
Di tempat lain, Dion tak henti-hentinya mengumpat. Karena kekesalannya kepada Erwin yang menyuruhnya jalan kaki untuk ke kantor.
Jarak kantor dan restoran memang lah tidak jauh, entahlah kenapa Dion begitu kesalnya terhadap Erwin hari ini.
Sesampainya di kantor, Dion kembali ke ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil kunci mobilnya.
Setelah mendapatkan apa yang tertinggal di ruangan, ia melangkah kembali menuju mobilnya terparkir. Karena sore ini ia ada janji untuk fiting baju bersama calon istrinya.
Saat di mobil, ia merasakan getar ponsel di saku celananya. Melihat nomor asing menghubunginya.
“Nomor siapa ini?” gumam Dion heran.
“Halo,” ucapnya setelah menggeser layar ponselnya.
“Halo, Pak Dion. Apa anda mengenali suara saya?” sahut di dari dalam ponsel tersebut.
“Siapa ini?”
“Saya Bagas. Kita baru saja bertemu siang tadi di kantor Tuan Erwin.”
“Oh Pak Bagas. Ada perlu apa anda menghubungi saya, ini sudah melewati jam kerja?” tanya Dion dengan nada sopan.
“Maaf sebelumnya menghubungi pak Dion di luar jam kerja. Jadi begini ... saya berterima kasih karena pak Dion sudah mengingatkan tentang asisten saya. Jika Miranda asisten saya dipecat, apa Pak Erwin mau bekerja sama dengan perusahaan kami?”
Dion mengerutkan keningnya, dari mana ia mengetahui jika Erwin tidak mau menandatangani surat perjanjian kerja, karena ada Miranda.
“Maaf sebelumnya Pak. Kami tidak pernah mencampur urusan pribadi dengan urusan pekerjaan, ada beberapa prosedur yang membuat kami belum bisa bekerja sama dengan perusahaan Pak Bagas.”
“Masalah asisten anda itu... saya hanya mengingatkan saja, berhati-hati dengannya,” sahut Dion.
Karena ia merasa prihatin, jika ada lagi yang menjadi korban dari perbuatan Miranda.
“Apa tidak ada kesempatan untuk perusahaan kami?”
“Kita akan bicarakan ini besok Pak. Ini sudah melewati batas jam kerja, saya tutup kembali teleponnya.”
“Iya pak... terima kasih atas waktunya.”
“Iya sama-sama.”
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya.
“Huft ... cape juga ternyata,” gumam Dion.
Lalu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan parkiran kantor, menuju apartemen Nadia.
Sebelum ia tiba di apartemen tersebut, ia sudah mengirim pesan kepada calon istrinya agar menunggu di bawah.
Sesampainya di parkiran, Nadia benar-benar turun untuk menunggunya.
“Maaf sayang, aku sedikit terlambat,” Ucap Dion menurunkan kaca mobilnya.
“Iya tidak apa-apa. Aku baru saja turun kok,” sahut Nadia membuka pintu mobil.
“Kita kemana?”
“Ada butik yang tidak jauh dari sini. Dia memang membuat pakaian pengantin, aku sudah melihatnya di sosmedku dan pakaiannya cantik-cantik semua.”
“Oh ya... baiklah tuan putri, aku akan mengikuti kemana pun kamu mau,” goda Dion.
Membuat Nadia tersipu malu.
“Bisa aja...!” Celetuk Nadia.
“Aku sangat gugup sekarang, sebentar lagi hari pernikahan kita,” ucap Nadia.
“Rileks..., gugup sih wajar, tapi jangan stres. Tenangkan pikiranmu,” ucap Dion membuat Nadia merasa diberi perhatian.
“Iya akan ku usahakan.”
“Memangnya kakak gak gugup?”
“Enggak... biasa saja.”
__ADS_1
Ia tak sadar dengan ucapannya itu, membuat Nadia cemberut.
“Iya sih. Kakak kan sudah pernah menikah sebelumnya.”
Dion melirik wajah Nadia yang memasang wajah cemberut.
“Itu masa laluku. Aku sudah pernah bilang, jangan membahas masa lalu,” ucap Dion dingin.
Nadia merasa tidak enak, karena ucapannya barusan.
“Maafkan aku kak,” lirih Nadia.
“Sudah... lupakan! Dimana butiknya? Disini ada beberapa butik,” ucap Dion mengalihkan pembicaraan melihat suasana kurang kondusif.
“Masih jauh kak,” sahut Nadia.
“Oh aku kira disini,” ucap Dion terkekeh.
“Kapan Ayah dan Ibu mu kemari?”
“Kemungkinan besok atau lusa. Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya dan masih menunggu Kakak juga datang.”
“Oh begitu.”
Hampir setengah jam mencari butik tersebut, menempuh jalanan sore yang cukup ramai. Akhirnya mereka tiba di butik tersebut.
Mereka beriringan masuk ke dalam butik, sambil bergandengan tangan.
“Kau pilihlah, aku akan menunggu disini.”
Menunjuk sofa yang ada di dalam, Nadia mengangguk.
