
“Keluar...!!” teriak Bara.
Nisa mulai melangkah keluar sedikit ketakutan. namun, berusaha menutupi nya.
Ketika hendak membuka pintu, tanpa sengaja ia menginjak pecahan Vas bunga. Ia sedikit meringis, melihat darah keluar dari telapak kaki nya.
Ia berusaha mencabut pecahan beling di kaki nya.
Bara hanya melirik sekilas Nisa yang kesakitan, tanpa berniat ingin membantu nya.
Dengan jalan perlahan, Nisa tiba di kamar nya. Ia duduk di tepi kasur, menangis tanpa suara.
“Ma, aku lelah,” lirih nya. Menatap pigura kecil di meja samping kasur nya.
Nisa membaringkan tubuh nya, tanpa niat membersihkan luka nya. Luka nya di biarkan begitu saja, darah nya mengalir membasahi alas kasur.
Ia perlahan memejam kan matanya, hingga ia tertidur. Dalam tidur nya, ia merasakan ada yang memegang kaki nya. Namun, ia tak dapat membuka matanya.
Nisa tertidur dengan air mata yang masih belum kering, masih terlihat basah di pipinya.
***
Di kamar, Bara duduk di sofa sambil mengisap rokok dan segelas minuman beralkohol di meja.
“Brengsek kau Miranda?” umpat nya.
__ADS_1
“Bahkan aku tak punya apa-apa lagi sekarang! Tidak akan ku biarkan kau hidup tenang!” umpat nya lagi.
Membuang puntung rokok ke sembarang arah, lalu meneguk minuman yang terletak di meja dan meletakkan kembali.
Bara menyenderkan tubuh nya di sofa, sambil mengingat kebersamaan nya dengan Miranda.
Flashback on.
Bara mengemudi mobil dengan kecepatan sedang, hari ini adalah hari pernikahan nya. Setelah ijab kabul, ia pergi tanpa sepengetahuan orang rumah.
Akibat tidak fokus mengemudi, ia menyenggol spion mobil pengendara lain.
Brak..., “Astaga...,” umpat nya. Ia menepikan mobil nya.
“Hei...! yang bener kalau menyetir.” teriak seorang wanita. Bara keluar mobil, bermaksud ingin memeriksa nya.
“Maaf...,” lirih Bara.
Bara menatap wanita tersebut, sangat terpesona melihat kecantikan nya.
“Hei..., kenapa kau menatap ku seperti itu?” bentak wanita tersebut.
Bara tersadar, lalu mengulurkan tangan nya. Sejenak wanita tersebut melihat tangannya Bara lalu beralih ke wajah nya.
“Tampan juga,” batin nya.
__ADS_1
Ia menyambut tangan Bara untuk bersalaman.
“Bara.”
“Miranda,” sahut nya.
“Ini kartu nama ku beserta nomor teleponnya, aku akan mentransfer untuk kerusakan mobil mu,” ucap nya sambil memberikan kartu tersebut.
“Oke...,” sahut Miranda sambil tersenyum.
“Sepertinya orang kaya, tampan lagi,” gumam Miranda tersenyum.
Setelah pertemuan itu, mereka menjadi lebih dekat. Bahkan mereka sudah menjadi pasangan kekasih setelah beberapa kali bertemu. Apalagi, Bara adalah pria yang pandai menggoda wanita. Entah berapa banyak wanita yang ia goda sekedar pemuas hasrat nya, dan ia pun tak segan memberikan uang yang cukup fantastis.
“Sayang, kapan kamu menikahi ku?” tanya Miranda dengan wajah cemberut.
“Sabar ya, aku akan menikahi setelah perempuan itu keluar dari rumah dan aku akan menceraikan nya.” Miranda tersenyum puas, lalu memeluk Bara. Bercinta hal yang biasa bagi mereka, walaupun tanpa ikatan.
Flashback off
“brengsek...!” teriak Bara melempar gelas, hingga hancur berkeping keping.
Hari ini dia benar-benar hancur, semua aset nya sudah di ambil alih oleh Miranda tanpa sepengetahuan nya.
Sudah berapa gelas ia meneguk minuman, Ia berhenti ketika kepala nya mulai pusing, hingga dirinya tertidur di sofa.
__ADS_1
“Wanita licik...!” gumam nya. Dalam mata yang sudah tertutup, Bara masih gerutu tidak jelas.
Bersambung...