Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 141


__ADS_3

Melihat istrinya membuka pintu, Erwin masuk perlahan. Ternyata istrinya lama membuka pintu, karena Nisa duduk di balkon bersama Reyhan.


“Sayang, kamu marah?” tanya Erwin.


Nisa menatap nya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Erwin menghela napas lega.


“Sayang, maafkan aku.”


Erwin hendak memeluk istrinya, akan tetapi di tahan oleh Nisa.


“Kenapa?” tanya Erwin heran.


“Bagaimana rasanya di peluk mantan kekasih?” tanya Nisa datar.


“Sayang, dia yang memelukku. Aku sudah berusaha menghindar!” pungkas Erwin.


“Masa, aku lihat kau sangat menikmatinya tadi!” ketus Nisa.


“Sungguh sayang! Aku berani bersumpah, bahkan aku risih di peluk olehnya.”


“Benarkah?”


“Iya sayang, sumpah!” Erwin memperlihatkan dua jarinya.


“Iya baiklah.”


Tanpa menunggu lagi, Erwin langsung memeluk istrinya.


“Semua sudah beres sayang, Miranda dan pria itu sudah dibawa oleh polisi!” bisik Erwin.


Nisa mengangguk.


“Iya sudah melihatnya dari balkon,” sahut Nisa membalas pelukan suaminya.


Tangan Erwin hendak merayap masuk ke dalam baju istrinya, dengan cepat Nisa memukulnya pelan.


Plak!


“Tangannya tolong di kondisikan, ada anak kecil di dalam kamar ini!” celetuk Nisa.


“Iya, aku lupa!” ujar Erwin sambil nyengir kuda.


Erwin dan Nisa menemui Reyhan yang duduk di balkon, melihat ke arah jalanan.


“Anak Papa kok melamun! Sedang mikirin apa sayang?” tanya Erwin langsung duduk di sampingnya.


“Pa... Reyhan takut!” sahut Reyhan langsung memeluk Erwin sembari menangis.


Sontak Erwin dan Nisa saling bertatapan.


“Kenapa sayang? Reyhan takut kenapa?” tanya Nisa lembut.


“Rey takut sama orang yang tadi!” ujar Reyhan sambil menangis.


“Sayang jangan takut, ada Papa disini.”


Erwin mengangkat tubuh Reyhan ke pangkuannya dan memeluknya dengan kasih sayang.


Cukup lama memeluk Reyhan, bahkan suara Isak tangis pun tak terdengar lagi.


“Sepertinya Reyhan sudah tidur,” ujar Erwin pelan.


Ia perlahan mengangkat tubuh Reyhan, dan meletakkannya di tempat tidur dengan hati-hati.


“Sayang, apa yang kalian bicarakan di dapur tadi?” tanya Erwin kembali duduk di samping istrinya.


“Aku tidak bicara apa pun, Nenek saja yang banyak bicara dengannya.”


“Sepertinya pria itu mengancam Reyhan! Hingga Reyhan ketakutan seperti itu,” tutur Erwin curiga.


“Entahlah, aku akan tanya pada Reyhan nanti.”


“Hm... tanyakan dengan hati-hati.”


Nisa mengangguk.


“Apa hubby sudah makan?” tanya Nisa.


“Sudah. Tapi...” menggantungkan ucapannya.


“Tapi apa?” tanya Nisa penasaran.


“Tapi, aku belum memakan mu,” tutur Erwin langsung menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke kamar mereka dan mengacak acak tubuh istrinya di dalam kamar.


***


Seminggu sudah berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Nisa dan Erwin. Sebelumnya mereka memang sudah menikah secara siri, akan tetapi belum tercatat di negara namun sah secara agama.


Saat ini mereka kembali menikah secara resmi dan menggelar resepsi pernikahan yang cukup mewah.


Semua orang yang mereka kenal di undang, mulai dari karyawan kantor mereka hingga rekan bisnis penting, bahkan sahabat mereka pun ikut turut hadir dalam pernikahan mereka.


Yang paling antusias dalam pernikahan ini adalah nenek dan Reyhan. Walaupun usia sudah tidak muda lagi, ia membawa cicitnya berdansa seperti yang lainnya.


Pukul sebelas malam, acara pernikahan mereka selesai. Reyhan ikut Omanya ke rumah mereka, sedangkan nenek pulang bersama Toni.


