Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 85


__ADS_3

Di rumah sakit, Nisa masih setia menunggu suaminya yang masih belum membuka matanya.


“Sayang, kapan kamu membuka matamu? Apa kamu tidak merindukan istrimu?” lirih Nisa.


Beberapa kali ia menyeka air matanya yang mengalir di pipinya.


Nisa berdiri dan mengambil tangan suaminya, lalu mengarahkan ke perutnya.


“Apa kamu merasakannya? Ada anak kita di dalam rahimku, doakan dia agar tumbuh sehat di dalam sana ya.”


Tok... tok... tok, ceklek. Suara pintu terbuka.


“Permisi Nona, maaf mengganggu. Kami ingin memeriksa pasien.”


“Iya silahkan,” sahut Nisa melangkah mundur dan membiarkan Dokter memeriksanya.


Nisa melihat Dokter yang begitu serius memeriksa keadaan suaminya.


“Suami Nona sudah melewati masa kritisnya. Mungkin besok pagi bisa pindah ruangan.”


Nisa masih belum bisa bernapas lega, mendengar ucapan Dokter tersebut.


“Iya Dok, alhamdullilah. Tapi, kenapa suami saya belum sadar hingga sekarang? Ini sudah hampir empat hari, Dok.”


“Masa pemulihan setiap orang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada jenis pendarahan, penyebab, serta apakah penderita tersebut menderita penyakit tertentu. Karena operasi tumor otak ini operasi besar, maka dari itu butuh waktu 2-4 Minggu untuk kembali sadar,” Ucap Dokter menjelaskan secara detail.


Nisa mengangguk paham.


“Terimakasih Dok.”


“Sama-sama. Saya permisi dulu,” pamit Dokter tersebut.


“Iya Dok, sekali lagi Terimakasih banyak.”


Dokter tersenyum lalu mengangguk.


Setelah kepergian Dokter, Nisa kembali duduk di kursi di samping suaminya. Melihat wajah suaminya yang masih tertidur, dengan napas yang beraturan. Tampak jelas terlihat, tumbuh bulu halus di bagian kumis dan dagu suaminya.


“Mas, kamu harus kuat. Yakin kita bisa melewati ini semua, dan membesarkan anak kita bersama-sama mas.”


Cukup lama Nisa berbicara sendiri, seakan suaminya mendengar ocehannya tersebut. Karena sudah lelah, mata Nisa mulai diserang oleh kantuk. Ia beberapa kali menguap.


“Mas, aku tidur dulu ya. Besok lagi kita berbicara,” ucap Nisa sambil mengelus lembut pipi suaminya.


Nisa beranjak dari duduknya, menuju sofa panjang dan membaringkan tubuhnya disana. Tanpa ia sadari, Erwin menatapnya dari balik pintu ruangan sedari tadi.


“Kamu harus sembuh Bara. Nisa begitu sangat mencintaimu,” ucap Erwin dalam hati.


Karena sejak Dokter keluar, ia melihat Nisa yang berbicara tanpa henti kepada suaminya. Membuat Erwin begitu terharu akan ketulusan cinta Nisa terhadap suaminya.


***

__ADS_1


Pagi menjelang, pukul 9.32 pagi. Tampak Nenek melangkah dengan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit. Karena pagi itu, Toni menceritakan jika suami dari cucunya sedang di rawat di rumah sakit.


Kebetulan saat itu, Pak Zaky juga ingin membesuk karyawannya yaitu Bara.


Sesampainya di ruang rawat inap, Nenek langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Nisa menoleh karena mendengar suara seseorang yang membuka pintu.


“Nisa, Nenek,” ucap Nenek dan Nisa bersamaan.


Nisa langsung berdiri, karena ia sebelumnya duduk di sofa hendak memulai sarapan.


Nenek langsung memeluknya erat, dan mencium pucuk kepala Nisa beberapa kali.


“Cucuku,” ucap Nenek dengan suara seraknya.


Nisa mengerutkan kening bingung, ia menatap Toni meminta penjelasan. Namun, Toni menggelengkan kepalanya, biar Nenek Dira yang menjelaskan pikirnya.


“Cucuku. Nenek sangat merindukanmu,” ucap Nenek Dira melepaskan pelukannya.


