
Di kamar Dion.
Dion tidak bisa memejamkan kedua matanya, entah apa yang membuatnya begitu gelisah, ia melirik ke sampingnya. Istrinya begitu pulas tidur.
Dion menggeserkan tubuhnya, mulai dari miring ke kanan dan ke kiri. Terlentang lalu tengkurap, tapi tetap saja matanya tidak bisa tidur.
Merasa ada pergerakan, Nadia membuka matanya. Karena pergerakan tersebut merasa tidurnya terganggu.
“Kenapa sayang? Kok belum tidur,” tanya istrinya dengan suara serak.
“Entahlah, mataku tidak bisa tertutup. Apa mungkin aku lapar?”
“Mau makan?” tanya istrinya.
“Apa aku tidak merepotkanmu?”
Nadia menggelengkan kepalanya.
“Terimakasih sayang.”
“Iya. Tapi, temani aku.”
“Ayo,” ajak Dion.
Dion dan istrinya beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju ke dapur.
Dion duduk di kursi, menemani istrinya memasak untuk dirinya.
Beberapa menit kemudian, Nadia menyajikan telur dadar beserta nasi hangat di hadapan suaminya.
“Makanlah,” ucapnya.
“Terimakasih sayang.”
Dion mengambil sendok, lalu makan dengan lahap.
“Mau?” tanyanya melihat istrinya yang sedang menatapnya makan.
Nadia menggelengkan kepalanya.
Melihat istrinya menggelengkan kepalanya, Dion Kembali makan hingga menghabiskan makanan tersebut.
“Lapar?”
“Sepertinya begitu,” sahut Dion terkekeh.
Dion meletakkan piring kotor di wastafel, lalu mengajak istrinya kembali ke kamar.
“Kembali lagi tidur sayang, maaf membuat tidur mu terganggu.”
“Iya kak. Jangan meminta maaf, ini sudah kewajiban istri.”
Setelah tiba di kamar, Dion mengunci pintu kamarnya. Karena baru saja mengisi perutnya, Dion tidak langsung berbaring, karena tidak baik untuk kesehatan.
Ia duduk di sofa, sambil membuka layar ponselnya.
Istrinya yang semula ingin kembali tidur, akan tetapi ia tidak bisa memejamkan matanya kembali.
Melirik suaminya yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, terbesit di pikirannya ingin menggoda suaminya.
“Mau kemana?” tanya Dion melihat istrinya beranjak dari tempat tidur.
“Mau duduk,” sahutnya langsung duduk di pangkuan suaminya.
“Aku tidak bisa tidur.”
“Jadi...” istrinya memberi tatapan menggoda.
Ia perlahan membuka kancing baju suaminya, setelah semua terbuka ia pun membuka kancing bajunya hingga terbuka dengan sempurna.
Dion mengernyit kening heran, untuk pertama kalinya istrinya bertindak duluan.
Karena merasa tertantang, Dion tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Momen langka baginya, melihat istrinya bertindak terlebih dahulu.
Dion menggendong istrinya untuk ke tempat tidur, tentunya tidak melepaskan pagutan mereka.
Mereka melakukan malam yang indah, hingga akhirnya mereka tertidur akibat kelelahan dengan aktivitas panas mereka.
__ADS_1
***
Jam tiga dini hari, Erwin terbangun. Karena merasakan tenggorokannya kering, ia perlahan menggeserkan tubuhnya agar tidak membangun istrinya yang tertidur pulas.
Erwin melangkah ke dapur untuk mengambil air, lalu duduk di kursi untuk meminum air tersebut. Ia menghabiskan segelas air putih, untuk membasahi tenggorokan yang kering tersebut.
Lalu ia kembali lagi ke kamar, melihat istrinya sudah berubah posisi.
Erwin tersenyum melihat wajah wanita yang baru saja menjadi istrinya itu.
“Tidur saja wajahmu sayang cantik, sayang,” gumam Erwin menatap wajah Nisa.
Erwin mengelus pipi mulus Nisa, pandangannya tertuju pada bibir ranum istrinya.
Ia ingin sekali mencicipi benda tersebut. Namun, ia juga ragu karena pasti akan membangunkan istrinya.
“Sayang,” bisiknya.
“Hm...” gumam Nisa dengan suara seraknya.
“Reyhan, Mama cape. Biarkan Mama tidur,” gumamnya lagi dengan mata yang masih tertutup.
“Ternyata dia berpikir aku Reyhan,” ujar Erwin dalam hati.
“Baiklah. Malam ini, aku biarkan dirimu tidur nyenyak. Tapi besok, tidak akan ku biarkan kau tidur!” tambahnya lagi.
Erwin menarik selimut, ia memeluk istrinya dan kembali tidur hingga pagi hari.
Di pagi hari.
Nisa mengerjapkan kedua matanya, ia merasakan sesuatu yang berat di atas perut.
Nisa menggeliat, karena badannya terasa sangat pegal.
“Tangan siapa ini?”
Melihat tangan dewasa melingkar di perutnya.
Ia melirik ke sampingnya, melihat wajah Erwin yang masih tertidur pulas.
