
“Mau apa kamu?” tanya Nisa melihat Bara berjalan ke arahnya sambil membuka kancing kemeja satu persatu.
“Kau pikir aku mau apa?” tanya Bara melepaskan bajunya dan membuangnya ke sembarang arah.
Namun, pandangannya masih tak lepas kepada sang istri. Bara juga membuka celananya dan hanya menyisakan celana boxernya saja.
Melihat suaminya hanya memakai ****** *****, Nisa menelan ludah kasar. Perlahan dirinya melangkah mundur, hingga terbentur dengan dinding. Ada rasa takut di wajahnya, namun ia berusaha menyembunyikannya.
“Mas, kamu mau apa?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Diam...!! Kau banyak bertanya sejak tadi! Sekarang giliranku,” ucapnya menatap istrinya.
Bara mendekati istrinya, sangat dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka, Bara memegang kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya, agar lebih jelas melihat wajahnya. Tidak ada percakapan diantara mereka, hanya saling memandang satu sama lain.
Mata bertemu mata, bibir keduanya hampir saja menyatu. Namun, tidak benar-benar menyatu.
“Jangan mendiamkan ku seperti ini! Jika ada yang mengganjal dihati mu, katakan padaku,” ucap Bara yang masih menatap istrinya.
Tampak cairan bening, yang lolos begitu saja dari mata istrinya.
“Sayang, jangan menangis.”
Dengan nada lembut, sambil mengusap air mata istrinya dengan tangannya.
“Apa semua ini ada hubungannya dengan Paman? Apa yang Paman katakan kemarin?”
Pertanyaan Bara membuat Nisa semakin kencang menangis, Bara langsung memeluk istrinya dengan erat.
“Menangis lah jika itu membuatmu lebih tenang,” ucap Bara lembut sambil mengelus lembut kepala istrinya.
Merasa istrinya sudah tenang, Bara membawa istrinya untuk duduk di tepi ranjang.
“Ini minumlah dulu,” menyerahkan segelas air putih yang tersedia di nakas.
Nisa meminumnya hingga menghabiskan setengah gelas.
“Mas, hiks, hiks, maafkan aku.”
Nisa kembali memeluk suaminya.
“Sudah, lupakan. Apa kau tahu? Betapa tersiksanya aku, semalaman kau mendiamkan ku! Jangan seperti ini lagi,” ucap Bara.
Membuat Nisa kembali merasa bersalah.
“Sudah, jangan menangis lagi! Kau sangat jelek jika begini,” Ucap Bara melepaskan pelukannya.
“Jika kau tidak ingin cerita, itu tidak jadi masalah.”
Bara mengangkat dagu istrinya, mencium beberapa kali di bibir istrinya. Karena tidak tahan dengan melihat bibir seksi istrinya, ditambah pakaian Nisa membuatnya semakin tergoda.
“kau pagi ini menggodaku, aku tidak tahan lagi ingin memakanmu,” bisik Bara.
Membuat wajah Nisa bersemu merah.
Bara Kembali menggeluti istrinya dan mengacak-acak tubuh istrinya di atas ranjang. Mereka sama-sama menikmati indahnya surga dunia.
Di kamar sepasang suami istri ini, dipenuhi dengan suara-suara indah yang saling bersahutan.
Setelah merasa puas bermain di atas sana, mereka mengakhirinya. Nisa memeluk suaminya dalam keadaan tanpa memakai sehelai benang pun, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.
“Kau tidak mau menceritakannya, tapi aku yang akan mencari tahu!” ucap Bara dalam hati.
Bara berulang kali mencium pucuk kepala istrinya, melihat sang istri memejamkan mata, Bara berpikir istrinya tertidur.
Perlahan Bara melepaskan tangan istrinya yang melingkar di perutnya, merasa ada pergerakan Nisa membuka matanya.
“Mau kemana mas?” tanya Nisa.
“Kau bangun? Aku hanya ingin mengambil ponselku, aku mengirim pesan jika hari ini aku tidak bekerja,” ucap Bara kembali seperti semula.
__ADS_1
Nisa mengerutkan keningnya bingung.
“Bekerja? Bukankah hari minggu tidak bekerja mas,” ucap Nisa heran.
Bara terdiam sejenak, mengingat apa yang istrinya ucapkan.
“Astaga!” seru Bara menepuk dahinya.
“Hari ini hari Minggu?” tanya Bara memastikan.
Nisa mengangguk.
“Kenapa aku bisa lupa? Jika hari ini Minggu,” gumam Bara.
“Karena kamu sudah tua,” ejek Nisa terkekeh.
“Kau ini! Kalau sudah tua memang kenapa? Aku tetap suamimu,” ucap Bara dengan menyatukan kening mereka.
“Iya, iya,” sahut Nisa terkekeh.
“Mandilah, aku akan mengajakmu jalan-jalan,” perintah Bara.
“Kemana?”
“Kita jalan kemana saja yang penting jalan.”
“Mengukur jalanan?” goda Nisa.
“Kau ini banyak bicara! Jangan salah jika aku mengulangnya kembali, aktivitas yang baru saja selesai kita lakukan,” ancam Bara dengan menyeringai licik.
“Huh, dasar!” ucap Nisa memukul pelan dada bidang suaminya. Lalu beranjak dari tidurnya, pergi masuk ke kamar mandi dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Bara yang melihat tingkah istrinya, membuatnya terkekeh. Bara beranjak dari tempat tidur, mengambil pakaian santai di lemari.
