
Di kota lain, Apartemen yang semulanya dingin mendadak panas. Akibat pergumulan panas mereka, hampir satu jam pergumulan panas mereka lakukan, hingga akhirnya menyudahinya ketika sudah sama-sama puas.
Siapa lagi kalau bukan Miranda. Di hari yang sama juga, ia sudah melayani dua pria.
“Kau semakin hari semakin menggoda,” bisik pria tersebut di telinga Miranda.
Miranda tersenyum.
“Bagaimana? Apa kita lanjut lagi?” tanya pria tersebut seakan belum puas ingin lagi dan lagi.
“Cukup Baby, aku sudah letih. Kita bisa melakukannya besok lagi.”
“Kalau aku maunya sekarang bagaimana?”
Pria tersebut kembali memaksanya untuk melakukan hubungan terlarang itu lagi.
Miranda pasrah, ia tidak bisa melawan lagi. Akhirnya ia mengikuti saja permainan pria tersebut.
Kali ini tidak lama, hanya butuh setengah jam saja mereka benar-benar mengakhirinya.
Mereka membersihkan tubuh mereka di kamar mandi, setelah selesai mereka duduk di tempat tidur dengan posisi Miranda bersandar di tubuh pria tersebut.
“Bagaimana dengan rencana kita? Apa kamu yakin ini akan berhasil?” tanya pria tersebut.
Miranda duduk tegak, ia menatap wajah pria tersebut.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya bingung.
“Wajahmu ini begitu sangat mirip dengan Bara. Hanya tanda tahi lalat saja yang membedakannya. Coba kau lihat ini.”
Miranda mengambil ponselnya, ia mencari foto Bara yang ada di ponselnya.
Pria tersebut melihat dengan teliti wajah yang ada di layar ponsel milik kekasihnya ini.
“Iya sangat mirip. Tapi yang membedakan, postur tubuh Bara lebih tinggi dan sedikit berotot.”
“Iya kau benar. Mulai besok kau harus berolahraga. Aku heran, kenapa bisa sangat mirip? Apa kalian saudara kembar?”
“Tidak. Aku anak satu-satunya. Orang tuaku sudah meninggal, mungkin ini hanya kebetulan saja.”
“Iya kau benar.”
“Jadi... kapan kita akan melaksanakan rencana kita? Aku sudah tidak sabar.”
“Kita akan melakukan rencana kita, setelah Erwin kembali. Saat ini, Erwin masih di luar kota.”
“Aku heran, kenapa kau ingin sekali menghancurkan mereka?” tanya pria tersebut.
“Karena uang pastinya, hahaha...” Miranda tertawa lepas.
“Tapi, aku juga ingin kembali kepada pria yang bernama Erwin,” ucapnya dalam hati.
Sebenarnya Miranda sudah mengetahuinya, jika anak kecil yang Erwin bawa di saat meeting di kantornya beberapa bulan yang lalu, itu adalah anak Nisa dan Bara.
Namun, ia berpikir saat itu jika Nisa dan Erwin sudah menikah. Karena itu ia ingin merebut hati Erwin kembali, setelah tahu Erwin adalah orang yang bisa di bilang kaya raya.
Dengan memanfaatkan wajah pria yang mirip dengan Bara, Miranda yakin ia mampu memisahkan Erwin dan Nisa. Dengan menipu Nisa untuk kembali dengan pria yang mirip dengan mendiang suaminya tersebut.
“Helo...” sapa pria tersebut.
Melihat Miranda sibuk dengan pikirannya.
“Kenapa bengong?” tanyanya.
“Oh, maaf. Aku terhanyut dengan pikiranku!”
“Kau ini pria bodoh. Maaf, aku harus memanfaatkan mu untuk kesenanganku!” ucapnya dalam hati tersenyum licik.
“Apa kau yakin, wanita itu percaya jika aku suaminya?”
__ADS_1
“Ya bagaimana pun caranya, kau harus menyakinnya agar dia percaya!”
“Kau harus ingat, mendiang Bara mempunyai putra yang sudah berumur 6 tahun. Kau bisa memanfaatkan anak kecil itu, besok aku akan mengajakmu ke tempat bocah itu bersekolah.”
“Hm... baiklah. Asal bayarannya sesuai dengan yang ku kerjakan, itu akan lebih mudah.”
Pria itu menatap Miranda sambil memainkan kedua alisnya.
“Kau tenang saja. Kalau kita berhasil menaklukkan mereka, kita akan bagi dua hasilnya. Yang aku dengar, istri Mendiang Bara itu juga sangat kaya.”
“Wow. Benarkah?”
Miranda mengangguk tersenyum.
“Mari kita bekerja sama,” ucap Miranda.
“Ini pekerjaan yang mudah!”
Pria itu tersenyum licik.
***
Di rumah nenek Dira.
Reyhan dan nenek baru saja selesai berbicara di telepon dengan panggilan video bersama Erwin.
