang memilikimu saat ini.”
“Apa bocah di samping Erwin itu anaknya Bara? Wajahnya sangat mirip dengan Bara waktu kecil, hampir tidak ada celah,” batin paman bertanya-tanya.
“Tapi, walaupun dia anak Bara! Dia sudah di rawat di tangan orang yang tepat. Bara maafkan Paman,” ucapnya dalam hati, lalu menghela napas berat.
Ia kembali menyimpan uang tersebut dengan hati-hati dan berlalu pergi meninggalkan mall tersebut untuk kembali bekerja.
***
Di pusat perbelanjaan, Nisa tampak sedang sibuk memilih pakaian yang cocok untuk bayi kembarnya.
Walaupun belum mengetahui jenis kelaminnya, Nisa tampak antusias memilih pakaian yang natural bisa di pakai oleh laki-laki dan perempuan.
“Sayang, ini cocok buat anak kita nanti, sangat lucu.”
Erwin memperlihatkan pakaian yang senada berwarna coklat tersebut.
“Mm... ini tidak buruk,” ujar Nisa ia juga menyukai pilihan suaminya tersebut.
Setelah puas berbelanja, Erwin meminta sopirnya untuk membawa barang belanjaannya. Karena sebelumnya, Erwin meminta sopirnya membawa satu mobil lagi.
Setelah itu, mereka lanjut membawa Reyhan untuk bermain. Nisa hanya duduk di kursi melihat putra dan suaminya bermain.
Ia duduk santai di temani beberapa camilan di meja.
Sore hari, mereka baru keluar dari pusat perbelanjaan. Saat masuk ke dalam mobil, Erwin menurunkan sedikit kursi mobilnya, agar istrinya bisa merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
“Cape sayang?” tanya Erwin melihat wajah istrinya tampak kelelahan.
“Sedikit,” sahutnya.
“Maaf ya,” ujar Erwin mengambil tangan istrinya dan menciumnya sekilas.
“Tidak apa-apa, tapi aku bahagia.”
Nisa tersenyum simpul memperlihatkan bibir ranumnya.
Erwin mengendarai mobil dengan pelan, mereka rencana menginap di rumah Mami. Karena beberapa minggu sudah menginap di rumah nenek Dira.
Tiba di rumah kebesaran Erwin, sambil menggendong Reyhan yang tertidur. Erwin menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Tampak Mami menunggu di depan pintu, maminya langsung mengambil alih Reyhan dari gendongan Erwin dan membawanya ke kamarnya.
“Istirahat lah sayang,” ujar Erwin.
Mereka menaiki tangga dengan pelan, tentunya tak luput dari pantauan sang Mami.
Sampai di kamar, Nisa langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk dengan napas yang naik turun.
“Hubby mau kemana?” tanya Nisa melihat Erwin mengambil bajunya di lemari.
“Tidak pergi. Aku hanya ingin mengganti pakaianku saja! Ganti juga pakaianmu sayang,” ujar Erwin memberikan pakaian untuk istrinya.
Erwin merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan memeluknya dari belakang.
“Sayang, apa kau sudah tidur?” tanya Erwin.
“Belum,” sahut Nisa perlahan membalikkan badannya menjadi telentang.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Nisa melirik suaminya.
“Apa perutnya masih sakit?” tanya Erwin cemas melihat Nisa menutup matanya menahan sakit.
“Tidak sakit. Hanya terasa kencang saja.”
“Apa dulu waktu mengandung Reyhan, seperti ini juga?”
“Iya. Tapi, tidak separah ini. Mungkin karena ada dua di dalam perutku,” ujar Nisa.
“Maafkan aku sayang. Aku sudah membuatmu kesakitan begini,” ujar Erwin merasa bersalah.
“Hubby bicara apa sih! Ini sungguh nikmat kok, beginilah rasanya saat Mami mengandung Hubby dulu.”
“Iya sayang!” lirih Erwin.
“Sayang. Jika suatu saat nanti aku tiada, kamu harus merawat mereka bertiga, sayang. Jangan pilih kasih ya,” ujar Nisa masih dengan mata tertutup.
“Kau ini bicara apa sih? Kita akan merawat anak kita bersama,” ucap Erwin mencium perut istrinya lalu pipi istrinya secara bergantian.
“Entahlah, aku merasakan kematianku semakin dekat!”
“Ck... sayang, jangan bicara kematian.”
Erwin menutup mulut istrinya dengan tangannya.
“Tidak boleh bicara seperti itu lagi, oke! Aku tidak ingin mendengarnya, sekarang istirahatlah. Kau terlalu cape, sehingga bicara aneh seperti ini!”
.
.
__ADS_1
.