Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 105


__ADS_3

Di restoran, Dion masih setia menunggu Bosnya sekaligus sahabatnya tersebut.


Sudah hampir satu jam ia menunggu. namun, tidak ada tanda-tanda keluar sejak mengantar Reyhan ke ruangan VIP yang berada di restoran tersebut.


“Apa yang mereka lakukan? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka? Aku ke sana atau tidak?” gumam Dion tampak ragu.


Ia berpikir sejenak.


“Sebaiknya aku ke sana saja, aku terjadi sesuatu dengan mereka.”


Membulatkan tekadnya untuk menyusul Erwin.


Namun, baru beberapa langkah. Ia melihat Erwin yang baru saja keluar dari ruangan VIP tersebut.


Ia memicingkan kelopak matanya, melihat wajah Erwin yang keluar dari ruangan tersebut dengan senyum yang mengambang.


“Kenapa dia tersenyum? Apa dia sudah tidak waras?” gumam Dion penuh curiga.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Erwin melihat Dion yang menatapnya.


“Kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu denganmu?” tanya Dion menempelkan telapak tangannya di kening Erwin.


“Kau ini kenapa?!” ketus Erwin menepis tangan sahabatnya tersebut.


“Tidak. Aku hanya memastikan jika dirimu baik-baik saja.”


“Aku tidak gila!” ketus Erwin.


“Lalu kenapa kau tersenyum seperti orang tidak waras?”


“Kau ini banyak bicara!” bentak Erwin.


“Ini minumlah!” Dion menyodorkan air mineral yang masih bersegel dalam kemasan botol.


Dengan patuh, Erwin meminum air tersebut, karena dirinya juga merasa sangat haus.


“Kau hari ini fiting baju kan.”


“Iya,” sahut Dion.


Sambil mengikuti langkah Erwin menuju parkiran.


“Kau pakailah mobilmu sendiri, aku akan mengantar Nisa pulang.”


“Hah! Jadi ... aku ke kantor jalan kaki?”


“Iya. Sekalian olahraga, kau terlihat sedikit gendut. Ingat! Seminggu lagi kau akan duduk di pelaminan, jadi jangan terlalu gendut!” ejek Erwin.


“Sialan kau!”


“Sana pergi. Kantor kita kan hanya seberang sana,” ucap Erwin menunjuk kantornya yang masih terlihat dari restoran tersebut.


“Cepat pergilah!”


Membuat Dion semakin kesal.


“Awas saja kau!” ancam Dion membuat Erwin terkekeh.


Dion berlalu pergi meninggalkan Erwin.


Di dalam mobil, Erwin memberikan sang sopir beberapa lembar uang untuk memintanya pulang naik taksi.


Karena mobilnya ia pakai untuk mengantar Nisa pulang.


“Pulang lah, bapak juga butuh istirahat. Ini uang untuk naik taksi, mobilnya aku pakai dulu,” ucap Erwin.


“Iya Tuan. Terima kasih.”

__ADS_1


Dengan senang hati sang sopir menerimanya.


Erwin bernapas lega, karena beberapa tahun lamanya. Akhirnya hubungan dirinya dan Nisa kembali membaik, walau masih Hanya sebatas teman.


Erwin kembali mengingat kejadian barusan di ruangan VIP restoran.


Flashback on


“Tunggu!” ucap Nisa melihat Erwin yang hendak keluar.


Erwin menghentikan langkahnya.


“Ada apa?” tanya Erwin dingin.


Ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Nisa.


“Jika kau ingin berdebat, aku akan pulang. Aku tidak ingin mencari keributan disini!”


“A—k ...”


“Kalau masalah Reyhan ikut bersamaku, itu bukan kesalahan Nenek. Reyhan menangis ingin ikut bersama ku ke kantor. Jangan menyalahkan Nenek dalam hal ini, salahkan aku saja,” sela Erwin.


“Aku akan menjauhi Reyhan seperti yang kau minta! Tapi, setelah pernikahan Dion, seminggu lagi. Aku akan pergi dari kota ini!” ucap Erwin tanpa memberi kesempatan untuk Nisa berbicara.


“Jaga diri kalian baik-baik. Oh iya ... aku membelikan Reyhan jam tangan, aku lupa memberikannya. Tolong berikan padanya, untuk hadiah terakhir dariku.”


“Jika kau menolak pemberianku untuk Reyhan. buang saja! Jangan kembalikan padaku.”


Meletakkan jam tangan tersebut di meja.


Nisa menghela napas. Tanpa duga, Nisa malah mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.


Erwin melirik Nisa yang memasukkan jam tangan tersebut, ada senyum terukir di bibir Erwin.


