
Di negeri Sakura, Nenek Dira baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Ketika hendak meminum teh hijaunya, tiba-tiba gelas yang ia pegang terlepas di tangannya membuat gelas tersebut terjatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.
Pyarrr!
Suaranya terdengar hingga ke ruang tamu, membuat Toni yang memeriksa dokumen teralihkan dengan suara tersebut.
Ia berlari kecil ke arah dapur, untuk memastikan keadaan majikan.
“Nyonya. Apa nyonya baik-baik saja?”
Melihat Nenek Dira duduk terdiam melihat gelas kesayangannya hancur.
“Iya. Aku baik-baik saja, gelasnya tiba-tiba saja terlepas dari tanganku.”
“Aku akan menyuruh pelayan membuatkannya lagi,” ucap Toni perlahan mengumpulkan pecahan beling tersebut.
“Toni, bagaimana dengan hasil tes DNA nya? Apakah sudah keluar hasilnya?”
“Belum nyonya.”
“Entah kenapa perasaanku begitu gelisah!” gumam Nenek Dira.
“Mungkin Nyonya butuh istirahat. Istirahat dulu Nyonya, pertemuan kita masih dua jam lagi.”
“Iya, kau mungkin benar,” ucap Nenek Dira beranjak dari tempat duduknya.
“Apa gadis itu baik-baik saja? Entah kenapa? Aku sangat merindukannya,” ucap Nenek Dira dalam hati.
Sesampainya di kamar, Nenek Dira tidak benar-benar istirahat. Ia mengambil ponselnya, ingin menghubungi Nisa. Namun, diurungkannya takut mengganggunya.
Nenek Dira memandang wajah Nisa di galeri dalam ponselnya, ia sempat diam-diam memotret Nisa.
“Aku berharap engkau benar-benar cucuku. Aku sudah tidak sabar menunggu hasilnya!” gumamnya sambil mengusap foto yang ada di ponsel tersebut.
***
Di Apartemen, Reyhan mondar mandir seperti cacing kepanasan, dari wajahnya Reyhan tampak gusar.
“Kau kenapa?” tanya Ayahnya yang baru saja tiba.
“Ti—tidak Ayah,” sahut Reyhan tampak gugup.
“Apa kau melakukan sesuatu?” tanya Ayahnya penuh selidik.
“Aku tidak melakukan apapun Ayah,” sahut Reyhan mencoba bersikap santai.
“Bagaimana? Kau sudah bisa membujuk Bara. Apa kau sudah menjalankan rencana mu?”
“Be—belum Ayah. Aku sudah memutuskan, aku yang akan menikah dengan wanita itu.”
__ADS_1
Pak Ridwan memicingkan matanya, ia merasa curiga.
“Bukankah kau tidak ingin menikah. Kenapa sekarang kau tiba-tiba saja ingin menikah dengannya?”
“Aku tidak bisa membujuk Bara, dan rencana ku juga gagal. Jadi biarkan aku saja yang menikah dengannya, demi perusahaan kita,” ucap Reyhan.
“Memangnya apa yang kau rencanakan? Kemarin kau belum memberitahu Ayah!”
“Ayah tidak perlu tahu itu!” celetuk Reyhan memalingkan wajahnya karena merasa gugup.
“Baiklah, jika itu keputusanmu! Dari awal dia memang ingin kau jadi menantunya, kau saja yang membuat banyak drama! Hingga Bara mengancamku!” seru Pak Ridwan.
“Bilang saja Ayah memang takut dengan Bara!”
“Tidak! Ayah hanya kasihan dengannya, sejak kecil sudah tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Sedangkan Ayahnya, kau tahu sendiri kak Burhan bagaimana!”
“Tapi Bara tidak pernah kekurangan uang! Sedangkan kita, selalu saja kekurangan uang!” protes Reyhan.
“Itu kau yang terlalu boros!” celetuk Ayahnya.
“Ayah juga!”
