Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 74


__ADS_3

Enam bulan sudah berlalu, Polisi sudah menetapkan Reyhan sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana. Perusahaan paman Ridwan bangkrut, tidak ada yang tersisa semua akibat keserakahan mereka. Hampir setiap hari Paman menghubungi Bara, meminta belas kasihan agar anaknya Reyhan bisa dibebaskan. Namun, Bara tidak peduli lagi, ia malah memblokir semua nomor Pamannya dan keluarganya.


Waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi, Bara masih fokus dengan layar monitornya.


Pak Zaky langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Selamat pagi Pak Bara,” sapa Pak Zaky.


Bara langsung menoleh kearah suara dengan sedikit terkejut, pasalnya ia tidak mendengar suara orang mengetuk pintu ruangan.


“Selamat pagi, Pak Zaky. Ada yang bisa saya bantu Pak?” sahut Bara ramah.


“Jadi begini,” ucap Pak Zaky menggantungkan ucapannya, lalu menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Bara, hanya meja yang menghalangi mereka.


“Bagaimana keadaan istri anda?”


“Alhamdullilah sudah membaik Pak, sekarang sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat,” sahut Bara.


“Alhamdullilah. Kita ada masalah perusahaan di luar kota, saya berniat akan mengirim anda ke luar kota untuk beberapa hari saja. Apakah Pak Bara tidak keberatan? Soalnya ini sangat urgent sekali. Saya tidak bisa pergi karena ada klien penting yang akan berkunjung ke perusahaan kita disini, seminggu lagi. Saya berharap anda mau,” ucap Pak Zaky dengan wajah penuh harap.


Bara terdiam sejenak.


“Kapan berangkat Pak?” tanya Bara karena ia belum meminta ijin kepada istrinya.


“Seminggu lagi, karena anda harus melakukan Medical Check Up terlebih dahulu, untuk memastikan kesehatan anda sebelum berangkat,” sahut Pak Zaky.


“Baik Pak, saya bersedia. Tapi sebelum itu, saya harus meminta ijin kepada istri saya terlebih dahulu.”


“Baik Pak Bara. Sekali lagi, Terimakasih sudah mau bekerja sama.”


“Iya Pak, sama-sama,” sahut Bara ramah.


Setelah itu, Pak Zaky berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Bara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, karena sudah memasuki istirahat makan siang. Bara bergegas menyiapkan tas miliknya, siang ini ia bekerja hanya separuh waktu, karena berjanji untuk mengantar istrinya kontrol.


Di perjalanan pulang, Bara merasakan ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia menepikan mobilnya terlebih dahulu, sebelum mengangkat teleponnya.


“Pak Zaky?” gumam Bara.


Dengan segera ia menggeser tombol hijau yang tertera di layar.

__ADS_1


“Halo Pak Zaky.”


Terdengar suara Pak Zaky dibalik ponsel tersebut.


“Pak Andi sudah mengirim surat keterangan Medical Check Up ke email anda. Setelah meminta izin kepada istri anda, Pak Bara boleh langsung melakukan Medical Check Up di rumah sakit xx. Maaf Pak Bara saya merepotkan anda,” Ucap Pak Zaky dibalik telepon tersebut.


“Iya Pak. Saya usahakan,” sahut Bara.


“Baik Terimakasih. Saya tutup dulu teleponnya.”


“Iya Pak,” sahut Bara lagi.


Setelah mengakhiri percakapan mereka di telepon, Bara melanjutkan lagi perjalanan pulangnya yang sempat tertunda.


Selang beberapa menit, Bara kini tiba di halaman rumahnya. Karena cuaca siang ini matahari sangat terik, membuat kepala Bara terasa sedikit pusing. Ia berjalan pelan memasuki rumahnya sambil memijit pelipis kepalanya agar mengurangi rasa pusing kepalanya.


Akibat kurang fokus melangkah, Bara kehilangan keseimbangan ia tidak sengaja menabrak meja hingga dirinya tersungkur di atas meja Kaca tersebut. Karena meja kecil tidak dapat menahan beban tubuh Bara, membuat meja tersebut ikut terjatuh hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.


Prang!!!


Suara benda yang pecah begitu nyaring, suaranya terdengar hingga ke kamar. Nisa yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya, langsung keluar kamarnya. Sejak tiga bulan terakhir, Nisa dan Bara tidur di kamar lantai bawah.


“Suara apa itu? Apa mas Bara sudah pulang?”


Setibanya di ruang tamu, melihat suaminya mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan.


“Mas.”


“Iya sayang. Diamlah di situ, banyak pecahan kaca disini. Nanti kakimu terluka,” sahut Bara.


“Apa yang terjadi mas?”


“Aku tidak sengaja menabrak meja kaca ini. Apa kau menggeser mejanya?!” tanya Bara sedikit meninggikan suaranya.


Nisa mengerutkan keningnya, meja tersebut tak pernah berpindah tempat.


“Aku tidak pernah memindah barang apapun di rumah ini mas! Apalagi dengan kondisiku sekarang ini?” ketus Nisa.


“Maaf sayang, aku terbawa emosi,” ucap Bara merasa bersalah masih mengumpulkan pecahan kaca tersebut.

__ADS_1


Nisa menghela napas.


“Apa mas terluka?” tanya Nisa.


“Tidak sayang, aku baik-baik saja,” sahut Bara.


“Aku akan mengambilkan sapu mas.”


Dengan jalan perlahan Nisa mengambil sapu yang terletak pada tempatnya. Karena mereka tidak mempunyai pembantu di rumah, semua pekerjaan rumah mereka kerjakan sendiri.


Nisa membantu suaminya membersihkan sisa pecahan kaca tersebut, walaupun ada perdebatan sedikit. Akhirnya Bara mengizinkan istrinya untuk membantunya.


“Mas tanganmu terluka.”


Melihat tangan suaminya yang sedikit mengeluarkan darah.


“Ini hanya luka kecil, sayang. Kau tidak perlu khawatir.”


“Luka sekecil apapun, akan menjadi besar dan berbahaya jika tidak diobati mas!” celetuk Nisa mengambil kotak p3k yang ada di meja.


Bara hanya pasrah, ketika tangannya diobati oleh istrinya. Ia sedikit mengiris merasakan perih di tangannya, ketika Nisa mulai mengoles alkohol di tangan suaminya.


“Apa kau sudah bersiap, kita akan berangkat sekarang,” ucap Bara ketika melihat istrinya sudah menyelesaikan mengobati tangannya.


“Iya mas, sudah. Apa mas sudah makan siang?”


“Nanti saja, aku belum punya selera untuk makan,” sahut Bara sambil memijat pelipisnya.


“Mas itu terlihat kurus sekarang. Kenapa akhir-akhir ini, mas seperti tidak berselera untuk makan? Apa mas punya masalah?”


“Entahlah sayang. Sekarang fokus dengan kesehatanmu, ayo kita berangkat sekarang.”


Nisa menghela napas berat, lalu mengangguk. Bertanya pun percuma pikirnya, suaminya tidak akan mau menceritakan masalahnya.


“Aku akan mengambil tas ku di kamar mas.”


“Iya,” sahut Bara singkat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2