Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 124


__ADS_3

Sementara di rumah Nenek Dira.


Amita dan Nisa baru saja menyelesaikan percakapan mereka di balkon, Amita berpamitan untuk pulang. Karena hari juga sudah mulai larut malam.


“Saya pamit dulu Nona,” pamit Amita.


“Iya terima kasih sudah membantu kami.”


“Iya, Nona. Sama-sama.”


Amita beranjak dari duduknya, melangkah keluar kamar Nisa.


Sebelum itu ia lebih dulu masuk ke kamar Nenek Dira, ia berulang menengok ke belakang melihat Nisa, apakah ada di belakangnya?


Setalah aman, ia masuk ke dalam kamar. Melihat Nenek Dira susah duduk di tempat tidur.


“Nyonya sudah bangun?”


“Iya tentu saja aku bangun. Kau kira aku mati?!” sindirnya.


“Iya, maaf Nyonya.” Amita mengerti arah dari pembicaraan Nenek.


“Bagaimana? Apa saja yang kalian bicarakan di kamar cucuku?” tanya nenek antusias.


“Banyak Nyonya.”


“Apa itu? Cepat katakan.”


Amita mulai menceritakan, semua yang mereka bicarakan di kamar Nisa tanpa ada yang tertinggal.


“Bagus.”


“Semoga dengan cara ini berhasil,” ucap Nenek.


“Aku akan mentransfer uangnya. Sekarang kamu pulanglah, suami dan anakmu pasti sedang menunggumu,” ucap nenek Dira.


“Iya Nyonya, terima kasih.”


Amita membuka jasnya, lalu melipatnya dan meletakkannya di lemari.


Tanpa mereka sadari jika Nisa mendengar semuanya di balik pintu, karena Amita tidak menutup rapat pintu ketika masuk tadi. Sehingga membuat Nisa mendengar semua apa yang mereka bicarakan.


Saat melihat Amita hendak keluar, Nisa berlari masuk ke kamarnya, agar tidak terlihat oleh Amita jika dirinya sedang menguping.


“Huft... Nenek!” keluh Nisa yang bersandar di pintu kamarnya.


Ia kembali mengintip dari kamar miliknya, melihat Amita sudah keluar kamar dan menuruni tangga.


“Huh... ternyata ini hanya sandiwara! Nek, kenapa Nenek membohongiku?” lirih Nisa.


Tadi ia begitu sangat khawatir, maka dari itu ia ingin kembali ke kamar Neneknya, untuk menemani tidurnya. Namun, ia menemukan kejadian yang sebenarnya jika neneknya membayar orang agar menjadi Dokter untuk memuluskan rencananya.


Nisa mengambil pakaian tidurnya dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Setelah selesai dengan urusannya, Nisa mengganti pakaiannya dan meletekkan pakaian kotornya di keranjang. Ia memoleskan body lotionnya ke lengan dan kakinya.


Nisa terhenti dengan aktivitasnya, teringat akan ucapan Erwin saat di dalam mobil tersebut.


“Apa Erwin akan pergi?” tanyanya dalam hati.


“Bagaimana dengan Reyhan, jika dia benar-benar pergi?”


“Apa aku hubungi saja dia? Tapi... apa dia mau mengangkatnya? Ia sepertinya sangat marah kepadaku.”


Nisa berpikir sejenak, lalu beranjak dari duduknya mengambil ponselnya.


Nisa mencari nama Erwin di layar ponselnya, setelah menemukannya ia tampak ragu untuk menekannya.


“Tapi... aku bicara apa? Ah... tidak, aku tidak ingin menghubungi,” gumamnya.


“Tapi, aku hubungi saja. Apakah dia sudah tiba dirumah,” Gumamnya lagu meyakinkan dirinya.

__ADS_1


Ia menutup matanya, sambil menekan nomor Erwin tersebut, dengan jantung yang berdekat kuat, tentunya.


(Nomor yang anda tuju tidak terdaftar)


Ucap operator yang ada di dalam layar ponselnya.


“Hah...? tidak terdaftar!” Nisa terduduk lemas di lantai.


“Dia benar-benar marah kepadaku.”


Nisa mencoba menghubunginya lagi, akan tetapi sama dengan sebelumnya, hanya operator yang menjawab.


“Apa aku hubungi nomor telepon rumahnya saja?”


Nisa mencari kembali nomor telepon rumah Erwin, dulu pernah Reyhan menghubungi menggunakan telepon rumah Erwin.


“Mana sih!” gerutu Nisa mencari nomor tersebut, dengan menggeser layar tersebut naik turun.


“Huh... syukurlah, aku tidak lupa menyimpannya,” ucap Nisa bernapas lega.


Tut...! Tut...!


Suara telepon, menandakan telepon tersebut terhubung.


“Halo,” jawab seseorang.


“Ha-halo,” sahut Nisa tampak gugup.


“Iya, ini dengan siapa?”


