Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 80


__ADS_3

“Hai, kamu kenapa diam?” tanya wanita tersebut.


Seketika Dion langsung tersadar, begitupun dengan Erwin yang mematung di belakang Dion.


Ketika melihat Shamila yang datang, Erwin langsung pergi dan masuk ke kamarnya.


“Shamila?”


“Iya,” sahutnya tersenyum.


“Kau kah ini? Kenapa kau sangat berbeda?”


“Iya, aku hanya ingin memakai pakaian yang tertutup,” sahut Shamila yang mengenakan hijab.


Shamila yang begitu cantik dan anggun, membuat Erwin dan Dion terpesona akan kecantikannya.


“Apa aku boleh masuk?” tanya Shamila.


Sebab Dion hanya mengajaknya berbicara di depan pintu.


“Oh iya maaf, Silahkan masuk.”


“Maaf saya datang terlalu pagi. Pasti mengganggu tidur kalian ya,” ucap Shamila merasa bersalah.


“Iya, tidak apa-apa.”


“Kau ada disini? Bukan kan kau sudah di Indonesia?” tanya Dion.


“Iya. Aku datang bersama Ayahku, saat ini Ayah masih menerima telepon penting. Aku mencoba menghubungimu semalam. Namun, tidak di angkat.”


“Oh itu. Saat itu sedang sibuk, aku tidak mendengar ponselku berbunyi,” sahut Dion berbohong. Karena saat itu ia sengaja mengabaikan panggilan dari Shamila.


Sejak enam bulan terakhir, saat pertemuan pertama antara Shamila dan Erwin. Shamila malah menjadi dekat dengannya, bukannya dengan Erwin orang yang dijodohkan dengannya.


“Aku tinggal ke kamar dulu, sebentar,” Pamit Dion.


Shamila mengangguk, Dion kembali masuk ke dalam kamarnya. Dion membuang napas kasar, sering kali ia menghindar dari Shamila. Bukannya menjauh, malah hubungan mereka semakin dekat.


“Hai,” sapa Erwin yang baru keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Karena setelah melihat kedatangan Shamila, Erwin langsung pergi ke kamar untuk mandi.


“Hai,” sahut Shamila.


“Kau disini? Bukankah kau sudah pulang ke tanah air?”


“Iya. Aku kesini untuk pergi ke rumah sakit, bersama Ayahku,” sahut Shamila.


“Oh ya. Memangnya, siapa yang sakit? Dimana Ayahmu sekarang?” tanya Erwin penasaran.


Belum sempat Shamila menjawab, Ayah Shamila masuk ke dalam rumah.


“Selamat pagi,” sapa Mr Anil.

__ADS_1


“Pagi,” sahut Erwin.


Ia mengerutkan keningnya, melihat wajah pria tersebut sangat mirip dengan Shamila.


Karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu, hanya dengan Shamila dan ibunya saja dan untuk yang kedua kalinya Shamila berkunjung ke apartemennya.


“Erwin, ini Ayahku. Ayah ini Erwin,” ucap Shamila.


Erwin berdiri menyambut uluran tangan Mr Anil.


“Suatu kehormatan bagi saya, anda berkunjung ke apartemen saya,” ucap Erwin.


“Iya Pak Erwin. Maaf jika kedatangan saya terlalu mendadak dan juga terlalu pagi.”


“Tidak apa-apa Mr. Silahkan duduk, aku akan membuatkan minum.”


“Tidak perlu repot Pak Erwin, kedatangan saya kesini hanya sebentar dan ada yang ingin saya bicarakan,” tolaknya.


“Bicara apa Mr? Sepertinya sangat serius.”


“Saya ingin berbicara serius dengan Pak Dion,” ucapnya membuat Erwin mengerutkan keningnya heran.


“Dion?”


“Iya. Itu jika Pak Erwin mengizinkan.”


