Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 150


__ADS_3

Setelah sarapan selesai, Nisa mengantar suaminya ke teras rumah.


Sebelum menuju kantor, Erwin lebih dulu mengantar putranya untuk berangkat ke sekolahnya.


“Hati-hati,” ujar Nisa setengah berteriak, karena mobil yang suaminya kendarai sudah mulai keluar.


Setelah melihat mobil suaminya menjauh, Nisa melihat penjaga yang ingin menutup kembali pagar rumah. Namun, ia menangkap seorang wanita yang sangat mirip dengan ibu angkatnya yaitu Bu Dewi.


Wanita tersebut mendorong gerobak yang berisikan kardus bekas serta botol bekas.


Deg!


“Apa itu ibu,” gumam Nisa.


Ia melangkah pelan, lalu setengah berteriak agar penjaga tersebut jangan menutup pagarnya.


“Pak, jangan di tutup dulu.”


Penjaga tersebut menurutinya.


Nisa melangkah keluar, melihat wanita tersebut duduk karena kelelahan mendorong gerobak kecilnya.


“Pak. Temani saya sebentar,” ujar Nisa.


Ia memegang tangan penjaga tersebut, karena takut jatuh.


“Ibu kenapa?” tanya Nisa melihat wanita tersebut.


Wanita tersebut menoleh, alangkah terkejutnya Nisa, jika wanita tersebut memang benar wanita yang adalah ibu angkatnya.


“Maaf Nona. Saya boleh istirahat sebentar? Saya sangat lelah,” Ujar Bu Dewi.


Bu Dewi bahkan tidak mengenal sama sekali wanita yang ada di hadapannya tersebut.


“Ibu tidak mengenali saya?” tanya Nisa.


“Maaf Nona, anda siapa?” tanyanya kembali.


“Apa benar nama Ibu adalah Dewi?” tanya Nisa memastikan.


Wanita tersebut mengangguk.


“Ibu kenapa seperti ini? Apa ibu sama sekali tidak mengenali saya?” tanya Nisa lagi.


Bu Dewi menggeleng kembali.


“Maaf, Nona. Saya permisi dulu,” ujar Bu Dewi hendak menarik gerobaknya lagi.


“Nisa,” panggil ibu mertuanya dari kejauhan.


“Iya, Mi!” sahut Nisa.


Bu Dewi yang hendak menarik kembali gerobaknya pun terhenti.


“Nisa!” lirih nya.


Entah kenapa, tiba-tiba saja wanita tersebut meneteskan air matanya. Ia dengan cepat menarik gerobaknya agar pergi dari tempat tersebut


“Ibu, tunggu!” panggil Nisa agar wanita itu berhenti.


Namun, bukannya menghentikan langkahnya, Bu Dewi setengah berlari membawa gerobak tersebut.


“Pak, tolong hentikan Ibu,” ujar Nisa meminta penjaga rumahnya untuk menghentikannya.


Penjaga tersebut mengangguk, lalu memegang gerobak Bu Dewi agar berhenti.


“Lepaskan Tuan. Kenapa saya di tahan seperti ini? Saya hanya duduk beristirahat sebentar di tempat ini,” imbuhnya.


“Tunggu sebentar Bu, Nona ingin bicara dengan ibu sebentar,” Ujar penjaga tersebut.


Nisa menghampiri Bu Dewi dan terlihat dari jauh juga Bu Anita menghampiri menantunya, karena melihat dari kejauhan jika Nisa berbicara dengan pemulung hingga membuatnya penasaran, apa yang mereka bicarakan?


“Ini ibu Dewi, bukan?” tanya Nisa langsung.


Wanita tersebut tidak langsung menjawab, ia tampak menunduk.


“Bu,” panggil Nisa pelan.


“Kenapa sayang? Apa kamu mengenal wanita ini?” tanya Bu Anita yang baru saja tiba.


“Iya, Mi. Wajahnya sangat mirip dengan ibu Nisa,” sahut Nisa.


“Benarkan, kalau ibu adalah ibu Dewi?” ujar Nisa.


Wanita tersebut mengangguk pelan, ia bahkan tidak berani menatap Nisa.


“Ibu, ini Nisa Bu. Ibu kemana saja selama ini? Nisa sudah mencari ibu kemana-mana,” ujar Nisa mengambil tangan Bu Dewi.


Nisa melihat ada buliran air yang mengalir di pipi Bu Dewi, tampak jelas rasa bersalah yang cukup dalam.


“Maafkan ibu Nisa. Ibu tidak pantas jadi Ibu mu, aku wanita yang jahat!” ujarnya sambil menunduk.