“Erwinnya ad-ada?” tanyanya masih dengan sedikit gugup.


“Maaf, Tuan Erwin dan kedua orang tuanya sudah tidur. Maaf ini dengan siapa?”


“Oh sudah tidur ya. Besok saya hubungi lagi,” ucap Nisa.


“Iya, maaf ini dengan siapa? Aku akan menyampaikan ini kepada, tuan Erwin besok,” tanya nya lagi.


“Halo...”


“Iya, halo. Aku Nisa, ibu dari Reyhan,” sahut Nisa.


“Oh, Nona Nisa. Besok saya sampaikan Nona.”


“Iya terima kasih banyak.”


Nisa mengakhiri panggilannya.


“Huft... aman. Tapi besok, astaga! Kenapa aku memberitahu namaku tadi? Bodoh!” umpat Nisa kepada dirinya.


“Semoga saja Art itu lupa memberitahunya,” gumam Nisa.


Nisa melirik jam dinding sudah pukul 11 malam.


“Sebaiknya aku tidur. Aku harus kembali ke kantor besok,” gumamnya.


Namun, Nisa kembali mengkhawatir keadaan Neneknya, lalu memutuskan untuk melihat neneknya terlebih dahulu.


“Nek,” panggil Nisa pelan.


Neneknya ternyata sudah tidur, dengan mulut yang sedikit terbuka.


“Nenek sudah tidur,” gumam Nisa.


Ia membenarkan selimut yang terjatuh sebagian ke lantai, lalu menutupi tubuh neneknya.


“Nek, aku akan meminta penjelasan mu besok,” ucap Nisa dalam hati melihat neneknya tertidur pulas.


Nisa kembali ke kamarnya, sebelum itu ia membuka pintu kamar putra, melihat keadaannya.


Setelah memastikan Reyhan, Nisa kembali ke kamarnya.

__ADS_1


***


Samar-samar terdengar suara adzan subuh berkumandang, Nisa menggeliat dari dalam selimut. Memaksakan dirinya untuk duduk, karena harus melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


Setelah selesai Shalat subuh, Nisa turun ke dapur, untuk menyiapkan sarapan pagi dan bekal putranya tersebut.


Cukup lama berkutik di dapur, Nisa menyelesaikan bekal untuk putranya tersebut, di bantu oleh Art juga tentunya.


Nisa melangkah ke kamar putranya, untuk membangunkannya.


“Pagi sayang,” sapa Nisa membuka selimut Reyhan.


Reyhan perlahan mengerjapkan kedua matanya, karena silau cahaya lampu, ia membuka tutup kelopak matanya tersebut.


“Bangun yuk, terus mandi. Mama hari ini memasak kesukaan Reyhan, untuk di bawa ke sekolah.”


“Mmm... iya mah,” sahutnya dengan suara serak.


“Ma, Papa dimana?”


Deg! Pertanyaan Reyhan membuat Nisa terdiam, yang saat itu ia sedang mencari pakaian putranya di lemari.


Ia baru sadar, jika dirinya semalam menghubungi nomor telepon rumah Erwin.


“Astaga, aku lupa. Bagaimana jika Art itu memberitahu, Erwin? Matilah aku!” Gumamnya.


“Ma...” panggil Reyhan.


“Iya sayang.”


“Papa dimana?”


“Mm... itu. Papa berangkat ke luar kota tadi pagi, karena ada pekerjaan.”


“Papa gak cium Reyhan dulu?”


“Papa sudah mencium Reyhan, saat Reyhan masih tertidur pulas.”


Reyhan berpikir sejenak.


“Pinjam ponsel Mama, boleh?”


“Untuk apa?”


“Mau menghubungi Papa,” sahut Reyhan keluar kamarnya, untuk mengambil ponsel milik Nisa di kamar.


Meski tanpa persetujuan Nisa, Reyhan pergi mengambil ponsel tersebut.


Reyhan, kembali dengan membawa ponsel milik Mamanya, masuk ke dalam kamarnya.


Saat ini Nisa, tidak melarangnya atau memperbolehkan Reyhan untuk menghubungi Erwin.


Karena Reyhan yang sudah pandai membaca, begitu mudah untuknya mencari nama Erwin.


Reyhan menekan nama Erwin, akan tetapi hanya operator yang menjawab sama seperti semalam.


“Papa lagi dalam pesawat sayang. Jadi, ponselnya harus di matiin dulu,” ucap Nisa melihat wajah Reyhan yang sudah cemberut.


“Sekarang Reyhan mandi, setelah itu sarapan. Mama yang akan mengantar Reyhan ke sekolah, oke?”


“Iya Ma,” sahutnya patuh.


Sebelum masuk kamar mandi, Reyhan meletakkan ponsel Nisa di nakas, lalu melangkah ke kamar mandi.


“Apa dia benar-benar sudah pergi?” gumam Nisa dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2