Sementara Nisa dan Erwin menginap di hotel tersebut, dari siang hingga malam, tamu undangan tak berhentinya memberi selamat kepada mereka.


“Cape?” tanya Erwin melihat wajah Nisa.


“Iya,” lirihnya.

__ADS_1


Sambil memijat perlahan kakinya sendiri karena merasa pegal.


“Berbaring lah, aku akan memijat mu,” perintah Erwin.


Nisa sejenak menghentikan aktivitasnya, lalu menggeleng.


“Tidak perlu, Hubby juga cape.”


“Cepat berbaringlah,” ujar Erwin sedikit memaksa.


Karena melihat suaminya memaksa, Nisa langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.


“Apa enak?” tanya Erwin.


“Iya, sayang. Enak sekali, disini juga!” ujar Nisa menepuk bahunya.


Erwin menurutinya, bahkan memijat istrinya hingga tertidur. Melihat Nisa sudah menutup matanya, Erwin menghentikan pijatannya.


Menatap istrinya yang tidur dengan napas yang beraturan, bahkan terdengar dengkuran kecil.


“Dia benar-benar sangat lelah,” gumam Erwin.


Sebelum membaringkan tubuhnya, ia terlebih dahulu memberi ciuman di kedua pipi istrinya. Lalu menyusul istrinya ke alam mimpi, tidak ada aktivitas yang mereka lakukan seperti pengantin pada umumnya.


***


Dirumah kebesaran Erwin.


Mami menidurkan Reyhan di kamar mereka, suaminya juga ikut berbaring di tempat tidur karena merasa lelah seharian menyambut tamu.


“Akhirnya Pi, anak kita menikah juga. Ah Mami, sudah tidak sabar menunggu cucu Pi,” ujar istrinya.


“Iya, sabar mi. Baru di cetak beberapa Minggu hehehe...” sahut suaminya terkekeh.


“Iya ya, hahaha...” mereka tertawa bersama.


“Oma, cetak apa sih oma?” tanya Reyhan ternyata belum tidur.


“Astaga Pi, cucu kita yang ganteng belum tidur ternyata.”


“Cetak buku sayang,” sahut papi Erwin menjelaskan kepada Reyhan.


“Apa Reyhan ingin menjadi penulis? Seperti Aunty Sifa?”


Tampak Reyhan berpikir, Aunty Sifa adalah adik perempuan Erwin.


“Reyhan ingin seperti Papa saja,” sahut Reyhan.


“Itu juga bagus sayang. Kalau Reyhan sudah besar, Reyhan yang akan menggantikan opa dan Papa di kantor.”


“Siap bos,” sahut Reyhan.


“Sekarang sudah larut malam, Reyhan tidur ya,” tutur Oma.


“Mi, aku sangat haus. Bisakah aku minta tolong ambilkan aku air putih?”


“Iya Pi, sebentar ya.”


Bu Anita beranjak dan membuka pintu kamar. Ia melangkah hendak menuruni tangga, akan tetapi langkahnya terhenti ketika samar-samar mendengar suara seorang perempuan menangis dan suara tersebut berasal dari kamar Dion.


Karena rasa penasarannya, ia mengetuk pintu Dion yang sedikit terbuka.


Tok! Tok!


“Dion, apa kalian sudah tidur?” tanya Bu Anita pelan.


“Iya mi,” sahut Dion.


Dion membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Bu Anita masuk.


“Mami dengar ada suara orang menangis dan berasal dari...” ucapannya terhenti ketika melihat wajah Nadia yang sembab terlihat habis menangis.


“Ada apa? Kenapa Nadia menangis? Dion, apa yang kau lakukan padanya?!”


“Aku tidak melakukan apapun Mi, sumpah.”


“Lalu kenapa dengannya?”


“Nadia minta rujak cingur Mi, malam-malam begini tidak ada yang jual. Aku akan membelinya besok, Nadia malam menangis.”


“Rujak cingur?” tanya Bu Anita heran.


Nadia mengangguk.


“Astaga, kau mengidam?” tanya Bu Anita antusias.


Nadia menggeleng.


“Aku tidak tahu Mi.”


Dion juga mendengarnya sedikit bingung.


“Apa kau sudah datang bulan?” tanya Bu Anita.


Nadia berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


“Mami yakin kalau kamu itu sedang mengandung, besok pagi kau harus mencobanya dengan menggunakan tespack.”