Terlihat jelas oleh Nisa, jika Nenek Dira menangis.


“Iya Nek, Nisa juga merindukan Nenek,” sahut Nisa dengan lembut.


“Nenek kapan datang? Dari mana Nenek tahu? Jika Nisa berada di rumah sakit.”


Tok... tok... tok. Ceklek pintu terbuka perlahan.


Begitupun Toni tak kalah terkejutnya.


“Pak Zaky. Apa yang Pak Zaky lakukan disini?” tanya Toni melihat Zaky yang masuk.


“Pak Toni dan Nyonya ada disini juga?” ucapnya.


“Seharusnya, aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan disini? Pak Zaky,” Tanya Nenek Dira.


“Saya menjenguk karyawan yang sedang sakit,” sahut Pak Zaky.


“Karyawan? Memangnya dia bekerja di perusahaan kita?” tanya Nenek Dira penasaran.


“Iya. Dia Bara karyawan yang sering aku bicarakan kepada Toni, kinerja nya sangat bagus,” ucap Pak Zaky memuji.


Sukses membuat Nenek Dira dan Toni terkejut, karena sebelum ia mengetahui jika ada karyawan yang baru. Namun, tidak mengetahuinya jika karyawan tersebut adalah Bara. Sama halnya dengan Nisa, ia pun tidak tahu jika suaminya bekerja di perusahaan Nenek Dira.


“Hah! Kamu serius Zaky?” tanya Nenek Dira lagi.


“Saya serius Nyonya.”


“Astaga. Toni apa kau juga tidak mengetahui ini?” tanya Nenek menatap Toni.


“Maafkan saya Nyonya. Kali ini saya lalai.”

__ADS_1


Nisa hanya diam melihat mereka saling melemparkan pertanyaan.


“Maaf. Apa yang Nyonya lakukan disini? Apa nyonya mengenali Pak Bara?”


“Aku ingin bertemu cucuku.”


“Cucu?” tanya Pak Zaky bingung. Sebab, yang ia tahu jika Nenek Dira tidak mempunyai cucu.


“Iya. Ini cucuku,” sahut nenek sambil melihat Nisa.


Nisa tersenyum, ia berpikir jika Nenek Dira menganggapnya sebagai Cucunya.


“Oh,” sahut Pak Zaky singkat.


“Kenapa? Kau tidak percaya?”


“Aku percaya Nyonya.”


“Nona Nisa. Bagaimana keadaan Pak Bara? maaf baru sempat membesuk sekarang.”


“Tidak apa-apa Pak. Saat ini, suami saya sudah melewati masa kritisnya. Minta doanya agar suami saya cepat sembuh, dan diangkat semua penyakitnya.”


“Iya Nona, pasti akan kami doakan. Jadi begini Nona, kedatangan saya kemari hanya ingin menyampaikan, jika perawatan Pak Bara sebagian akan di tanggung oleh perusahaan dan nona...”


“Kenapa hanya sebagian?” sela Nenek Dira.


“Maksudnya nyonya, saya tidak mengerti?” Tanya Pak Zaky.


“Semua biayanya aku yang menanggungnya,” ucap Nenek Dira.


Nisa dan Pak Zaky menoleh ke arah Nenek Dira.


“Nenek, ini terlalu berlebihan nek. Nisa sudah membayar sebagian biaya perawatan mas Bara. Maaf nek aku menolak,” ucap Nisa yang merasa tidak enak kepada Nenek Dira.


“Nisa, Nenek tahu kamu pasti menolak ini. Tapi, apa salah? jika nenek membantu biaya perawatan Suami dari cucu kandung Nenek sendiri.”


Mendengar perkataan Nenek Dira, sontak membuat Pak Zaky dan Nisa kembali terkejut. Erwin yang baru saja tiba pun tak kalah terkejutnya, mendengar ucapan perempuan setengah Baya tersebut.


“Apa nek? Nisa tidak salah dengarkan?” tanya Nisa lagi masih belum percaya.


“Kamu tidak salah dengar cucuku,” ucap nenek tersenyum simpul melihat kebingungan Nisa.


“Kamu memang benar cucuku kandungku,” tambah nenek lagi.


“Cucu kandung?” lirih Erwin yang masih di depan pintu, masih merasa bingung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2