Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 89


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Dion langsung menggendong istrinya dengan langkah cepat menyusuri koridor rumah sakit.


“Suster ... tolong anak saya,” ucap Ayah Shamila setengah berteriak.


Dion membawa masuk istrinya ke dalam ruangan IGD.


“Mohon tunggu di luar Pak, biarkan kami melakukan tugas kami,” ucap salah satu perawat.


Dion menatap wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut, bahkan pakaian yang mereka kenakan untuk acara ijab kabul nya masih melekat di tubuh mereka.


Dengan napas yang turun naik, Dion mengangguk. Lalu melangkah keluar.


“Bagaimana ... apa kata Dokter?” tanya kedua orangtua Shamila secara bersamaan, sangat jelas dari raut wajah orangtua nya begitu sangat khawatir.


“Mereka masih memeriksanya, saya di suruh untuk menunggu di luar.”


“Pah, bagaimana anak kita? Hiks ... hiks ... aku tidak sanggup melihatnya menderita begini,” ucap Nyonya Sharma dengan bahasa India di dalam pelukan suaminya.


“Kita berdoa, pasti anak kita akan baik-baik saja,” sahut suaminya.


Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tidak mengerti apa yang mertuanya bicarakan.


Terlihat Erwin yang baru saja tiba, tengah berlari kecil menghampiri mereka.


“Bagaimana keadaan Shamila Tuan?”


“Masih di periksa oleh Dokter,” sahut Mr Anil.


Erwin mengangguk, lalu menghampiri Dion yang duduk di kursi dengan tatapan kosong menatap ke arah pintu.


“Aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” ucap Erwin mengusap bahu Dion. Membuat sang pemilik bahu menoleh.


“Kau disini? Sejak kapan kau datang?”


“Baru saja. Apa yang kau pikirkan? Sehingga tak melihat kedatanganku.”


“Hm ... tidak ada.”


“Aku tahu arah pikiranmu saat ini. Aku yakin, Nadia akan mengerti jika ia mengetahui yang sebenarnya nanti.”


Dion menghela napas.


“Huft ... sudahlah. Aku tidak ingin membahas masalah ini disini,” ucap Dion dengan wajah lesu.

__ADS_1


“Iya, maaf.”


Terlihat perawat membuka pintu tersebut.


“Maaf. Apa disini Ada orangtua dan suami pasien?”


“Saya suaminya sus,” sahut Dion berdiri.


“Silahkan masuk. Pasien ingin bertemu dengan kalian,” ucap perawat ramah.


Dion dan mertuanya masuk ke ruangan ICU karena sudah di pindahkan sebelumnya dari ruangan IGD.


“Sayang,” panggil Ibunya.


Ia tak kuasa menahan tangisnya, melihat anaknya terbaring lemah dengan terpasang beberapa alat di tubuhnya.


“Ma, aku baik-baik saja. Di-ma-na sua-miku?” tanya Shamila dengan suara berbata-bata.


Dion menampakkan tubuhnya, karena sebelumnya ia ada di belakang ayah mertuanya. Dion sangat prihatin, melihat kepala istrinya sudah tak mempunyai rambut, selama ini ia menutupnya dengan memakai hijab. Pakaiannya pun sudah diganti dengan pakaian rumah sakit, karena sebelumnya istrinya masih memakai kebaya putih.


“Aku disini,” sahut Dion.


“Suamiku, ma—af ji-ka a-ku be-lum men-jadi is-tri yang sempurna,” ucap Shamila terbata dengan napas yang naik turun menahan sakitnya.


Shamila tersenyum, semakin menggenggam erat tangan suaminya.


“Aku su-dah tidak kuat lagi. Terimakasih su-dah te-lah mau meni-kah denganku dan aku su-dah mera-sakan men-jadi seo-rang istri, walaupun hanya sesaat,” ucap Shamila lagi.


“Jangan bicara seperti itu, yakin kamu pasti akan sembuh.”


Dion mengelus lembut pipi halus sang istri.


“Apa a-ku bo-leh me-minta se-suatu?” Shamila sudah mulai kesulitan untuk berbicara.


“Katakan, apa yang kamu inginkan? Aku akan mengabulkannya.”


“Ja-ga di-ri kamu ba-ik-ba-ik,” ucap Shamila sembari tersenyum.


“Aku tidak bisa, jika tidak ada kamu,” sahut Dion.


Ia mendekatkan wajahnya, lalu ...


Cup, kecupan tersebut mendarat di kening istrinya dan kedua pipinya.

__ADS_1


Dion tanpa ragu mencium istrinya, di depan mertuanya.


Shamila tersenyum, sambil meneteskan air matanya.


Dion panik, melihat Shamila yang semakin kesulitan bernapas, Dion hendak melepaskan genggamannya agar membiarkan Dokter lebih leluasa memeriksanya. Namun, Shamila menahannya agar Dion tetap disisinya.


Shamila semakin kesulitan bernapas, matanya perlahan mulai tertutup sempurna dan napasnya pun perlahan menghilang.


Melihat istrinya, Dion panik begitupun dengan ibu mertuanya. Ayahnya tak bergeming menyaksikan detik-detik terakhir anaknya, ia sudah pasrah.


“Shamila, bangun mil. Aku tahu kamu pasti kuat, bangun mil...!” teriak Dion sambil menggoyangkan bahu istrinya.


“Dokter, kenapa kau diam saja? Istriku tidak bergerak!” teriak Dion kepada Dokter tersebut.


Dokter tersebut menghela napas berat, lalu menggelengkan kepalanya.


“Maafkan saya. Saya sudah berusaha semampu saya.”


“Apa maksudmu Dokter?” Dion menatap Dokter tersebut dengan mata yang memerah.


“Nak Dion. Ikhlaskan istrimu, dia sudah tenang dan tidak merasakan sakitnya lagi.”


“Apa maksudnya Tuan?”


“Istrimu sudah pergi untuk selamanya,” sahut Ayah mertuanya dengan raut wajah yang sedih.


Dion langsung shock mendengarnya, ia lemas terduduk di lantai.


Begitupun dengan ibunya, ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan suaminya.


“Ikhlaskan anak kita sayang,” ucapnya sambil mengelus rambut halus istrinya.


Erwin yang masih di luar, mendengar jelas tangisan ibunya Shamila.


“Astaga Shamila. Kenapa begitu cepat kau pergi?” gumam Erwin.


Tak dapat dipungkiri, ia pun merasa sedih dan tidak menyangka jika Shamila sudah pergi untuk selamanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2