Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 39


__ADS_3

“Hm, aku baik-baik saja,” ucap nya namun masih memejam kan matanya.


“Tunggu disini aku akan mengambil kan mu air minum.”


Ketika hendak beranjak, Bara menarik tangan nya hingga terjatuh ke atas tubuh nya dan memeluk nya erat.


“Lepas kan Bara!” seru Nisa mencoba melepaskan dirinya.


“Diam lah, kau sejak tadi banyak gerak. Jangan salah kan aku jika sesuatu bangun.”


Seketika Nisa langsung terdiam di dalam pelukan suami nya.


“Nah begini kan enak, aku hanya ingin memeluk mu seperti ini,” ucap Bara tersenyum. Walaupun kepala nya terasa sangat sakit, ia coba menyembunyikan nya.


“Sudah, kamu sudah memeluk ku kan,” ucap Nisa masih dalam pelukan suami nya.


Bara perlahan melonggarkan pelukan nya.


“Apa kepala mu masih pusing,” tanya Nisa melihat suami nya masih memejam kan matanya.


“Sedikit,” sahut nya. Perlahan membuka matanya, lalu tersenyum kepada istri nya.


“Apa kita ke dokter saja?” usul Nisa.


“Aku baik-baik saja, ini hanya pusing biasa nanti juga akan sembuh.


Nisa beranjak dari tempat nya, menuju ke dapur untuk mengambil kan air minum.


“Ini obat penurun demam, minum lah dulu.”


Bara mengambil gelas dari tangan istrinya, dan segera meminum obat yang di berikan istri nya.


“Makasih sayang,” ucap Bara.


“Sayang, dia memanggil ku sayang,” batin Nisa.


“Kenapa bengong?” tanya Bara melihat Nisa melamun.


“Hah, tidak! Istirahat lah,” ucap Nisa mengambil gelas kosong di tangan Bara.


“Apa kamu akan pergi?”


Pertanyaan Bara membuat Nisa terdiam.


“Hm, tidak! Aku akan pulang besok pagi.”


Bara tampak terdiam, mendengar ucapan Nisa. Ada raut kecewa di wajah nya.


“Apa kamu masih marah?”


Nisa menggeleng kepala nya.


“Nisa, aku memang pria tidak baik! Tapi, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri ku dan hubungan kita. Kita mulai dari awal lagi ya.”


Mengambil tangan Nisa, menatap nya dengan penuh harapan.


“Istirahat lah,” ucap Nisa.


“Tapi Nis, kau belum menjawab pertanyaan ku?”

__ADS_1


“Apakah kamu mau memberi aku kesempatan lagi?”


Nisa membuang napas, Nisa tampak bingung dengan pertanyaan Bara.


“Beri aku waktu,” sahut nya.


“Sekarang kamu istirahat lah.”


Bara mengangguk pasrah.


Bara perlahan berdiri di bantu oleh Nisa menuju ke kamar nya.


“Terima kasih ya Nis,” ucap Bara ketika sudah berada di tempat tidur.


“Iya, tidur lah. Agar demam mu cepat turun,” perintah nya.


Bara mengangguk patuh.


“Kau juga istirahat.”


Nisa mengangguk, lalu melangkah keluar. Namun, terhenti di ambang pintu ketika Bara memanggil nya.


“Nisa,” panggil Bara.


“Iya, apa kamu butuh sesuatu?” tanya Nisa berbalik badan.


“Waktu itu aku ada membeli kan baju untuk mu. Namun, aku lupa memberikan nya. Pakai lah, ganti baju mu. Kau tidak ada baju ganti, bukan?” Ucap Bara menunjuk Paper bag di atas meja.


Nisa tersenyum, lalu berjalan untuk mengambil paper yang di tunjuk oleh Bara.


“Terima kasih,” ucap Nisa.


“Iya, aku akan ke kamar ku,” pamit Nisa.


Bara mengangguk, Nisa keluar kamar dan menutup pintu nya.


