
Setelah meninggalkan Nisa sendirian, Bara melaju mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke Apartement nya.
Bara berjalan santai memasuki lift, dan menekan tombol lift untuk menuju ke lantai atas.
Ting, tong... Suara bel pintu berbunyi, tampak seorang wanita membuka pintu yang begitu cantik dan anggun.
“Sayang, kenapa lama sekali? Aku bosan menunggu mu,” Ujar nya dengan gaya manja dan langsung memeluk Bara.
“Aku cape, biar aku masuk dulu.” Melepaskan pelan pelukan kekasih nya.
“Cape? Memang nya kamu dari mana?” Tanya nya dengan tatapan curiga. Sambil mengekori Bara dan ikut duduk di samping nya.
“Dasar pelupa,” Sahut Bara dengan menyentil pelan dagu kekasihnya.
“Apa sih?” Tanya nya lagi.
“Nanti aku jelaskan, sekarang bikin kan aku kopi dulu!” Perintah nya.
“Ish.., Apaan sih! Aku kan bukan pembantu nya.” Gerutu Miranda dalam hati.
“Kenapa?” Tanya Bara melihat kekasih nya menatapnya.
“Tidak,” Sahut sambil menggelengkan kepalanya.
“Tunggu sebentar, aku akan bikin kan kopi untuk calon suami ku.” Dengan gaya centil nya, ia berjalan ke arah dapur.
Sembari menunggu kopi, Bara memejamkan matanya sejenak.
“Sayang, ini kopi nya.”
“Wow, cepat sekali.”
“Masa sih?”
“Iya,” Sahut nya sambil menyeruput kopi panas.
“Bagaimana? Enak?” Tanya Miranda.
“Iya sayang, sangat nikmat.”
Hingga membuat Miranda tersenyum senang, lalu memeluk Bara.
“Sayang,” panggil nya dengan wajah menempel di dada Bara.
“Bagaimana? Apakah berhasil?” Tanya Miranda dengan hati-hati.
__ADS_1
“Iya, aku berhasil membawa nya keluar dari rumah. Tapi,..” ucapan Bara menggantung.
“Tapi apa?” Tanya Miranda penasaran sejenak menghentikan aktivitas nya yang bermain di perut Bara.
“Tapi, dia tidak mau menanda tangani surat itu.”
“Hah..! kenapa?” Tanya Miranda langsung duduk menghadap Bara.
“Kamu tenang saja, aku akan membuat nya tidak betah dan membuat segera menanda tangani surat itu,” Bujuk Bara melihat wajah kekasih nya terlihat kesal.
“Yang penting dia sudah keluar dari rumah itu dan aku akan segera membuat mu menjadi nyonya di rumah itu.” Lalu menarik kekasih nya ke dalam pelukan nya.
“Hmm, baiklah,” Sahut nya singkat lalu melepaskan pelukannya.
“Apa kamu marah?” Tanya Bara.
“Tentu saja tidak,” Sahut nya dengan senyum di paksa.
“Benarkah?” Tanya Bara lembut.
“Iya sayang.”
“Oke deh, kamu istirahat, pasti cape banget.” Bara mengangguk lalu beranjak dari duduk nya menuju ke kamar. Namun, tidak lupa ia mencium pucuk kepala kekasihnya.
“Kenapa mata ku sungguh berat sekali?” Ucap nya. Lalu merebahkan tubuh nya di kasur empuk miliknya.
“Sayang, apa kamu sudah tidur?” panggil Miranda. Tampak tidak ada sahutan dari Bara, ia membuka pintu kamar Bara untuk memastikan nya.
“Obat nya sungguh mujarab,” Batin nya dengan senyum licik.
“Saat nya aku bersenang- senang,” ucap nya. Ia pergi meninggalkan kamar Bara dan masuk ke kamar nya untuk berganti pakaian. Lalu mengambil kunci mobil dan bergegas pergi meninggalkan Bara yang masih terlelap tidur.
Setelah di dalam mobil, Miranda mengambil ponsel nya untuk menghubungi seseorang.
“Halo.”
“Aku akan tiba 20 menit lagi, bersiap lah aku akan menjemput mu, kita akan bersenang-senang dulu malam ini.”
***
Di tempat lain, Nisa bara saja menyelesaikan aktivitas mandi nya, ia segera memakai pakaian nya.
Dengan terburu-buru ia keluar, saat mendengar bel berbunyi terus menerus.
“Erwin...,” lirih Nisa ketika membuka pintu melihat ia berdiri di depan pintu dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“Hai...,” Sapanya.
“Kamu kenapa disini?” Tanya Nisa penasaran.
“Tamu gak di suruh masuk dulu?” Ujar Erwin.
“Tapi....” Tanpa menunggu persetujuan Nisa, ia sudah masuk dan duduk di kursi.
“Kamu belum menjawab pertanyaan ku?” ketus Nisa ikut duduk.
“Kamu tidak perlu tahu, aku tahu dari mana?”
“Erwin, kamu tahu sendiri kejadian terakhir kali kita bertemu.”
“Kamu tidak perlu risau, Bara saat ini sedang bersenang-senang bersama kekasih nya.”
“Jaga bicara mu!”
“Aku tidak asal bicara.”
“Kalau kedatangan mu kesini hanya untuk mengatakan itu, sebaik nya kamu pulang!”
“Wow, santai Nis.”
“Aku datang ke sini, aku ikut berduka cita atas kepergian Ayah mertuamu. Saat itu aku sedang ke laur kota, jadi aku tidak bisa datang.”
“Iya gak apa-apa.” Terlihat wajah Nisa sedikit gelisah, sesekali ia melihat arah luar dari jendela kaca.
“Kenapa? Apa kamu menunggu seseorang.”
“Hah..? tidak.”
“Apa kamu takut akan kedatangan suami mu?”
“Erwin, tolong! Aku hanya tidak mau kejadian waktu itu tidak terulang lagi. Dan ini juga sudah malam.”
“Kamu tidak perlu khawatir, Bara tidak akan pulang malam ini.”
“Sok tahu,” ketus Nisa.
“Ya, apa salah jika aku bertamu ke tetangga ku untuk bersilahturahmi.”
“Maksud nya..?”
Bersambung...
__ADS_1