“Erwin? Kenapa aku bisa tidur dengannya?”
“Erwin kau...”
Ucapannya terhenti, saat ingin membangunkan Erwin. Ia baru mengingat jika dirinya dan Erwin sudah menikah kemarin malam.
“Astaga! Aku hampir saja lupa,” gumamnya menepuk kening.
Ia terkekeh, apalagi mengingat semalam ia di paksa harus menikah.
Sebenarnya, dirinya juga ingin menikah dengan Erwin. Namun, tidak ingin mendadak seperti kemarin malam.
Nisa membalikkan tubuhnya, agar lebih leluasa melihat wajah Erwin yang begitu tampan.
Bibirnya terlihat sedikit berwarna pink, di tambah wajahnya yang putih bersih mulus.
“Sudah puas menatap wajahku?” gumam Erwin.
Sedikit menjauh, karena mendengar gumam Erwin.
“Eh... mau kemana? Kemari mendekat,” ujarnya menarik kembali tubuh istrinya, hingga tidak ada jarak.
“Apa aku sangat tampan? Sehingga membuatmu, menatapku sambil tersenyum.”
Nisa seperti ingin lagi ke lubang semut, karena sangat malu. Dirinya di ketahui oleh Erwin, jika ia sedang menatapnya.
“Tentu saja, aku sangat tampan.”
“Kau ini! Tanya sendiri, jawab sendiri!” gerutu Nisa.
Erwin terkekeh.
“Apa kau tahu?”
“Tidak,” sahut Nisa singkat.
“Aku sangat merindukanmu, selama tiga Minggu lebih aku berusaha untuk melupakanmu. Tapi, aku tidak bisa.”
__ADS_1
“Apa kau sama sepertiku?” tanya Erwin.
Nisa menggeleng.
“Kau berbohong? Kalau tidak merindukan aku, tidak mungkin menyusulku kemari.”
Lalu Nisa mengangguk pelan.
Erwin mendekatkan wajah, sehingga tidak ada jarak. Kening mereka saling bertemu, bahkan napas mereka pun saling bertabrakan.
Kali ini Nisa menutup matanya terlebih dahulu, Erwin yang mengerti langsung menyatukan bibir mereka.
Awalnya bibir mereka hanya menempel, lama-lama menjadi sebuah luma*an.
Suara-suara indah, terdengar mengisi kamar tersebut. Beruntung, kamar tersebut kedap suara, hingga tidak terdengar hingga keluar kamar.
Akhirnya, Erwin telah berhasil meletakkan benih-benih cinta di rahim istrinya tersebut.
Pergumulan panas mereka telah usai, mereka saling berpelukan satu sama lain. Tanpa memakai sehelai benang pun, hanya selimut tebal menutupi tubuh mereka.
Karena aktivitas tersebut membuat mereka kelelahan, hingga tidur kembali dengan posisi tubuh yang saling berpelukan.
Erwin berdecap kesal, karena ada yang menekan bel pintu berulang kali.
“Ck... sialan! mengganggu saja!” umpatnya.
Umpatannya tersebut, membuat istri yang ada di pelukannya tersebut terbangun.
“Ada apa?”
“Maaf, aku mengganggumu. Tidur lagi, aku harus membuka pintu dulu. Entah siapa yang mengganggu pagi-pagi begini!”
Sebelum ia keluar kamar, ia mengenakan pakaiannya terlebih dahulu.
Lalu melangkah keluar kamar, untuk melihat siapa yang menekan bel sepagi ini.
Ceklek!
“Hai, pengantin baru,” sapa Dion.
“Sialan! Kau mengganggu tidurku. Ada apa kau bertamu sepagi ini?”
“Helo... hari sudah menjelang siang, kau bilang ini masih pagi? CK... coba lihat ini jam berapa?”
Dion memperlihatkan waktu di layar ponselnya.
“Jam 10.04,” gumam Erwin.
“Iya. Sekarang cepat tanda tangan ini, aku harus ke kantor. Oh, ya... apa hari ini Nisa pulang?”
Erwin mengambil berkas tersebut, lalu mengangguk.
“Pulang bersamamu atau sendiri?”
“Apa pekerjaan kita selesai hari ini?” tanya Erwin.
“Pergilah bersama istrimu. Putramu masuk rumah sakit dan saat ini sudah di tangani Dokter,” ucap Dion.
“Apa? Kau serius?”
“Iya. Toni baru saja menghubungiku, karena ia sudah berulang kali menghubungi. Tapi, tidak di angkat olehmu.”
“Pesan kan aku tiket sekarang, aku dan Nisa akan bersiap.”
“Sudah. Tapi, sebelum berangkat, tanda tangani semua berkas penting ini.”
“Ck... banyak sekali!” gerutu Erwin melihat tumpukan berkas di tangan Dion.
“Kalau saja aku bisa menandatangani nya, aku tidak perlu repot membawanya kemari! Kau ini banyak sekali mengeluh!”
“Iya, iya. Kau ini, seperti sedang datang bulan! Selalu marah-marah.”
“Berisik!” kesal Dion.
.
.
__ADS_1
.