“Sudah, cukup! Persiapkan dirimu, kita berangkat sore ini. Aku akan menghubungi mereka, ketika sudah di kantor nanti.”
Pak Ridwan meninggalkan Reyhan yang masih duduk di sofa, ia bernapas lega melihat kepergian Ayahnya.
“Apa yang harus ku lakukan? Jika Ayah mengetahui hal ini!” Gumam Reyhan.
“Kenapa aku bodoh sekali!” ucap Reyhan prustasi.
Ia mengacak rambutnya frustasi.
***
Bara merasakan kepalanya sakitnya mulai berkurang, Bara keluar dari mobil dan kembali masuk untuk menunggu istrinya keluar dari ruangan operasi.
Drrrttttt!
Di tengah perjalanan, terasa ada getar ponsel miliknya di saku celananya.
“Andi,” gumamnya melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
“Halo, Pak Andi.”
Bara meletakkan benda pipih tersebut didaun telinganya, namun tidak menghentikan langkahnya.
“Halo, Pak Bara. Apa terjadi sesuatu? Pak Bara langsung pergi, saya belum sempat bertanya. Wajah Pak Bara begitu sangat khawatir,” tanya Pak Andi di balik telepon.
“Maaf Pak. Saya sangat terburu-buru, hingga lupa meminta ijin. Istri saya mengalami kecelakaan,” sahutnya dengan suara sendu.
__ADS_1
“Saya ikut prihatin Pak.”
“Terima kasih Pak. Saya ijin pulang cepat, dan mungkin beberapa hari ke depan saya tidak bisa masuk bekerja,” sahut Bara.
“Iya Pak. Pak Zaky baru saja menghubungi saya, beliau mencoba menghubungi Pak Bara. Namun, tidak di angkat.”
“Maaf, ponselku tertinggal di mobil,” sahut Bara.
“Iya Pak Bara. Masalah biaya rumah sakit, perusahaan yang akan menanggung semua biayanya. Pak Bara tidak perlu memikirkan hal itu,” Ucap Pak Andi.
“Terima kasih banyak Pak, saya tidak akan melupakan kebaikan Pak Andi,” sahut Bara terharu.
“Sama-sama Pak. Itu semua, sesuai dengan kinerja Pak Bara. Sekali lagi kami ikut prihatin, semoga istri anda segera pulih seperti sedia kala.”
“Iya Pak Andi.”
Pak Andi mengakhiri panggilan teleponnya, Bara kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Ia kembali menatap pintu ruangan operasi yang masih belum terbuka.
“Kenapa kamu jadi seperti ini sayang? Bukankah aku sudah melarangmu untuk keluar rumah!” gumam Bara menatap sendu pintu ruangan tersebut.
Hampir satu jam Bara duduk menunggu, dengan hati yang tidak tenang.
“Sayang bertahanlah disana, kamu harus kuat,” ucap Bara dalam hati.
Dua jam berlalu, Terlihat Dokter keluar dari ruangan tersebut. Melihat pintu ruangan terbuka, Bara langsung berdiri mendekati Dokter tersebut.
“Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Istri saya baik-baik saja kan,” tanya Bara.
“Apa benar anda suami korban?” Tanya Dokter.
“Ia Dok. Saya suami sahnya!” sahutnya sedikit penekanan, namun masih bernada sopan.
Melihat Dokter muda dan tampan, timbul ada rasa cemburu dihatinya.
“Mari ikut ke ruangan saya.”
Bara mengikuti belakang Dokter tersebut, hingga masuk ke ruangan.
“Silahkan duduk dulu,” ucap Dokter muda tersebut dengan sopan.
“Iya Dok, Terimakasih”
“Bagaimana keadaan istri saya? Apa lukanya cukup parah? hingga dioperasi,” tanya Bara yang begitu sangat khawatir.
Terlihat Dokter menghela napas, lalu memperlihatkan hasil radiologi kepada Bara.
.
.
__ADS_1
.