
Di kamar lain, Bara mengerjapkan kedua kelopak matanya. Pandangannya sedikit kabur, karena efek cukup lama menutup matanya.
Nisa yang baru saja keluar dari kamar mandi, karena sudah lega setelah mengeluarkan isi perutnya. Netra Nisa menangkap suaminya yang sudah membuka matanya.
“Mas. Kamu sudah bangun?”
Nisa segera keluar kamar untuk memanggil Dokter.
Tak butuh waktu lama, Dokter tersebut masuk ke kamar dimana Bara di rawat.
“Hai, pak Bara,” Sapa Dokter tersebut.
Namun, Bara tidak merespons.
“Ini berapa?” tanya Dokter tersebut mengangkat dua jarinya.
Bara sedikit memicingkan kedua kelopak matanya, melihat jari Dokter tersebut
“Dua,” lirih Bara.
“Kalau ini, berapa?” tanyanya lagi, menunjukkan lima jarinya. Namun sedikit jauh dari sebelumnya.
Bara diam, tak menjawab lagi. Dokter tersebut menurunkan tangannya, melihat tidak ada respon dari Pasien tersebut.
“Ada apa Dok?” tanya Nisa yang terlihat khawatir.
“Nona, bisa ikut ke ruangan saya? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.”
“Iya, Dok.”
Dokter tersebut lebih dulu keluar kamar inap.
“Sayang, aku tinggal sebentar ya,” Bisik Nisa di dekat daun telinga suaminya.
Cup, Nisa meninggalkan sebuah ciuman di pipi suaminya. Lalu melangkah menuju pintu ruangan tersebut. Langkahnya terhenti, ketika seseorang lebih dulu membuka pintu.
“Nisa, Nenek,” ucap mereka secara bersamaan.
“Kamu mau kemana nak?”
“Aku ke ruangan Dokter sebentar. Apa Nenek tidak keberatan, jika aku menitipkan mas Bara sebentar? Sejak tadi, aku tidak melihat kedatangan Erwin, mungkin masih sibuk,” ucap Nisa.
“Pergilah. Nenek yang akan menjaga Bara, kamu tidak perlu khawatir.”
__ADS_1
“Terimakasih banyak nek. Oh iya, mas Bara sudah siuman. Dokter baru saja memeriksanya,” ucap Nisa sumringah. Karena merasa sangat senang, melihat suaminya sudah membuka matanya kembali.
“Benarkah?”
Nisa mengangguk.
“Nek. Aku pamit dulu, Dokter sedang menungguku,” Pamit Nisa.
“Iya, nak.”
Nenek Dira tersenyum, melihat punggung Nisa yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Nisa tersenyum kembali.
“Toni,” panggil Nenek Dira.
“Iya, nyonya.”
“Apa yang kau lakukan di luar? Cepat masuk, temani aku.”
“Iya, nyonya.”
Toni melangkah masuk, dan menutup kembali pintunya.
Nenek Dira duduk di kursi, tepat di sebelah Bara terbaring. Nenek Dira, begitu prihatin melihat badan Bara yang semakin kurus.
“Nak, Bara. Terimakasih, sudah membahagiakan cucuku. Kamu adalah pria kuat, yakinlah kamu pasti akan sembuh.”
“Apa kamu mendengarku?” tanya nenek Dira, pasalnya Bara hanya menatapnya.
Nenek Dira melihat ke arah Toni, memberi isyarat agar Toni mendekat.
“Iya, nyonya.”
“Kenapa Bara diam saja?” bisik nenek Dira kepada Toni.
“Tuan baru saja siuman, pasca operasi besar. Biarkan Tuan beristirahat, Nyonya.”
“Iya, kau benar,” sahut nenek Dira.
Di tempat lain, Nisa baru saja selesai berbicara dengan Dokter dan baru saja keluar dari ruangan tersebut. Ia terduduk lemas di kursi yang berada di luar ruangan dan begitu shock mendengar penjelasan Dokter, tentang penyakit yang di derita suaminya.
“Ya tuhan. Kenapa jadi seperti ini, apa salah suamiku?” lirih Nisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dengan siku yang bertumpu di kedua pahanya.
Nisa menangis tanpa suara, dengan airmata yang mengalir begitu saja.
__ADS_1
“Cobaan apa lagi ini, ya tuhan,” batin Nisa.
Merasa ada yang memegang bahunya, Nisa dengan cepat menghapus airmatanya menggunakan tangannya.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Huft ..., ternyata kamu. Aku kira siapa.”
“Kau menangis?” tanya Erwin melihat mata Nisa yang sedikit sembab.
“Tidak.”
“Apa terjadi sesuatu dengan Bara?”
“Tidak terjadi sesuatu dengannya. Aku baru selesai berbicara dengan Dokter.”
“Dokter bicara apa?” tanya Erwin begitu khawatir, dengan kondisi Nisa yang sedang mengandung.
“Kamu pasti sudah mengetahui ini kan? Hanya aku yang belum mengetahuinya, padahal aku ini istrinya,” keluh Nisa.
“Nisa ..., bukan begitu. Semua ini ada alasannya.”
“Apa alasannya?!”
Menatap tajam Erwin.
“Nona ...!” teriak Toni yang berlari kecil menghampiri mereka.
“Ada apa?” tanya Erwin.
“Tu-tuan Bara ...”
“Ada apa dengan suamiku?” ujar Nisa. Ia langsung berlari ke ruangan suaminya di rawat.
Di ikuti oleh Erwin dan juga Toni dengan langkah besar mereka.
.
.
.
Maaf, Bab ini author revisi.
__ADS_1
Begitu banyaknya kerjaan, membuat authornya gak fokus untuk menulis.
Terimakasih banyak dukungan kalian semua.🙏🙏