“Tentu saja boleh. Tunggu sebentar aku akan memanggilnya,” ucap Erwin.


Shamila dan Ayahnya mengangguk, Erwin beranjak dari duduknya menuju ke kamar sahabatnya tersebut.


“Hei cunguk! Kenapa Ayahnya Shamila ingin bertemu denganmu, apa yang kalian rencanakan?!” tanya Erwin penuh selidik.


“Rencana apa? Aku tidak merencanakan apapun! Bahkan aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!” seru Dion.


“Lalu, kenapa Ayahnya Shamila ingin berbicara serius denganmu?”


“Mana aku tahu! Apalagi tempe,” gurau Dion.


“Aku serius bodoh!”


“Aku juga serius!” ucap Dion menatap Erwin.


“Kau ini aneh, kau kan calon menantunya. Kenapa kau bertanya padaku?”


“Aku dan Shamila sudah memutuskan, kami tidak ingin menikah.”


“Apa?” teriak Dion karena terkejut.


“Pelankan suaramu bodoh! kau mau semua orang mendengarkan percakapan kita,” geram Erwin melihat Dion yang berteriak.


“Maaf. Apa kau bilang? Jadi kalian sudah...”

__ADS_1


“Iya,” sela Erwin.


“Aku sudah berbicara kepada Ayahku dan Ayah menyetujuinya.”


“Bagaimana bisa?”


“Iya bisa lah. Karena kami tidak saling menyukai dan tidak ada kecocokan diantara kami.”


“Akhir-akhir ini aku melihatmu begitu dekat dengan Shamila. Apa kau mempunyai hubungan spesial?” tambah Erwin penuh selidik.


“Buang pikiran kotormu itu. Aku sudah berusaha menjauh dari Shamila, bahkan sering kali aku menolak panggilannya. Akan tetapi, ia malah membuat kami saling dekat. Aku juga heran?!”


“Awas saja kau berani mempermainkan dua wanita!” ancam Erwin.


“Aku tidak pernah mempermainkan hati wanita! Kau lihat sendiri, pamanmu yang tidak menyetujui hubungan kami. Padahal aku ingin serius,” sahut Dion tak mau kalah.


“Banyak bicara! Cepat keluar, jangan biarkan mereka menunggu lama. Siang ini kita juga akan bersiap ke bandara.”


“Hm...! kau sendiri yang mengajakku berbicara, kenapa kau yang marah! Dasar aneh, sejak tadi aku sudah mau keluar,” gerutu Dion.


“Aku mendengarnya!” ucap Erwin yang masih di depan pintu kamar.


“Shit! Aku kira dia sudah keluar,” gerutu Dion dalam hati.


Dion mengekori Erwin menuju ruang tamu.


Shamila tersenyum simpul, melihat dua pria tersebut melangkah ke sofa. Namun, tatapan Shamila selalu tertuju pada Dion yang ada di belakang Erwin.


“Ayah, ini Dion,” ucap Shamila antusias melihat kedatangannya.


Mereka berdiri, tak lupa Ayah Shamila mengulurkan tangan terlebih dahulu kepada Dion.


“Saya Ayahnya Shamila,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Dion dengan ramah menyambut uluran tangan tersebut.


“Iya Tuan, saya Dion. Terima kasih sudah mau berkunjung ke apartemen kami.”


“Iya, sama-sama.”


Mereka kembali duduk di sofa.


“Apa boleh saya berbicara empat mata dengan anda, Pak Dion? Mengingat sebentar lagi, saya ada meeting di dekat sini.”


Dion tidak langsung menjawab, ia melihat Erwin terlebih dahulu. Erwin mengangguk pelan, tanda ia mengizinkan.


“Iya bisa. Kita bicara di balkon saja,” ajak Dion.


Mereka melangkah ke arah balkon, Erwin menatap mereka hingga tak terlihat. Ia sangat penasaran apa yang dibicarakan oleh Mr Anil dan sahabatnya tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2