Reyhan kembali ceria, setelah beberapa Minggu cemberut. Begitupun nenek, ia tak kalah bahagianya. Apalagi mendengar cucunya menikah siri malam itu.
“Hah, Toni. Aku sangat lega, cucuku akhirnya menikah juga.”
Nenek terlihat sangat bahagia, ia bahkan bisa bernapas lega. Ia tidak lagi memikirkan keselamatan cucunya, karena Erwin selalu ada di sampingnya.
“Iya, Nyonya.”
“Bagaimana dengan dirimu? Apa kau tidak punya keinginan untuk menikah?” tanya nenek Dira kepada Toni.
Toni tersenyum kecut.
“Oh begitu. Tapi, di kantor banyak perempuan cantik. Apa di antara mereka tidak ada yang menarik di hatimu?”
Toni menggelengkan kepalanya.
“Semua sudah berkeluarga Nyonya!”
Nenek terkekeh.
“Sabar Toni. Jodohmu mungkin sedang di cetak,” ujar nenek menahan tawanya.
“Haha... iya. Sepertinya, Nyonya benar.”
Mereka berbincang hangat, tak lama datang Art membawakan mereka teh hijau dan camilan.
“Terimakasih Mala,” ucap nenek.
“Sama-sama Nyonya.”
Art tersebut berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Toni. Kau lihat bukan, wanita yang baru mengantar kita camilan.”
“Iya, Nyonya. Ada apa dengannya?”
“Dia cantik bukan?”
“Iya Nyonya, semua wanita cantik.”
“Apa kau merasakan getar-getar di hatimu? Kau ini normal atau tidak sih?” tanya nenek sudah mulai kesal.
“Tentu saja saya masih normal, Nyonya.”
__ADS_1
“Tapi, aku melihatmu seperti tidak menyukai wanita?”
“Mungkin hanya perasaan Nyonya saja.”
“Huft... saya haus berbicara denganmu,” kesal nenek Dira.
Ia mengambil gelas yang berisi teh hijau hangat tersebut.
Toni hanya tersenyum, mendengar nenek Dira yang kesal dengannya.
“Sebenarnya aku dan Mala sudah lama menjalin kasih,” ucap Toni.
Nenek yang minum teh tersebut, langsung mengeluarkan nya karena terkejut.
Prrrtt... Uhuk! Uhuk!
“Toni kau?” tanya nenek Dira masih terbatuk-batuk.
“Hati-hati Nyonya,” ujar Toni memberikan nenek Dira tisu.
“Coba ulangi lagi perkataanmu barusan. Aku kurang jelas mendengarnya!”
“Hati-hati Nyonya.”
“Bukan itu!” sela nenek.
“Aku dan Mala sudah menjalin kasih?”
“Iya itu. Kau serius?”
“Iya Nyonya. Dalam waktu dekat ini, aku ingin melamarnya. Itu jika Nyonya, mengizinkan.”
“Tadi kau bilang tidak mempunyai kekasih. Kau berdusta!”
“Maaf Nyonya. Saya malu, hubungan kami belum di ketahui oleh banyak orang.”
“Apakah Nyonya mengizinkan aku untuk menikah?”
“Kau ini, aneh! Tentu saja aku mengizinkannya.”
“Tapi sebelum itu, pastikan cucuku baik-baik saja. Entah kenapa, dengan perasaanku saat ini. Aku seperti mempunyai firasat yang tidak baik, semoga saja ini hanya perasaanku saja.”
“Iya Nyonya. Saya akan berusaha,” sahut Toni.
“Anda tidak perlu khawatir. Tapi... ada sesuatu yang Nyonya belum ketahui dan anda harus mengetahui ini.”
“Apa itu?”
Toni menjelaskan jika dirinya melihat orang yang sangat mirip dengan Bara dan hal ini sudah ia ceritakan kepada Erwin dan orang tersebut sangat akrab bersama Miranda saat di lampu merah waktu itu.
Namun, Nisa masih belum mengetahui ini.
“Bagaimana bisa? Apakah mendiang Bara punya kembaran?”
“Aku sudah menyelidiknya Nyonya. Bahwa Tuan Bara tidak mempunyai Saudara kembar,” Ujar Erwin menjelaskan.
“Ini sangat aneh atau ini kebetulan? Saya sering melihat ada kemiripan kepada seseorang, akan tetapi jika sangat mirip tanpa celah ini sih untuk pertama kalinya. Apa kau yakin? Jika mendiang Bara tidak mempunyai saudara kembar.”
“Menurut informasi yang saya dapat, mendiang Tuan Bara memang tidak mempunyai saudara kembar.”
“Hm... pastikan mereka tidak mengganggu cucuku dan putranya. Untukmu, selalu berhati-hati!”
“Iya Nyonya. Saya akan usahakan,” sahut Toni.
Karena melindungi keluarga nenek Dira adalah tujuan utamanya. Mungkin itu saja kurang, untuk membalas semua kebaikan nenek Dira kepada keluarganya.
.
.
__ADS_1
.