Ia di bantu oleh karyawati butik untuk melihat baju pengantin yang terpajang di dalam butik tersebut.
“Yang ini juga bagus, warnanya gak terlalu mencolok. Aku suka,” ucap Nadia melihat baju tersebut dengan warna Rose gold.
“Ini sangat cocok dengan kulit putih anda Nona.”
“Apa boleh aku mencobanya?” tanya Nadia.
Melihat Nadia yang antusias melihat baju tersebut, ada senyum dari bibir ranum Dion.
“Dion ...” sapa seseorang. Suara yang tidak asing bagi Dion.
Dion menoleh ke arah suara, betapa terkejutnya Dion melihat seseorang yang sangat ia kenal.
“Mama... Mama disini?” sapa Dion langsung berdiri dan mencium tangan wanita yang ia panggil Mama tersebut.
“Apa kabar Nak Dion? Lama sekali kita tidak bertemu, bahkan untuk berkomunikasi saja jarang.”
Dion mengajak wanita setengah baya tersebut untuk duduk di sofa.
“Maaf Ma, akhir-akhir ini Dion sangat sibuk.”
“Bagaimana kabar Ayah?” Tanya Dion.
“Ayahmu baik-baik saja. Saat ini masih di Kalimantan.”
“Apa yang kau lakukan di butik Mama?”
Dion mengernyitkan keningnya.
“Maksudnya... ini butik Mama?” tanya Dion memastikan.
Wanita setengah baya tersebut mengangguk.
“Aku bersama calon istriku Ma. Dia sedang ada di dalam mencoba beberapa pakaian pengantin.”
“Oh ternyata kamu sudah mau menikah. Selamat ya nak, Mama ikut berbahagia untuk kalian.”
Wanita tersebut adalah ibu kandung dari mendian istrinya, yaitu Shamila. Hingga sekarang, hubungan mereka sangat baik, bahkan menganggap Dion seperti putra mereka sendiri.
“Kalau tidak keberatan, Mama harus hadir di pernikahan Dion nanti.”
__ADS_1
“Maaf, Mama gak bisa hadir. Mama tidak bisa menjelaskannya, kamu akan mengerti nanti. Mama hanya mengirim doa saja,” ucapnya.
Ada raut sedih dari wajah wanita berdarah India tersebut. Namun ia berusaha menyembunyikannya.
“Iya Ma, aku mengerti. Aku hanya minta restu kepada kalian.”
“Pasti kami akan merestui kalian, semoga kalian berbahagia.”
Dion mengangguk.
Percakapan mereka terhenti ketika Nadia memanggilnya.
“Kak... cantik gak?” tanya Nadia keluar dengan pakaian pengantin.
Dion tak berkedip melihat kecantikan calon istrinya, walaupun tanpa memakai makeup. Namun, aura kecantikannya sudah terpancar.
“Kak...!” panggilnya lagi.
Dion langsung tersadar.
“Hah, iya. Ini sangat cantik,” ucap Dion refleks.
“Apa itu calon istrimu? Bukankah ini Nadia, anaknya Pak Wijaya?” tanya nyonya Sharma.
Dion mengangguk.
“Kalian pasangan yang serasi. Aku baru melihatnya wajah nya langsung, dia benar-benar sangat cantik.”
Dion hanya tersenyum, menanggapi pujian yang di lontarkan oleh ibu dari mantan istrinya tersebut.
Setelah mendapatkan pujian, Nadia kembali masuk ke ruang ganti, untuk mengganti pakaiannya yang ia pakai sebelumnya.
Setelah selesai, Nadia keluar dari kamar ganti.
Ia baru menyadari jika ada wanita paruh baya yang berbicara dengan Dion itu adalah Nyonya Sharma, ibu dari mendiang Shamila.
“Tante...” sapa Nadia mengulurkan tangannya.
“Hai Nadia. Apa kabar?”
Nadia duduk persis di samping wanita paruh baya tersebut.
“Baik Tante.”
“Alhamdullilah. Tante dengar kalian akan menikah dalam waktu dekat ini? Selamat ya atas pernikahan kalian,” ucap nyonya Sharma memberi selamat.
“Iya terima kasih Tante.”
“Apa Nadia mengambil pakaian yang tadi?” tanyanya.
Nadia mengangguk.
“Iya Tante. Desainnya sangat cantik, aku suka.”
“Kebetulan butik ini adalah milik Tante, dan desain baju yang kamu pilih, itu adalah desain mendiang anak saya, Shamila.”
Membuat Nadia terkejut, ia baru mengetahuinya jika pemilik butik tersebut adalah nyonya Sharma.
“Jadi... Anggap saja itu sebagai hadiah dari Shamila untuk kalian.”
Membuat Dion menelan kasar salivanya.
“Tapi Ma ...”
“Mama tidak menerima penolakan!” protes Nyonya Sharma.
“Terima kasih banyak Tante," ucap Nadia.
Setelah percakapan yang cukup panjang, mereka berpamitan dengan membawa kotak yang berisikan baju pengantin, hadiah dari nyonya Sharma untuk mereka.
.
.
__ADS_1
.