“Aku permisi,” pamit Erwin membalikkan badannya. Melangkah menuju pintu keluar lagi.


“Kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara!”


“Apa lagi yang perlu di bicarakan?! Semua sudah jelas,” ucap Erwin masih bernada lembut namun terlihat dingin.


“Apa kau tidak ingin mendengarkannya dulu? Yang ku bicarakan.”


“Apa lagi yang ingin kau bicarakan?”


“Duduk lah dulu,” ucap Nisa.


Tak seperti biasanya, hari ini Nisa berkata lembut. Biasanya ia selalu dingin dan ketus jika berbicara dengan Erwin selama lima tahun terakhir.


Erwin melangkah untuk duduk di hadapan Nisa, meja kecil jadi penghalang mereka.


“Katakan lah! Aku tidak punya waktu.”


“Maaf,” lirih Nisa.


Erwin mengerutkan keningnya.


“Apa? Aku tidak jelas mendengarnya. Coba katakan lagi,” ucap Erwin karena memang ia kurang jelas mendengarnya.


“Aku minta maaf!” ucap Nisa dengan lantang.


“Aku tidak salah dengar?” tanya Erwin lagi.


Nisa menggelengkan kepalanya.


“Nenek benar. Tidak seharusnya aku menyalahkanmu, atas kepergian suamiku. Aku minta maaf untuk itu,” ucap Nisa masih belum berani menatap Erwin.


“Semua itu sudah berlalu.”

__ADS_1


“Untuk masalah Reyhan, aku mengizinkan mu untuk bertemu dengannya. Maaf sempat melarangmu, karena saat itu aku belum menyadari semua keegoisanku berdampak pada kesehatan Reyhan.”


“Aku mengerti. Aku sudah melupakan semua itu,” sahut Erwin.


“Jadi ... apakah kau memaafkan ku?”


Nisa menatap Erwin dengan perasaan cemas, karena Erwin menggantungkan ucapannya.


“Aku sudah memaafkan mu, walaupun engkau tidak meminta maaf kepadaku.”


Nisa bernapas lega, karena membutuhkan waktu untuk memberanikan dirinya untuk berbicara dengan Erwin.


“Apa kau marah kepadaku?”


Erwin menggelengkan kepalanya.


“Sama sekali?” tanya Nisa.


“Bahkan membencimu saja aku tidak mampu, apalagi untuk marah.”


Membuat Nisa menjadi kurang nyaman.


“Oh ...” sahut Nisa singkat.


“Terima kasih.”


“Terima kasih untuk apa?”


“Untuk semuanya. Terima kasih sudah memberikan kasih sayang sebagai seorang Ayah untuk Reyhan.”


“Aku sudah menganggap Reyhan sebagai anakku sejak masih dalam kandungan. Walaupun aku bukan Ayah kandungnya, tapi kasih sayangku begitu besar kepadanya. Apalagi, mendiang Bara sudah menitipkan kalian kepadaku. Jadi ... jangan berterima kasih, itu adalah tugasku.”


“Baiklah. Aku tidak tahu cara berterima kasih, untuk membalas kebaikanmu. Tapi yakin lah, sungguh beruntung wanita menjadi istrimu nanti, bertemu dengan sesosok pria yang baik dan tulus sepertimu.”


Perkataan Nisa, bagaikan hantaman batu besar tepat mengenai hatinya.


“Aku yang sungguh beruntung, jika mendapatkanmu Nis. Seandainya kau mau memberikan aku kesempatan untukku Nisa, tiada lagi yang membuatku bahagia selain memilikimu,” ucap Erwin dalam hati.


“Kenapa bengong?” tanya Nisa.


“Hah? Tidak. Jangan anggap menjadi beban,” tutur Erwin.


“Baiklah. Percakapan kita, sampai disini saja,” ucap Nisa terkekeh.


“Hah, kau ini,” sahut Erwin juga ikut terkekeh.


“Baiklah, aku akan mengantarmu.”


“Bukankah, kau tidak punya waktu lama?”


“Aku sudah membatalkannya.”


Membuat Nisa menggelengkan kepalanya.


“Baiklah, aku ke toilet dulu,” ucap Nisa.


“Aku akan menunggumu di mobil,” tutur Erwin.


Nisa mengangguk, lalu melangkah keluar untuk mencari toilet. Karena sejak tadi ia menahan untuk buang air kecil.


Erwin bernapas lega, permasalahannya dengan Nisa sudah kembali membaik.


“Aku akan berusaha merebut hatimu lagi,” gumam Erwin melihat punggung Nisa yang mulai menghilang.


Flashback off.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2