
Di rumah kebesaran Nenek Dira, ia baru saja tiba di rumah. Setelah beberapa bulan meninggalkan tanah air.
“Toni,” panggil Nenek yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa empuknya.
“Iya Nyonya.”
“Apakah aku sekarang saja ke rumah cucuku? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganya!”
“Saran saya, jangan sekarang Nyonya. Ini sudah malam, biarkan Nona muda beristirahat. Nyonya juga harus beristirahat.”
“Ck...! lama sekali menunggu besok,” keluh Nenek Dira.
“Iya baiklah, besok pagi kau harus mengantarku.”
“Iya Nyonya,” sahut Toni.
Nenek Dira beranjak dari duduknya, melangkah menuju ke kamarnya.
Melihat kepergian majikannya, Toni bernapas lega. Akhirnya ia bisa beristirahat, karena perjalanan yang cukup melelahkan dan ditambah perkerjaan yang menumpuk.
Toni membereskan barangnya, setelah selesai ia melangkah menuju kamarnya. Saat hendak membuka pintu kamar, ia merasakan getar ponsel di saku celananya.
Drrrttt.. drrrtt
“Ck..! siapa yang menghubungi malam begini?!” Gumamnya.
“Halo, ada apa kau menghubungiku? Aku sangat lelah, aku baru saja datang. Cepat katakan! Ada apa?”
“Maaf Pak, saya sudah mengganggu waktu anda. Ada kabar buruk.”
“Kabar buruk! Kabar apa?” tanya Toni yang mulai khawatir.
“Saya mendapatkan kabar, bahwa suami dari Nona muda sedang di rawat di rumah sakit,” Ucap seseorang di balik ponsel tersebut.
“Sakit apa?” tanya Toni penasaran.
Toni selalu meminta bantuan anak buahnya untuk memantau cucu dari bosnya tersebut.
“Saya belum mendapatkan info tentang itu, saya hanya tahu jika suaminya sedang di rawat.”
“Baiklah, Terimakasih.”
Tut..! Tut...! panggilan pun berakhir.
“Apa Nyonya sudah tidur? Aku akan memberitahunya besok pagi saja,” gumam Toni.
Karena memberitahunya sekarang akan membuat Nenek Dira khawatir, pikirnya.
***
Di tempat lain, Dion melangkah lesu masuk ke dalam rumah mewah milik Erwin.
“Kenapa wajahmu kusut begitu? Sedang putus cinta kau. Oh iya, aku lupa kau sedang jomblo sekarang,” ejek Erwin yang baru saja keluar kamarnya.
Dion tidak mempedulikan ejekan sahabat sekaligus bosnya tersebut.
“Aku bertanya padamu, bukan bicara dengan tembok!” seru Erwin.
“Apa kau punya masalah?” Tanya Erwin lagi.
Ia juga sedikit khawatir melihat sahabatnya tersebut.
“Entahlah, aku benar-benar pusing.”
“Katakan jika kau butuh bantuan.”
__ADS_1
“Apa kau benar ingin membantuku?” tanya Dion menghadap ke arah Erwin dengan serius. Karena saat ini mereka duduk di sofa yang sama.
“Apa?!” tanya Erwin sambil memicingkan matanya.
“Menikahlah dengan Shamila.”
Sontak membuat Erwin meninju sahabatnya tersebut.
“Jangan sembarang bicara, aku tidak mau menikah sekarang!”
“Kau ini, sakit tahu!” ucap Dion sambil mengelus bahunya.
“Oh iya. Aku lupa bertanya kepadamu kemarin. Apa yang Ayah Shamila katakan kemarin? Sepertinya sangat serius sekali, hingga kau bicara dengannya hanya empat mata.”
“Itu yang aku pusingkan saat ini. Aku bingung harus melakukan apa?”
“Ayah Shamila memintaku untuk menikahi anaknya.”
“Apa? Apa aku tidak salah dengar?”
“Tidak.” Sahut singkat Dion sambil memijit keningnya.
“Kenapa bisa?”
“Aku tidak tahu. Saat ini Shamila sakit parah, dan umurnya hanya tinggal beberapa bulan saja.”
“Shamila sakit? Sakit apa?”
“Leukimia stadium 4.”
Erwin membulatkan matanya, seakan tidak percaya apa yang dikatakan Dion.
“Serius?” tanya Erwin lagi memastikan.
Dion mengangguk.