Nisa memeluk Bu Dewi, tak dapat di ungkiri jika Nisa juga merindukan Bu Dewi. Nisa tidak pernah mempunyai rasa dendam sekalipun, ia begitu menyayangi Bu Dewi.


“Ibu pantas di benci!”

__ADS_1


“Nisa tidak pernah membenci Ibu,” ujar Nisa sambil memeluk Bu Dewi.


Bu Anita masih mematung melihat mereka yang saling berpelukan.


Lalu mereka saling melepaskan pelukannya.


“Ibu kenapa seperti ini? Ibu tinggal dimana sekarang?” tanya Nisa.


“Nisa, sayang. Ajaklah ibu mu masuk, tidak baik berbicara di tengah jalan begini,” usul ibu mertuanya.


Nisa mengangguk.


“Ayo, Bu. Kita masuk ke rumah,” ajak Nisa.


Namun, Bu Dewi menggelengkan Kepalanya.


“Maaf, Nisa. Ibu tidak bisa ikut masuk,” tolak Bu Dewi.


“Kenapa, Bu?”


“Ibu harus bekerja,” sahutnya.


“Hanya sebentar, Bu!” ujar Nisa memelas.


Bu Dewi berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. Nisa tersenyum saat melihat Bu Dewi yang mengangguk setuju.


Mereka melangkah bersamaan masuk ke dalam rumah dan mengajak Bu Dewi duduk di sofa.


Bu Anita langsung ke dapur untuk meminta pembantunya untuk mengambil air minum beserta camilannya.


Saat hendak kembali ke ruang tamu, terlihat Bu Dewi menangis menatap Nisa. Ia mengurungkan niatnya dan membiarkan mereka berbicara berdua, karena sebelumnya Erwin sudah cerita kepadanya tentang Nisa.


“Nisa, maafkan kesalahan ibu nak. Ibu sungguh menyesal.”


“Nisa sudah memaafkan ibu. Sudah! Berhenti meminta maaf Bu, Nisa sudah melupakannya. Sekarang ibu tinggal dimana? Kemana ibu selama ini?”


Bu Dewi menghela napas berat, ia mulai menceritakan setelah kepergiannya dari rumah.


“Saat itu, ibu pergi ke luar negeri untuk meninggalkan tanah air. Namun, Sesampainya disana, ibu di tipu oleh seseorang hingga uang ibu habis tak bersisa. Akhirnya ibu pulang lagi ke Indonesia dengan meminta bantuan kepada pemerintahan disana, dan ibu di pulangkan setelah beberapa bulan menetap disana jadi gelandangan.”


“Astaga Ibu. Kenapa tidak menemui Nisa Bu?”


“Ibu malu, malu dengan perbuatan ibu terhadap mu.”


“Ibu,” lirih Nisa.


“Maafkan ibu nak,” ujar Bu Dewi mengambil tangan Nisa menciumnya berulang kali.


“Sekarang ibu tinggal dimana?” tanya Nisa lembut.


“Alhamdullilah.”


“Nak Nisa, ini berapa bulan?” tanya Bu Dewi melihat perut Nisa yang membuncit.


“Baru memasuki usia tujuh bulan, Bu.”


“Oh, besar ya.”


“Iya, Bu. Ada dua,” ujar Nisa tersenyum memperlihatkan dua jarinya.


“Wah, sehat terusnya cucu Oma.”


“Nisa, ibu harus pergi.”


“Kenapa terburu-buru Bu?”


“Ibu harus mencari kardus berkas, kalau terlalu siang nanti di ambil orang,” ujarnya bersiap untuk pergi.


“Kenapa terburu-buru ?” tanya Bu Anita yang datang menghampiri mereka dengan membawa nampan di tangannya.


“Kita minum dulu,” ajak Bu Anita meletakan minuman di meja.


“Tapi, saya harus pergi. Maaf sekali lagi Nyonya.”


“Perkenalkan, nama saya Anita, ibu mertuanya Nisa,” ujarnya mengulurkan tangannya.


Bu Dewi mengernyitkan keningnya, ia membalas uluran tangan tersebut.


“Nisa, ini?”


Nisa mengangguk.


“Ini adalah ibu mertuanya Nisa, Bu.”


“Tapi, bukankah Bara...”


“Iya, Bu. Mas Bara sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”


Bu Dewi terdiam sejenak, ia kembali merasa bersalah.


“Sekarang Nisa sudah menikah kembali, Bu.”


“Maafkan ibu nak, Hiks! Hiks!”


Bu Dewi kembali menangis.

__ADS_1


“Ibu, Jangan seperti ini.”