Keesokan pagi nya, Nisa terlambat bangun. Akibat terlalu malam tidur, Karena memikirkan ucapan Bara semalam.


“Astaga sudah jam delapan! huft, aku terlambat pergi bekerja. Entah apa yang mereka pikir, karyawan baru sudah berani bolos,” gumam Nisa masih duduk di tempat tidur.


Ia bergegas ke kamar mandi, tak butuh waktu lama untuk mandi, ia keluar dengan memakai pakaian yang di berikan bara untuk nya semalam.


“Tidak terlalu buruk, pas di tubuh ku,” gumam nya melihat dirinya di cermin.


Tok, tok, tok. Terdengar ketukan di pintu kamar nya, Nisa berjalan membuka pintu nya.


Bara mematung melihat Nisa yang begitu cantik pagi ini, di tambah pakaian yang ia belikan sangat cocok di tubuh Nisa.


“Bara, kenapa melamun? Aku memanggil mu dari tadi,” ujar Nisa menggoyang kan tangan Bara.


“Oh, maaf. Aku sudah membuat sarapan, ayo turun sarapan,” ajak nya.


“Kamu memasak? Apa demam mu sudah turun?” tanya Nisa meletakkan tangan di dahi Bara.


Bara tersenyum bahagia, perhatian kecil Nisa membuat dirinya merasa di cintai.


“Aku sudah baik-baik saja,” sahut Bara.


“Kau mau kemana sudah rapi sepagi ini?” tanya Bara melihat Nisa sudah memakai tas kecil nya.

__ADS_1


“Aku akan pulang.”


Nisa mendahului Bara berjalan, tanpa ia tahu Bara mematung mendengar ucapan nya.


Deg, mendengar perkataan Nisa. Ada raut kecewa di wajah nya, Nisa benar-benar tidak memberi nya kesempatan.


“Aku bukan pria baik, aku memang tidak pantas di beri kesempatan. Aku sungguh menyesal dengan perbuatan ku kepada nya, hari ini aku benar-benar kehilangan nya,” batin Bara penuh penyesalan.


“Bara,” panggil Nisa melihat Bara terdiam mematung.


“Aku akan menerima semua keputusan nya apa pun itu,” batin nya lagi.


Ia berjalan menuruni tangga, menuju dapur.


“Sarapan lah dulu sebelum pulang,” ucap Bara tanpa melihat Nisa.


Bara berusaha menyembunyikan sedih nya.


“Aku akan mengantar mu,” tambah nya lagi ikut duduk di samping istrinya.


“Tidak usah, kamu istirahat saja. Aku sudah memesan ojek Online,” tolak Nisa.


“Bahkan ia tidak mau aku mengantar nya untuk terakhir kali, apa dia benar-benar membenci ku,” Batin nya.


Bara hanya mengaduk sarapan nya, tanpa berniat memakan nya.


“Kamu kenapa?”


Bara hanya menggelengkan kepala nya.


Terdengar dering ponsel Nisa berbunyi, seseorang menghubungi dirinya.


“Halo,” ucap Nisa meletakkan benda pipih tersebut di daun telinga nya.


“Baik pak, saya akan segera keluar. Tunggu sebentar,” sahut Nisa.


Nisa kembali memasukkan ponsel ke dalam tas kecil nya.


“Siapa?”


“Ojek Online sudah di depan, aku pamit pulang dulu.”


Nisa mengambil tangan Bara, lalu mencium tangan suaminya untuk pertama kali nya.


“Aku pamit, kamu hati-hati di rumah.”


Bara tersenyum paksa.


“Apa aku boleh memeluk mu?” ujar Bara.


Nisa tersenyum lalu mengangguk.


Bara berdiri, lalu memeluk Nisa dengan erat dan juga mencium pucuk kepala Nisa berulang kali, membuat Nisa heran.


“Hati-hati di jalan, jaga diri mu baik-baik, jaga kesehatan nya,” tutur Bara masih memeluk istrinya.


Nisa mengerutkan kening nya heran dengan sikap Bara, yang tiba-tiba berkata seperti itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2