Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 17


__ADS_3

Sesampai nya di parkiran, tampak Bara tergesa-gesa melepaskan seat belt nya dengan benda pipih yang menempel di telinga kanannya.


Begitupun dengan Nisa, ia mengerutkan dahi nya dengan wajah penuh kekhawatiran. Apakah semua ada hubungan dengan Ayah mertuanya pikiran Nisa penuh dengan tanda tanya.


“Tuan Bara.” Panggil Nisa. Dengan langkah cepat Nisa mengekori suaminya.


Seketika Bara langsung menoleh, ia baru menyadari bahwa dirinya tidak datang sendiri.


“Astaga aku hampir saja lupa dengan wanita ini!” gerutu Bara.


“Kenapa kau lama sekali jalan? Cepat lah, kesehatan ayah sekarang sedang melemah! Dokter baru saja menghubungiku.”


“Ia, kamu terlalu cepat jalan nya. Aku gak bisa mengimbangi langkah mu,” protes Nisa dengan nafas yang naik turun.


“Cepat! banyak bicara! Pegang tangan ku.” Bara mengulurkan tangannya.


Tampak Nisa ragu menyambut tangan suaminya. Dengan cepat Bara menarik tangan istri dengan sedikit kasar.


“Lama sekali!” bentak nya.

__ADS_1


Dengan susah payah Nisa mengimbangi langkah suami nya.


Hingga tiba di depan ruangan tempat dimana sang ayah mertuanya di rawat.


“Ayah..,” lirih Nisa melihat sang ayah mertua terbaring lemah. Terlihat ada seorang Dokter dan beberapa perawat yang baru saja memeriksa pak Burhan.


“Ada apa dengan Ayah?” tanya Nisa menatap Bara. Belum sempat Bara menjawab pertanyaan istrinya, pak Burhan mulai membuka matanya dan memanggil nama nya dengan suara yang hampir tak terdengar.


“Nisa..,” panggil nya.


“Iya Ayah, Ayah harus kuat ya, yakin kalau Ayah akan sembuh,” dengan mata yang berkaca kaca.


Blush..., pertanyaan sang ayah mertua membuat nya melirik sekilas wajah sang suami.


“Ayah, jangan pikirkan itu! Suamiku memperlakukan dengan baik ayah.” Senyum Nisa kepada ayah mertuanya, ingin rasanya ia mengatakan yang sebenar nya kepada ayah mertuanya. Namun, hal itu tidak mungkin melihat keadaan ayahnya saat ini.


Bara diam seribu bahasa duduk di samping ayahnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Ternyata ini, alasan kenapa suami ku tiba-tiba bersikap manis kepada ku,” batin Nisa. Air mata hampir saja menetes dengan cepat Nisa menghapus nya, agar tak terlihat oleh ayah mertuanya.

__ADS_1


Tak lama, sebuah tangan yang sudah terlihat keriput menggenggam tangannya dengan lembut.


“Nak, jaga diri kamu baik-baik. Tolong rawat anak ku jika aku sudah tidak ada nanti.” Nada lembut.


“Ayah tidak boleh bicara seperti itu, ayah pasti sembuh.” Nada lembut saling menggenggam satu sama lain. Melihat ke akrabpan istri dan ayah nya, wajah Bara begitu murka, hingga ia berdiri menuju kamar mandi.


Nisa hendak bertanya, kemana suami nya akan pergi. Namun, di urungkan ketika melihat Bara menuju kamar mandi yang berada di ruangan. Lalu kembali fokus kepada ayah nya, melihat sang ayah mertua sudah terlihat menutup mata nya dan sedikit senyum di bibir nya. Bersamaan dengan alat berbunyi, dengan cepat dokter memeriksa nya kebetulan masih ada di ruangan tersebut.


Dengan wajah yang sendu, Dokter menggelengkan kepala nya menghadap Nisa.


“Ayah..,” panggil Nisa pelan hingga berulang kali, sambil memegang tangan ayahnya. Namun, tidak ada respon sama sekali bersamaan dengan bulir air yang mengalir di pipi mulusnya.


"Nona sabar ya, kami sudah berusaha semampu kami," ujar Dokter.


"Tolong periksa sekali lagi Dok," sahut Nisa dengan suara serak nya.


"Kenapa dengan Ayah ku?" suara nyaring Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi,


Semua orang menoleh ke arah suara yang begitu lantang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2