Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 127


__ADS_3

Tiga Minggu sudah berlalu.


Hari ini Reyhan kembali tidak masuk sekolah, karena suhu badannya sangat panas.


Bahkan hubungan nenek Dira dan Nisa, masih saja tidak membaik pasca perdebatan kecil di meja makan beberapa Minggu yang lalu.


Nenek Dira selalu menghindar, ketika Nisa mendekatinya. Bahkan tiga Minggu ini, mereka tidak pernah makan bersama.


Saat melintas di depan kamar Reyhan, nenek mendengar Reyhan yang menangis selalu memanggil Papanya.


Karena sudah sangat geram dengan keras kepala cucunya, akhirnya nenek masuk menemui cucunya yang berada di dalam kamar putranya tersebut.


Bruak...!


Nenek Dira membuka pintu sedikit kasar, membuat Nisa melonjak kaget.


“Nenek,” lirih Nisa.


“Kau sudah puas sekarang! Hah? Puas kau membuat putramu menderita!” geram nenek Dira mendekatinya, menatapnya dengan tajam.


“Nek, apa maksud Nenek?”


“Kau harusnya mengerti apa yang aku bicarakan! Apa kau pantas disebut sebagai seorang ibu?!” bentaknya.


“Lihat apa yang kau lakukan kepada putramu, sudah seminggu badannya panas dan setiap malam mengigau memanggil Papanya! Puas kau sekarang?! Itu yang kau mau! Hah... jawab!”


Menatap Cucunya dengan tajam, dengan matanya yang memerah.


Ia menarik tubuh Nisa paksa lengan Nisa dan mendorongnya hingga ke depan pintu.


“Pergi kau sekarang! Sebelum kau menemukan Erwin, jangan harap kau bisa bertemu putramu!” bentaknya.


“Nek,” panggil Nisa.


“Pergi! Jangan menginjak kaki lagi di rumah ini, kau bukan cucuku!” bentaknya dengan kemarahan yang tidak terbendung lagi.


Nisa masih diam mematung, untuk pertama kalinya ia melihat neneknya marah sebesar itu.


Karena Nisa tak bergerak dari tempatnya, nenek mendorong cucunya dengan kasar lalu menutup pintu dan menguncinya.


“Nek... Nek... buka pintunya Nek!” teriak Nisa sambil menggedor pintu kamar putranya.


“Nek...!” teriak Nisa masih berupaya membuka pintu.


Nisa terduduk lemas di depan pintu kamar, dengan air matanya yang mengalir tidak hentinya.


“Maafkan Mama sayang,” lirihnya.


“Nek, buka pintunya.”


Dengan posisi duduk, Nisa berusaha menggedor pintunya.


Sementara didalam kamar, Reyhan tampak kebingungan melihat Nisa di kunci dari dalam.


“Eyang, kenapa pintunya di kunci?” tanya Reyhan polos.


“Apa Reyhan sudah makan?”


“Belum. Eyang, kenapa Mama menangis? Buka pintunya Eyang putri,” ucap Reyhan yang hendak turun dari tempat tidur.


“Eits... mau kemana?”


“Mau membuka pintu,” sahutnya polos.


“Eyang lagi marah. Jika Eyang marah, tidak boleh ada orang yang membantah. Reyhan mengerti?” ucap nenek Dira lembut.

__ADS_1


Reyhan melihat Eyangnya sangat serius berbicara, membuat Reyhan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


“Reyhan makan sekarang setelah itu minum obat. Eyang janji, besok akan membawamu ke rumah Papa.”


Reyhan menggelengkan kepalanya.


“Kenapa, apa Reyhan tidak ingin bertemu Papa?”


“Mama bilang, Papa tidak ada di rumah. Kemarin, Reyhan dan Mama juga ke rumah Papa. Tapi, Papa tidak ada,” sahut Reyhan dengan wajah murung.


“Benarkah?” tanya nenek Dira lagi.


Reyhan mengangguk.


“Apa benar Nisa ke rumah Erwin? Anak kecil tidak mungkin berbohong kan?” gumamnya dalam hati.


“Kalau benar, berarti aku sudah salah paham kepadanya. Hah... biarkan saja, aku ingin memberinya pelajaran,” tambahnya dalam hati, karena sudah kesal dengan cucunya tersebut.


“Kalau begitu, makan dulu sayang. Nenek akan meminta Toni untuk mencari Papa Erwin. Oke?”


“Benarkah Eyang?”


“Iya sayang,” sahutnya.


Nenek Dira duduk di samping Reyhan dan mengambil mangkok yang berisi bubur tersebut lalu menyuapinya sedikit demi sedikit.