Nisa mengambil tisu dan menghapus air mata Bu Dewi.


Bu Anita melihat Nisa yang begitu tulus kepada ibu angkatnya tersebut, walaupun sudah menyakitinya, sedikit pun Nisa tidak dendam kepada orang yang menyakitinya.


Setelah cukup lama berbincang bahkan drama menangis, akhirnya Bu Dewi berpamitan pulang.


Nisa berusaha menahan ibunya agar tetap di rumah tersebut, akan tetapi Bu Dewi menolak.


Akhirnya Nisa mengalah dan membiarkan ini Dewi pergi. Sebelum pergi, Nisa memberikan beberapa lembar uang untuk ibunya. Namun, Bu Dewi menolaknya, ia tidak ingin menerima uang dari Nisa.


“Maaf, ibu tidak bisa menerima uang darimu, Nisa. Ibu bisa bekerja, sungguh nikmat merasakan hasil jerih payah ibu sendiri.”


Bu Dewi mengembalikan uang tersebut di tangan Nisa.


“Tapi ,Bu...”


Bu Anita memegang bahunya dan menggelengkan kepala pelan.


Nisa mengangguk, mengerti yang di maksud oleh mertuanya.


“Tapi. Kalau itu ibu mau menerimanya?” tanya Bu Anita menunjuk tumpukan kardus yang lumayan banyak. Karena sebelumnya ia meminta penjaga rumahnya untuk mengumpulkan kardus bekas.


Bu Dewi tersenyum, lalu mengangguk.


Bu Dewi memeluk Nisa dengan erat, bahkan ia berulang kali meminta maaf kepada putri angkatnya tersebut.


Lalu mengelus perut buncit Nisa.


“Sehat terus ya cucu Oma,” ujarnya.


“Iya, Oma!” sahut Nisa.


“Ibu pulang nak. Jaga diri baik-baik,” ujar Bu Dewi menatap Nisa.


Sebelum pergi, Bu Dewi memberikan ciuman di perut Nisa. Lalu melangkah pergi, meninggalkan rumah besar tersebut.


Penjaga rumah Erwin membantu bu Dewi memasukkan kardus bekas tersebut ke dalam gerobaknya.


Terlihat dari wajah Bu Dewi, jika sangat bahagia menjalani pekerjaan yang sekarang.


Nisa tersenyum melihat bu Dewi dari kejauhan, yang tampak bersemangat memasukkan kardus tersebut ke dalam gerobak kecilnya.


“Lihatlah nak, ibu Dewi begitu bahagia. Biarkan ia mencari kebahagiaan nya nak,” Ujar Bu Anita mengelus bahu menantunya tersebut.


“Iya, mi.”


Setelah melihat kepergian Bu Dewi, Nisa dan ibu mertuanya masuk ke dalam rumah.


Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar klakson mobil yang baru datang masuk ke garasi mobil.


“Mi, mereka datang.”


Nisa antusias melihat mobil yang masuk.


“Iya,” sahut bu Anita tak kalah senang.


Tampak Dion keluar dari mobil menggandeng tangan istrinya, Nadia melangkah perlahan masuk ke dalam rumah. Sedangkan putranya di gendong oleh ibunya Nadia.


“Uh... lucunya,” ujar Nisa melihat bayi tersebut.


Mereka semua masuk, Nisa mengikuti Dion dan istrinya masuk ke dalam kamar.


“Apa masih sakit?” tanya Nisa.


“Sedikit kak,” sahut Nadia.


“Sabar sayang, Nadia wanita yang hebat sudah melahirkan bayi mungil ini,” ujar Nisa mengelus pipi bayi tersebut.


Ia menatap nanar wajah bayi tersebut, wajah bayi tersebut sangat mirip dengan Nadia.


“Wajahnya sangat mirip denganmu, Nadia.”


“Haha... iya kak,” ujar Nadia tertawa kecil.


“Baiklah, kalian istirahat dulu.”


“Hei Baby imutku, aku membiarkan mu tidur sekarang! Tapi, tunggu Reyhan datang, dia tidak akan membiarkan mu tidur nyenyak!” ujar Nisa sembari mencium pipi mulus bayi tersebut.


Nadia terkekeh mendengarnya.


“Baiklah, aku ke dapur dulu.”


“Iya, kak.”


Setalah melihat Nisa pergi, putranya ternyata membuka mata dan mengerakkan kepalanya sambil membuka mulutnya seperti sedang mencari sesuatu.


“Sepertinya dia lapar,” ujar ibu Nadia.


Ia menggendong bayi tersebut dan menyerahkan kepada Nadia untuk memberikan asinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2