Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 122


__ADS_3

Sebelum kedatangan Nisa, nenek sudah merencanakan sesuatu di kamar bersama orang tadi sore ia hubungi.


“Kau mengertikan apa yang aku bicarakan?!”


“Iya saya mengerti Nyonya.” Dialah Amita, mantan asistennya dulu. Namun, hubungan Nenek Dira dengannya terjalin dengan baik hingga sekarang.


“Tapi, saya bukan Dokter. Saya tidak mengerti apapun, tentang medis.”


“Kau ini banyak bicara! Kau tinggal ikuti apa yang aku perintahkan,” kesal Nenek.


“Dan ingat!! Ini rahasia kita, aku tahu kau tidak bisa berbohong. Tapi... kali ini aku memintamu untuk berbohong, semua demi kebaikan cucuku. Kau mengerti?!”


Amita mengangguk pasrah.


Terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti.


“Nah itu pasti mereka,” ucap Nenek.


Ia mulai berbaring di kasur empuknya, menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut tebal.


“Apa lagi yang kau tunggu? cepat pakai jas itu,” perintah Nenek menunjuk jas dokter yang ada di sofa.


“Niat banget Nyonya untuk membohongi cucunya, hingga jas putih pun di sediakan!” gumam nya dalam hati.


“Cepat letakkan kain basah di kepalaku,” perintahnya lagi.


Amita mengangguk menuruti semua apa yang nenek perintahkan.


Cukup lama mereka menunggu di kamar. Namun, Nisa tak kunjung masuk ke dalam kamar Neneknya.


“Lama sekali!” gerutu Nenek.


“Coba kamu lihat dari pintu, kemana Nisa?”


Lagi-lagi Amita mengangguk, ia melangkah ke depan pintu tersebut. Kemudian kembali dengan langkah besar menghampiri Nenek Dira.


“Ada apa?”


“Nona Nisa kemari, cepat kembali ke posisinya Nyonya,” perintah Amita.


Nenek Dira kembali merebahkan tubuhnya dan berakting sebaik mungkin.


Amita memeriksa perut nenek Dira dengan menggunakan stetoskop, lalu memeriksa denyut nadi yang ada di pergelangan tangan nenek Dira.


“Kenapa dengan Nenekku? Kau siapa?” tanya Nisa cukup cemas melihat nenek yang terbaring lemah.


“Aku Do-dokter,” ucapnya gugup.


“Iya ada apa dengan Nenekku?” tanya Nisa lagi ia duduk di samping neneknya, lalu memeriksa suhu tubuh neneknya dengan telapak tangannya.


“Dingin,” gumamnya.


“Suhu tubuh Nyonya sudah turun Nona, Karena sudah minum obat yang saya berikan. Tadi sore suhunya sangat panas, Bahkan saya berulang kali mengompresnya.”

__ADS_1


“Apa yang terjadi dengan Nenekku. Sore tadi ia baik-baik saja, masih bisa berjalan.”


“Gula darahnya terlalu tinggi dan tekanan darahnya pun juga tinggi. Coba Nona lihat, saya baru saja memeriksanya dan ini hasilnya.”


Amita menyerahkan hasilnya agar Nisa mempercayainya.


“Kita ke rumah sakit sekarang. Dimana Toni?” Nisa mulai cemas.


“Jangan Nona.”


“Kenapa? Bukankah dokter bilang, jika gula darah nenek tinggi! Oh ya... aku baru melihatmu, apa kau dokter yang biasa menangani nenek?”


“Maksud saya, Nyonya Jangan dibawa sekarang. Biarkan dia beristirahat dan saya sudah lama menjadi dokter Nyonya. Kebetulan saya baru kembali beberapa hari yang lalu dari luar kota karena bertugas disana,” ucapnya tanpa ragu.


Karena nenek Dira meliriknya dengan tajam, agar dia tidak keceplosan berbicara.


“Apakah berbahaya jika nenek tetap di rumah?”


“Tidak Nyonya. Saya sudah memberinya obat, kita lihat besok. Jika bertambah parah, kita harus membawanya ke rumah sakit.”


“Saran saya Nyonya jangan terlalu stres dan banyak pikiran. Mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi, tapi anda harus memberikan kesenangan, agar mengurangi stresnya.”


“Erwin...” gumam nenek tidak jelas keluar dari mulutnya dengan mata yang masih terpejam.


Nisa heran, kenapa Nenek menyebutkan nama Erwin disaat matanya yang masih terpejam.


Nenek perlahan membuka matanya, posisinya saat ini membelakangi Nisa dan menghadap Amita.


“Ada apa Nyonya? Apa butuh sesuatu?” tanya Amita lembut.


