Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 142


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari tampak tidak malu-malu menampakkan dirinya. Bahkan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai yang sedikit terbuka.


Nadia mengerjapkan kedua matanya, melihat ke sampingnya. Dion masih tertidur pulas, sambil memeluknya.


Nadia perlahan memindahkan tangan suaminya, agar tidak membangunkannya.


Ia melangkah menuju kamar mandi, sebelum itu ia mengambil tespack terlebih dahulu di dalam laci yang sebelumnya ia pesan melalui aplikasi Online.


Nadia menyiapkan wadah, setelah itu ia meletakkan benda tersebut di dalam gelas kecil yang berisi air seninya.


Beberapa menit kemudian, Nadia memperhatikan garis tersebut masih garis satu. Lalu ia mengambil lagi tespacknya dan meletakkan kembali.


Menunggu beberapa menit, garis dua tersebut samar-samar terlihat.


Nadia tampak gugup, menunggu hasilnya.


Ia mencobanya lagi untuk yang ketiga kalinya, kali ini Nadia membiarkannya lebih lama. Wajah Nadia tampak sumringah, melihat garis dua yang terlihat.


“Alhamdullilah,” ucap Nadia dalam hati.


Ia membawa hasil tespack tersebut keluar, ia ingin menunjukkan kepada suaminya yang masih tertidur pulas.


“Sayang, bangun sudah pagi,” bisik Nadia.


“Hm...” gumam Dion.


“Kak, bangun dong. Cepat!” bisik Nadia lagi.


“Apa sih sayang. Aku masih mengantuk, kau tidak membiarkan ku tidur semalam,” gumam Dion dengan suara seraknya sembari menarik selimut lagi.


“Baiklah, kalau begitu aku sendiri saja yang ke dokter, untuk melihat anak kita.”


Mendengar kata anak, Dion langsung membuka matanya.


“Apa maksudmu? Anak, anak siapa yang kau bicarakan?” tanya Dion.


“Malas, tadi kakak gak mau bangun!” ketus Nadia mengambil pakaiannya di dalam lemari.


“Sayang, kenapa marah?”

__ADS_1


Dion beranjak dari tempat tidur, langsung memeluk istrinya yang sedang cemberut.


“Maaf sayang,” ucap Dion lembut.


“Ini,” ujar Nadia menyodorkan tespack tersebut ke Dion.


Dion menyipitkan kelopak matanya.


“Apa ini?” tanya Dion.


“Itu tespack!”


“Untuk apa?” tanya Dion bingung, karena ia memang belum pernah melihat benda tersebut.


“Itu untuk mengukur suhu panas,” gurau Nadia.


“Memangnya suhu badanmu panas? Istriku sakit?” tanya Dion cemas.


Ia meletakkan telapak tangannya di kening istrinya.


“Ih! Bukan sayang, aku hanya bercanda.”


“Ini alat tes kehamilan.”


“Hamil?” tanya Dion.


“Iya. Kalau garisnya dua, berarti positif dan kalau garis satu artinya negatif,” tutur Nadia menjelaskan.


“Itu garisnya berapa?” tanya Nadia.


Dion memperhatikan tespack tersebut, ia melihat garis dua akan tetapi satunya masih samar-samar.


“Dua,” sahut Dion polos.


“Jadi...”


“Jadi, positif.”


Dion terdiam sejenak.

__ADS_1


“Positif? Sayang, kau hamil?” tanya Dion memastikan.


Nadia mengangguk cepat sambil tersenyum.


“Alhamdullilah sayang. Kita akan menjadi orang tua,” ucap Dion.


Tanpa sadar ia menitikkan air mata, dengan cepat ia menghapusnya agar tidak terlihat oleh istrinya. Namun terlambat, Nadia sudah melihatnya.


“Kakak menangis?” tanya Nadia.


“Ini tangis bahagia sayang. Terimakasih sudah mau mengandung anakku,” ujar Dion menatap istrinya penuh haru.


“Jangan berterima kasih, ini adalah tugas seorang istri. Jika, sudah menikah pasti akan hamil dan melahirkan. Allah menitipkan dan mempercayakannya kepada kita,” tutur Nadia.


Dion memeluk kembali istrinya, mencium beberapa kali pucuk kepala istrinya.


“Sudah. Ayo kita ke Dokter,” ajak Nadia.


“Iya. Tapi sebelum ke Dokter, kita terlebih dahulu memberitahu Mami,” ujar Dion.


Nadia mengangguk.


“Kakak mandi duluan, aku ingin membuatkan mu teh terlebih dahulu.”


“Baiklah sayang.”


Mencubit gemas pipi istrinya yang sedikit lebih berisi.


“Oh ya... kita harus memberitahu orang tuamu juga.”


“Iya kak. Setelah pulang dari rumah sakit, kita akan memberitahu Ayah dan Ibu.”


Dion mengangguk, lalu meninggalkan istrinya pergi ke kamar mandi.


Nadia mengelus perutnya yang masih rata tersebut, sambil tersenyum merasa sangat bahagia.


“Sehat terus ya sayang disana, hingga nanti. Mama dan Papa sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu,” gumamnya.


Setelah puas berbicara dengan calon anaknya, ia melangkah keluar kamar dan pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2