Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 134


__ADS_3

Di tempat lain.


Sebuah mobil yang sejak pagi terparkir di dekat tempat Reyhan bersekolah.


“Kenapa anak itu belum keluar? Lihatlah, anak yang lain sudah pulang sekolah!” ujar Miranda yang mulai kesal.


Berjam-jam mereka menunggu di mobil. Namun, Reyhan tak kunjung keluar dari sekolahnya.


“Entahlah!” sahut pria yang bersama Miranda itu, sebut saja namanya Bambang.


“Coba tanyakan kepada pemuda yang berdiri itu!”


Bambang menunjuk pemuda yang baru saja keluar untuk menjemput putranya.


Miranda mengangguk, lalu melangkah menuju pria tersebut. Bambang memperhatikan mereka, tak lama Miranda Kembali masuk ke mobil.


“Apa katanya?”


Miranda membuang napas kasar.


“Huh... Reyhan tidak masuk sekolah, sudah hampir seminggu. Kata pria itu, Reyhan saat ini sedang di rawat di rumah sakit.”


“Sakit? Sakit apa?”


“Aku juga kurang tahu. Kita akan cari tahu nanti! Huft... percuma menunggu disini berjam-jam, ternyata dia tidak sekolah! Sungguh merepotkan saja!” kesal Miranda.


“Kita pulang saja!”


“Oke,” sahut Bambang.


“Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Untuk menjenguknya,” usul Bambang.


Miranda berpikir sejenak.


“Ide bagus. Kenapa aku tidak kepikiran?”


“Ayo kita ke rumah sakit sekarang,” Ujar Miranda bersemangat.


“Apa kau tahu, rumah sakit mana Reyhan di rawat?”


“Aku tahu. Anak itu pasti di rawat di rumah sakit milik keluarga Erwin.”


“Oh...”


“Kau begitu sangat mengenal Erwin rupanya!”


“Iya, sedikit!” sahut Miranda singkat.


Mereka melaju ke rumah sakit, milik Paman Erwin tersebut.

__ADS_1


Sebelum masuk ke rumah sakit, Miranda membeli bunga dan beberapa jenis buah untuk Reyhan yang sedang di rawat.


Setibanya di rumah sakit, lagi-lagi mereka kecewa. Karena ternyata Reyhan sudah pulang dari rumah sakit tersebut.


“Sialan!” umpat Miranda masuk ke dalam mobil.


“Hari ini benar-benar sial!” ujar Bambang.


Karena dua kali kecewa.


“Kita pulang saja!” kesal Miranda.


***


Di perjalanan dalam mobil, Reyhan seperti biasa tidak berhentinya mengoceh.


Sebelumnya, Reyhan menangis meminta untuk pulang. Karena Erwin tidak tega, akhirnya ia menemui dokter untuk minta Reyhan di rawat jalan saja.


Menurut hasil tes darahnya, tidak menemukan gejala sakit yang serius pada tubuh Reyhan. Sehingga dokter memperbolehkan Reyhan untuk di rawat jalan saja.


“Pa, nanti kita main lagi ke mall ya?”


“Iya sayang. Tapi, Reyhan harus sembuh terlebih dahulu.”


Reyhan duduk di pangkuan Erwin, dengan melingkarkan tangannya di leher Erwin.


“Asyik...” antusias Reyhan.


Namun tidak berhasil, Reyhan malah memeluk Erwin dengan erat.


“Biarkan saja, untuk melepaskan rindunya.”


Nisa menghela napas kasar.


“Papa...” panggil Reyhan lagi.


“Iya sayang.”


“Papa kok tambah ganteng sih?”


“Hahaha... Reyhan kok tahu ganteng sih?” tanya Erwin kembali.


Nisa dan Nenek terkekeh mendengar ocehan Reyhan tersebut.


“Tahu dong.”


“Memang ganteng itu apa?”


“Ganteng itu...”

__ADS_1


Reyhan tampak berpikir, dengan mengetuk jari telunjuknya di dagu.


“Apa?” tanya Erwin, karena Reyhan belum memberikan jawabannya.


“Gak tahu hehehe,” sahutnya memperlihatkan gigi putihnya.


“Hahaha... anak Papa kok tambah pintar sih,” gemas Erwin mencubit pelan pipi gembul Reyhan.


Tak lama mereka tiba di rumah kebesaran Nenek Dira.


Erwin menggendong Reyhan masuk ke dalam rumah, sementara Nisa membawa tas kecil milik suaminya tersebut, sambil menggandeng tangan neneknya untuk masuk ke dalam.


“Mm... Nek. Maaf kemarin sudah membuat Nenek marah. Nisa khilaf Nek,” ucap Nisa sambil melangkah masuk.


“Seharusnya Nenek yang minta maaf, karena sudah membentakmu. Sungguh, Nenek sangat menyesal.”


“Enggak Nek. Semua itu kesalahan Nisa, entah apa yang kupikirkan saat itu.”


“Iya sayang. Ayo kita masuk,” ajak nenek.


Pasalnya mereka berhenti di ambang pintu.


Di ruang tamu, nenek mendaratkan bokongnya duduk di sofa, sedangkan Nisa berpamitan untuk menyusul Erwin dan putra ke kamar.


Di kamar, Erwin dengan telaten mengganti pakaian putranya, karena menurutnya baju tersebut kotor.


“Ini pakaiannya,” ucap Nisa menyerahkan pakaian Reyhan.


“Iya, Terimakasih.”


Erwin mengajak Reyhan untuk beristirahat, karena ia di haruskan untuk banyak istirahat.


Erwin berbaring tubuhnya di samping putranya tersebut, Nisa pun menyusul mereka berbaring di kasur yang sama dengan posisi Erwin yang ada di tengah mereka.


Reyhan mulai memejamkan matanya, sambil memeluk tubuh Erwin.


Melirik ke sampingnya, ternyata istrinya juga ikut tertidur. Erwin perlahan memindahkan tangan Reyhan yang ada di perutnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap istrinya yang tertidur pulas.


“Sayang,” bisik Erwin.


Mendengar ada yang berbisik, Nisa mengerjapkan kedua matanya.


“Iya,” sahutnya dengan suara serak.


“Kemari, mendekatlah.”


Tanpa ragu Nisa mendekatkan tubuhnya dan memeluk suaminya tersebut. Bahkan merasa sangat nyaman di pelukan suaminya, hingga membuatnya tertidur kembali.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2