“Iya Mi,” sahut Nadia.


“Kau, harus mencari rujak cingur hingga ketemu. Apa kau mau anakmu nanti ileran? Karena kemauannya tidak dituruti!”

__ADS_1


Dion masih tampak bingung, bahkan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Maksud Mami apa sih?” tanya Dion bingung.


“Huft... istrimu itu sedang hamil,” tutur Bu Anita.


Dion menatap istrinya dan maminya secara bergantian, lalu tersenyum penuh.


“Benarkah sayang? Ya Tuhan, aku akan menjadi Ayah.”


Dion langsung memeluk Bu Anita.


Plak!


“Kenapa kau memeluk Mami? Seharusnya peluk istrimu terlebih dahulu,” celetuk Bu Anita.


“Oh iya ya.”


“Tapi, ini belum pasti sih! Maka dari itu besok pagi Nadia harus mengetesnya sendiri, semoga hasilnya positif.” ujar Bu Anita.


“Iya Mi,” sahut Nadia.


“Kau, cepat pergi carikan rujak cingur. Apa kau mau anakmu nanti...”


“Iya Mi. Larut malam begini apa ada yang jual?”


“Mami gak tahu. Kau yang berbuat jadi kau harus bertanggung jawab,” pungkas Bu Anita menatapnya.


“Iya Mi,” sahut Dion pasrah.


Bu Anita dan Nadia terkekeh melihat Dion yang terpaksa melangkah keluar kamar.


“Istirahat lah sayang,” ujar Bu Anita lembut.


Nadia mengangguk.


Bu Anita berpamitan keluar kamar tersebut, mengekori belakang Dion yang masih menuruni tangga.


“Mi,” panggil Dion berbalik badan.


“Apa?”


“Dimana aku mencarinya jam segini Mi?”


“Huft... kau bisa kan memesan melalui aplikasi, bukan!”


Dion menepuk keningnya, ia baru ingat jika ada aplikasi ya g menjual berbagai macam makanan.


“Astaga, aku benar-benar melupakan itu.”


“Makasih Mi,” ujar Dion antusias.


“Iya,” sahut Bu Anita tersenyum.


Bu Anita kembali melanjutkan langkahnya, untuk ke dapur.


Ia membawakan air putih di dalam teko dan serta gelasnya, untuk di bawa ke kamar. Sesampainya di kamar, suaminya protes karena menunggunya lama, padahal dirinya sudah sangat haus.


“Kok lama sih mi?” protesnya.


“Iya, maaf. Aku baru saja dari kamar Dion.”


Sambil menuangkan air ke dalam gelas.


“Kenapa dengan Dion?” tanyanya lagi mengambil gelas di tangan istrinya.


“Bukan Dion. Tapi istrinya,” sahut Bu Anita.


Ayahnya Erwin meneguk air hingga menghabiskan air yang ada di dalam gelas tersebut.


“Hah, segarnya.”


Merasa lega, karena tenggorokannya yang kering sudah basah kembali.


“Sepertinya sangat haus sekali,” Ujar istrinya.


“Iya. Jadi, kenapa dengan Nadia?” tanyanya penasaran.


“Sepertinya, Nadia sedang mengandung.”


“Benarkah? Wah, ini berita bahagia. Aku akan memberitahu ayahnya!” ia mengambil ponselnya, hendak menghubungi ayahnya Nadia, namun di tahan oleh istrinya.


“Ini masih belum pasti. Kita akan mengetahui hasilnya besok pagi.”


“Kenapa harus besok pagi?”


“Ya gak tahu. Mungkin air seni pagi lebih akurat,” sahutnya.


“Ooh...”


Ia meletakkan kembali ponselnya yang sempat ia ambil.


“Bagaimana? Apa cucu kita sudah tidur?” tanya Bu Anita ikut bergabung bersama suaminya.


“Iya, sudah tidur. Sepertinya, Reyhan sangat kelelahan.”


“Iya Pi. Ayo kita juga tidur, mami juga sangat lelah,” ajak Bu Anita pada suaminya.


Mereka tidur sambil memeluk Reyhan yang ada di tengah mereka. Walaupun Reyhan bukan anak kandung dari Erwin, mereka tidak membeda bedakannya dan menyayangi seperti cucu mereka sendiri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2