Amita mengangguk, lalu mengambil air putih dan menuangkannya ke dalam gelas.


“Aku ingin curhat kepadamu, tapi kamu harus janji jangan memberitahu cucuku?”


“Curhat?” tanya Nisa dalam hati, ia mengernyit kening heran.


Amita terdiam sejenak, ia melihat Nisa yang ada di belakangnya. Nisa meletekkan telunjuk di bibirnya, tanda agar Amita tidak memberitahukan jika ia di belakang nenek.


“Silahkan Nyonya. Jika itu membuat anda lebih baik, silahkan keluarkan apa yang mengganjal di hati anda.”


“Sebenarnya aku baru saja bermimpi meninggal. Tapi sebelum ini terjadi, aku ingin sekali melihat cucuku menikah dengan Erwin. Semua orang pasti akan mati, tapi aku merasakan jika kematian ku ini sebentar lagi. Tapi... Nisa itu keras kepala, bahkan dia tidak mau memberikan permintaan terakhirku. Hu-hu-hu...” ucap nenek bersandiwara dengan menangis.


“Saat ini aku ingin meninggal secepatnya, tidak ada yang peduli dengan diriku di rumah ini. Bahkan permintaan kecilku ini tidak mampu ia berikan. Dokter Amita, coba kau suntik mati saja aku! Aku tidak ingin hidup lagi,” tambahnya lagi.


“Nyonya, jangan bicara seperti itu. Kita akan cari solusinya. Ucapan adalah doa,” ucap Amita tanpa sadar.


Nenek yang mendengarnya langsung melototkan matanya ke arah Amita.


“Astaga, sepetinya aku salah bicara,” ucap Amita dalam hati.


“Nyonya, istirahat lah. Anda saat ini sangat lemah, aku akan membantu dan mencoba membujuknya Nisa. Tapi, jangan berharap penuh ini akan berhasil.”


Nenek Dira mengangguk, Amita mengambil air putih lagi yang ia letakkan sebelumnya di nakas lalu menyerahkan kepada nenek.

__ADS_1


Nenek Dita meminumnya setengah, lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Amita.


“Dokter Amita. Kau mau membantuku kan? Tolong bujuk dia,” ucap nenek.


“Saya usahakan.”


Nisa terdiam mendengar ucapan neneknya.


Setelah mengatakan itu semua, nenek berakting kembali berpura-pura tidur dan kembali seakan dirinya mengigau memanggil nama Nisa dan Erwin. Setelah beberapa menit, terdengar kembali dengkuran kecil dari mulut nenek.


“Sepertinya, Nyonya tidur beneran,” ucap Amita dalam hati.


"Nona, apa kita bisa bicara di luar. Berbicara disini akan mengganggunya beristirahat."


“Iya, kita ke kamar ku,” ajak Nisa.


Amita mengikuti langkah Nisa, menuju kamarnya. Nisa mengajak Dokter samaran nenek Dira tersebut ke balkon.


“Silahkan duduk.”


“Terima kasih Nona.”


“Mungkin, Nona sudah mendengar apa yang di bicarakan Nyonya Dira tadi. Saya bukan bagian dari keluarga kalian, tapi... saya sebagai dokternya Nyonya, menyarankan agar Nyonya jangan terlalu stres.”


“Melihat dari cara bicara Nyonya tadi, sepertinya dia sedang mengalami stres berat,” tambah Amita dengan bicara hati-hati, karena sebelumnya nenek Dira mengancamnya.


“Aku akan bicarakan ini besok pagi, ketika Nenek sudah bangun. Apa aku boleh bertanya padamu?”


“Boleh nona.”


“Apa kau sudah menikah?”


“Sudah nona. Saya sudah menikah sebanyak tiga kali,” sahutnya.


“Hah...? tiga kali?”


Amita mengangguk.


“Suami saya yang pertama kdrt dan sekarang sedang di penjara karena kasus penyalahgunaan obat-obatan. Kedua meninggal dunia dan yang sekarang saya membuka hati lagi untuk menikah untuk yang ketiga kalinya.”


Nisa menyenderkan bahunya, menghela napas berat.


“Aku takut untuk menikah kembali. Tapi... disisi lain aku juga memikirkan Nenek dan putraku yang begitu dekat dengan Erwin,” gumam Nisa. Namun terdengar oleh Amita.


“Yakinkan hatimu Nona dan berserah kepada-Nya untuk meminta petunjuk.”


“Iya, mungkin kau benar.”


“Oh ya... terima kasih sudah menjaga Nenekku, saat kepergianku tadi.”


“Ini sudah tugas saya nona.”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2