
“Apa yang kalian bicara kan? Sepertinya sangat rahasia, hingga aku tidak boleh ikut mendengarkan!” tanya suara lantang Bara dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
Nisa berbalik melihat ke arah suara tersebut.
“Tidak ada!” sahut Nisa gugup.
“Jangan mencoba membohongiku!” tatapan tajam Bara membuat Nisa sedikit takut. Namun, ia berusaha menyembunyikan nya.
“Paman hanya cerita tentang Ayah,” ujar nya.
“Benarkah?”
“Iya,” sahut Nisa.
“Awas saja jika kau berbohong!” ancam Bara.
“Terserah!” ketus Nisa.
“Mau sampai kapan kamu duduk di situ?”
“Mak—maksudnya?” tanya Nisa balik.
“Baik lah jika kamu ingin tinggal disini.”
Nisa baru menyadari, bahwa ia akan ikut suami nya walaupun dirinya tidak tahu entah kemana suaminya akan pergi.
“Astaga...,” ucap Nisa menepuk jidat nya.
“Tuan..., tunggu,” teriak Nisa sambil berlari kecil.
“Apa sih? Berisik sekali!” ketus Bara.
“Tidak perlu teriak, aku tidak tuli, bodoh!”
“Maaf.”
“Cepat! Bawa semua barang ku.”
“Hah?”
“Apa kamu tuli? Bawa barang ku semua ke mobil,” perintah nya lagi.
“I—iya..,” sahut Nisa.
“Kalau kau tidak mau, silahkan angkat kaki dari rumah ini! Tapi, sebelum itu tanda tangani dulu surat itu!”
__ADS_1
“Tidak! sampai kapan pun, aku tidak mau!”
“Terserah !” ketus Bara langsung berlalu pergi meninggalkan Nisa.
“Dasar, keras kepala!” umpat Bara.
Bara masuk ke dalam mobil, ia melihat Nisa dari kaca spion yang terlihat kesusahan membawa beberapa koper menuju mobil.
“Dasar bodoh! Kenapa tidak meminta bantuan pelayan!” gumam Bara dengan senyum mengejek.
Setelah selesai meletakkan koper di bagasi mobil, Nisa masuk duduk di kursi depan sambil menyapu keringat di wajah nya dengan tisu.
“Siapa yang menyuruhmu untuk duduk di depan?”
“Lalu..?”
“Duduk di belakang, aku tidak Sudi duduk bersebelahan dengan mu!” ketus Bara.
Nisa membuang nafas kasar, lalu keluar mobil.
“Eh tunggu,” panggil Bara.
“Ada apa?”
Hingga membuat Nisa murka, Nisa menutup kasar pintu belakang yang sebelum sudah ia buka.
“Kenapa? Mau marah?”
“Tidak, anda selalu benar Tuan..!” ujar Nisa.
“Bagus.”
“Apa kau bisa menyetir?”
“Tidak,” sahut Nisa singkat.
“Huft.., Apa saja yang kau bisa? Dasar Tidak berguna!” ujar Bara santai, lalu mulai menjalankan mobilnya.
“Iya Tuan, saya memang tidak berguna,” ketus Nisa.
“Ya bagus kalau sadar diri, karena kamu memang tidak berguna!” celetuk Bara.
“Huft..., sabar..,” batin Nisa.
Bara mengemudi mobil dengan santai, tanpa ada pembicaraan di dalam mobil tersebut. Tak berselang lama, mereka tiba di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Namun, tak semewah rumah ayah mertuanya.
__ADS_1
“Ini rumah siapa?” tanya Nisa.
“Banyak bicara! Cepat turun!”
Bara lebih dulu membuka pintu mobil di susul oleh Nisa.
“Jangan lupa barang ku di bawa masuk,” perintah nya. Nisa mengangguk dan sejenak ia melihat kepergian Bara yang lebih dulu masuk ke dalam rumah. Kemudian, mengambil koper mereka di bagasi mobil.
“Huh..., lumayan,” gumam Nisa setelah tiba di ruangan tengah, hingga membuat nya sedikit berkeringat membawa koper mereka.
“Mana koper ku?” tanya Bara berdiri di depan pintu kamar dengan handuk melilit di pinggang nya. Terpampang jelas otot-otot perut nya, hingga membuat Nisa yang melihat menelan ludah kasar dan segera memalingkan wajahnya.
“Woi...,” teriak Bara.
“Hah..., ada apa?” tanya nya gelagapan.
“Kamu tuli ya? Mana koper ku?” teriak nya lagi.
“I—ini.” Dengan cepat membawa koper milik suaminya.
“Lama sekali,” gerutu Bara. Bara membawa masuk kopernya ke dalam kamar untuk mengambil pakaiannya.
Nisa kembali duduk di kursi, dimana ia duduki sebelum nya. Masih berpikir keras mengapa dirinya di bawa kesini oleh suaminya, dan meninggalkan rumah mewah ayahnya sendiri.
Bara keluar kamar dengan pakaian rapi, Nisa hanya diam dan hanya melihat nya sekilas. Bagi nya percuma bertanya karena akan membuat pertengkaran yang tiada berujung.
“Kau tidak bertanya?” Ujar Bara berdiri di depan Nisa sambil membenarkan jam tangannya.
“Tanya apa?”
“Ya tidak tahu!”
“Kalau aku bertanya, apa Tuan akan menjawab nya.”
“Tergantung dengan isi pernyataan mu, bermutu atau tidak.”
“Pria aneh.” Batin Nisa.
“Baiklah, kalau Tuan memaksa, aku akan bertanya! Kenapa kita pindah ke rumah ini?”
“Itu bukan urusan mu!” ketus Bara lalu pergi meninggalkan Nisa sendiri dengan wajah yang kebingungan.
“Dasar pria tidak waras, tadi dia sendiri yang ingin di tanya!” gerutu Nisa.
Bersambung...
__ADS_1