“Astaga! Jadi kemarin itu Shamila sudah sakit. Aku memang melihat wajahnya sedikit pucat.”
Flashback on.
“Ada apa Tuan? Sepertinya sangat serius sekali,” tanya Dion.
Dion duduk di sofa yang ada di balkon, Ayah Shamila langsung bersimpuh di kaki Dion, membuat Dion refleks langsung berdiri.
“Maaf Tuan, kenapa anda bersimpuh seperti ini? Ayo duduklah dulu,” ajak Dion membantu Ayahnya Shamila untuk duduk.
“Maaf Dion. Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi kamu harus membaca ini,” ucap Mr Anil menyerahkan amplop coklat tersebut kepada Dion.
Dion mengerutkan keningnya, ia masih belum mengerti.
“Apa ini?”
“Bacalah,” sahutnya.
Dion perlahan membuka amplop tersebut, ia membulatkan matanya. Ada nama Shamila tertulis dalam kertas tersebut.
“Shamila? Stadium 4?” tanya Dion yang masih tidak percaya.
Mr Anil mengangguk.
“Aku sudah membawanya berobat kemana-mana tapi susah terlambat, kami tidak menemukan tulang sumsum yang cocok untuknya.”
“Aku butuh bantuanmu. Apapun yang kamu minta aku akan memberikannya, bahkan nyawaku.”
“Apa yang perlu aku bantu Tuan?”
__ADS_1
“Menikahlah dengan anakku, ini permintaan terakhirnya. Aku akan memberikan sebagian perusahaanku untukmu, aku mohon,” ucap Mr Anil dengan mata yang berkaca-kaca sambil menyatukan kedua tangannya.
Tenggorokan Dion terasa kering, hingga ia sulit menelan salivanya.
“Aku mohon,” ucap Mr Anil lagi.
“Ta—tapi kenapa harus menikah denganku Tuan? Bahkan aku tidak sederajat dengan kalian.”
“Itu tidak penting. Yang penting anakku merasakan kebahagiaannya sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya. Shamila mencintaimu, bahkan setiap hari ia menghubungiku hanya untuk menceritakan tentang dirimu.”
“Saya mohon, apapun yang kamu minta akan aku berikan,” ucap Ayahnya Shamila. Ia kembali bersimpuh di kaki Dion.
Dion terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan tanda ia setuju.
“Apa kamu bersedia?” tanya Ayah Shamila memastikannya.
“Iya,” Sahut Dion.
Membuat senyum Mr Anil mengambang, tanpa sadar ia memeluk Dion dan berulang kali ia menyeka air matanya yang hampir terjatuh.
“Terimakasih,” ucap Ayah Shamila dengan suara serak.
Flashback off.
“Aku benar-benar pusing sekarang.”
Dion menyandarkan bahunya ke kursi, lalu mengarahkan wajah ke atas melihat langit-langit rumah.
“Maafkan aku,” lirih Erwin.
Sontak Dion langsung menoleh ke arahnya.
“Aku selalu membebani dirimu. Andai saja aku tidak menolak waktu itu, mungkin aku yang ada di posisimu saat ini.”
“Sudahlah, ini sudah takdirku. Kau tak perlu menyesali itu,” sahut Dion.
“Berarti kamu setuju menikah dengan Shamila?”
“Entahlah!”
“Ikuti kata hatimu,” ucap Erwin.
Dion mengangguk.
“Aku hanya kasihan kepada Shamila, ia hanya ingin merasakan menjadi seorang istri. Aku takut jika kami sudah menikah nanti, aku tidak menjadi suami yang sempurna untuknya.”
“Shamila itu wanita yang lembut hatinya dan aku yakin kamu juga bisa menjadi suami yang baik untuknya.”
“Iya kau benar.”
“Kau istirahatlah dulu, agar menyegarkan pikiranmu ketika bangun besok,” ucap Erwin lembut.
“Tumben sekali kau perhatian kepadaku?!” tanya Dion menatapnya curiga.
“Terserah kau saja!” kesal Erwin dan beranjak dari duduknya.
“Hei, kau mau kemana?”
“Terserah diriku, kau bukan ibu ku yang harus tahu aku kemana!” Ketus Erwin tanpa menghentikan langkahnya.
Dion terkekeh mendengar gerutu Erwin.
Setelah melihat kepergian Erwin, Dion menghela napas berat. Ia beranjak dari duduk dengan langkah lesu menuju kamarnya.
.
__ADS_1
.
.