Bara keluar kamar, menuju ke dapur. Mengambil sarapan untuk mereka sarapan di kamar.
Bara kembali ke kamar, dengan membawa nampan yang berisi makanan. Saat membuka pintu kamar, bersamaan dengan istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Iya sayang, kita sarapan dulu.”
Nisa mengambil nampan dari tangan suaminya, dan meletakkannya di meja. Nisa mengambil pakaiannya terlebih dahulu, karena setelah keluar dari kamar mandi, dirinya hanya memakai kimono.
Terdengar suara getar ponsel di nakas, getaran tersebut berasal dari ponsel Nisa.
Drrttt, drrtt!
“Siapa yang menghubungimu sepagi ini?” tanya Bara menatapnya dengan lebih selidik.
“Ak—aku tidak tahu,” sahut Nisa tampak gugup melihat tatapan suaminya.
Bara mengambil ponsel milik istrinya, melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
“Paman..,” gumamnya melihat istrinya.
“Ada apa Paman menghubungimu? Cepat angkat! Dan nyalakan sepikernya,” Perintah Bara.
“Aak—uu..!” wajah nya yang tampak gelisah.
“Apa lagi yang kau pikirkan? Cepat angkatlah!” perintah Bara dengan penuh penekanan.
Nisa tampak ragu mengambil ponsel dari tangan suaminya.
“Cepat angkat!” Dengan sedikit membentak.
Nisa langsung menggeser tombol hijau yang ada dilayar ponselnya.
“Ha—halo Paman,” jawab Nisa terlihat gugup, karena suaminya sejak tadi menatapnya.
“Halo Nisa. Kenapa suaramu seperti gugup? Oh iya, Paman hanya ingin memberitahumu. Kita akan bertemu di restoran xx, pastikan Bara tidak mengetahui hal ini!”
__ADS_1
Nisa melihat Bara mengangguk tanda setuju.
“Iya Paman,” sahut Nisa singkat.
“Baiklah. Sampai bertemu di restoran jam 12 siang nanti, ingat!! Jangan sampai Bara tahu, jika Bara sampai mengetahui hal ini. Janin yang di dalam kandungan ibunya yang akan menerima akibatnya,” ancam pamannya, membuat Nisa menelan ludah kasar.
“i—iya Paman,” sahut Nisa lagi.
Nisa melihat suaminya tersenyum kepadanya.
“Mas, kamu marah?” tanya Nisa, sebelum itu ia memastikan ponselnya mati terlebih dahulu.
“Tidak. Aku sudah mengerti semuanya, kenapa istriku ini sangat marah kemarin,” sahut Bara.
“Maafkan aku mas,” ucap Nisa dengan wajah sedihnya.
“Sudah, lupakan. Ayo kita sarapan di balkon,” ajak Bara menggandeng tangan istrinya.
***
Di Singapura, Dion tampak bingung dan tak henti-hentinya mengumpat, mencari keberadaan sahabatnya.
“Kemana si cunguk ini?” gerutu Dion beberapa kali menghubungi sahabatnya, yang tidak kunjung diangkat.
“Sialan, dimatikan!” geram Dion.
“Awas kau jika ketemu! Aku ku kremasi kau hidup-hidup!” geram Dion hendak membuka pintu .
Saat membuka pintu Apartemen, tampak wajah Erwin yang menatapnya heran.
“Mau kemana kau?” tanya Erwin menatap sahabatnya yang tampak kusut.
“Harusnya aku yang bertanya?! Kau dari mana? Bukankan kau tahu hari ini ada meeting penting, hah!” ucap Dion meninggikan suaranya.
“Aku hanya pergi sebentar, tidak mungkin hilang dan meninggalkanmu,” Ucap Erwin tanpa merasa bersalah.
“Iya. Tapi aku sudah berulang kali menghubungimu, kenapa kau matikan? Apa kau tidak tahu? betapa khawatirnya aku!”
Dion menatapnya kesal.
“Benarkah? Kau So Sweet sekali,” goda Erwin dengan bergaya gemulai.
“Ish, najis! Dasar tidak waras!” gerutu Dion meninggalkan Erwin masuk ke dalam kamar.
Membuat Erwin tertawa lepas.
“Jam berapa kita meeting?” Tanya Erwin mengekori Dion.
“Jam sembilan!” ketus Dion.
“Kau ini selalu saja marah-marah! Kalau bertemu Nadia saja kau tersenyum lebar membahana,” ucap Erwin melempar bantal ke wajah Dion, lalu berlari kecil masuk ke kamar mandi.
“Sialan!” umpat Dion.
Nadia adalah adik sepupu dari Erwin, gadis yang baru menginjak dewasa berwajah cantik dan manis yang tinggal di Singapura saat ini bersama kedua orang tuanya.
Ting.., Ting.. suara bel berbunyi.
“Siapa yang datang lagi!” gerutu Dion berjalan keluar kamar.
Saat membuka pintu, tampak seorang gadis yang sedang tersenyum manis ke arahnya, membuat Dion melihatnya tanpa berkedip dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Hai kak Dion,” sapanya dengan suara lembut.
Plak, suara pukulan yang cukup keras dibahunya dari arah belakang, membuatnya terkejut merasakan sedikit sakit dibahunya.
.
.
__ADS_1
.