***


Sementara di luar kamar, Nisa tampak menyerah menggedor pintu. Namun, tak kunjung di buka oleh neneknya.


Nisa berjalan gontai, menuruni tangga. Beberapa Art di rumahnya melihat Nisa tidak tega, bahkan Toni pun demikian.


Namun, mereka tidak ingin ikut campur urusan majikannya.


“Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Toni yang begitu cemas.


“Toni, aku hari ini tidak ke kantor. Kamu urus semuanya,” perintah Nisa dengan suara seraknya.


“Iya Nona.”


“Dimana kunci mobil?” tanya Nisa.


“Ini Nona. Nona mau kemana? Apa perlu saya mengantar?” tanya Toni.


“Tidak perlu. Aku akan pergi, tolong jaga Nenek dan putraku. Aku akan kembali setelah menemukannya,” ucap Nisa.


Lalu beranjak dari tempat duduknya.


Toni paham siapa yang di maksud oleh Nisa.


“Nona, aku akan membantumu mencarinya. Nona tidak perlu pergi, serahkan kepadaku.”


Nisa menggelengkan kepalanya.


“Disini aku yang bersalah. Aku tidak ingin orang lain juga ikut menanggungnya, kau tidak perlu khawatir.”


Sebenarnya Toni tidak tega, akan tetapi Nisa juga menolak untuk membantunya.


Toni menghubungi anak buahnya, agar mengikuti Nisa kemana pun dia pergi.


Nisa mengendarai mobil, masih teringat dengan ucapan Neneknya, jika dirinya tidak pantas di panggil sebagai seorang ibu. Membuatnya kembali menangis.


Nisa melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah Erwin. Saat tiba di depan pintu pagar rumah milik Erwin, Nisa turun untuk menemui penjaga rumah.


“Permisi Pak. Apa ada Erwin di rumah?” tanyanya.

__ADS_1


“Maaf Nona. Tuan Erwin belum kembali sudah tiga Minggu, kemungkinan dalam waktu yang lama baru akan kembali.” Sahutnya.


“Oh, bukannya Nona yang kemarin datang kesini ya?” tanya penjaga.


“Iya pak, benar.”


“Apa Bapak tahu, ke kota mana Erwin pergi?” tanya Nisa lagi.


Penjaga tersebut berpikir sejenak.


“Ada keperluan apa anda bertanya Nona?”


“Ini sangat penting Pak. Bahkan darurat, bisakah saya meminta alamatnya?”


Penjaga tersebut tidak langsung menjawab, ia tampak menghubungi seseorang. Cukup lama berbicara di telepon, ia tampak mengangguk.


“Iya, bisa Nona.”


Nisa bernapas lega, saat mendengar jawaban dari penjaga tersebut. Nisa hendak mengambil ponselnya, ia baru ingat jika ia tidak membawa tasnya.


“Tolong di catat di kertas saja Pak, saya tidak membawa ponsel.”


Penjaga rumahnya, mengangguk, lalu memberikannya kepada Nisa alamat kantor Erwin tersebut.


“Terima kasih Pak,” ucapnya.


“Sama-sama Nona.”


Nisa berlari kecil untuk masuk ke dalam mobilnya, sebelum menghidupkan mesin mobil, ia tampak bingung harus pergi menggunakan apa?


“Ponsel dan dompetku ada di kamar Reyhan. Aku tidak mungkin pulang, aku harus bagaimana?” lirihnya sambil melihat kertas kecil yang berisikan alamat Erwin.


“Toni... iya Toni, pasti mau membantu ku.”


Nisa menghidupkan mobilnya, lalu melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Setibanya di kantor, Nisa tampak terburu-buru masuk.


“Apa Toni sudah datang?” tanyanya kepada resepsionis.


“Sudah Nona.”


Nisa berlari kecil, menuju ke lift. Tak butuh waktu lama, pintu lift terbuka.


“Toni,” panggilnya saat membuka pintu ruangannya.


“Iya Nona, ada apa?”


“Tolong pesankan aku tiket pesawat sekarang juga dan berikan aku uang cash, dompetku tertinggal.”


Nisa berbicara dengan cepat, membuat Toni sedikit kebingungan.


“Apa yang kau lihat? Cepat sekarang.”


“Nona mau kemana?”


“Aku mau ke kota xx. Toni, tolong jaga putraku ya!” ucapnya Nisa kembali dengan berlinang air mata.


“Pasti Nona. Apa anda yakin, akan pergi sendiri?”


Nisa mengangguk sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2