Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 30


__ADS_3

“Si dia lagi! entah dari mana datang nya manusia ini?” gumam Bara dalam hati.


“Apa yang terjadi dengan mobil mu? ” tanya Erwin.


“Apa kau punya mata? Kau tidak lihat ban nya bocor!” bentak Bara.


“Santai, aku hanya bertanya.”


“Kau mau kemana? Aku akan mengantar mu!” ujar Erwin menawarkan tumpangan. Bara menghembus nafas kasar.


“Malas bertemu dengan orang ini! Tapi apa boleh buat, saat ini aku memang butuh tumpangan. Jam segini tidak mungkin ada taksi.” gumam Bara dalam hati.


“Mau atau tidak? Terserah!” ujar Erwin meninggalkan Bara hendak masuk ke mobil nya.


“Aku ikut,” ucap Bara pelan.


Erwin tersenyum kecut.


“Sok jual mahal,” gumam nya namun tak terdengar oleh Bara.


“Cepat masuk lah!” ajak nya. Bara mengambil kunci mobil nya lalu ikut menyusul Erwin masuk ke dalam mobil.


“Kau mau kemana?” tanya Erwin mulai menjalan kan mobil nya.


“Aku mau kembali ke rumah, ponsel ku tertinggal.”


Hening sejenak, hanya suara deru mobil yang terdengar.


“Aku minta maaf atas perlakuan ku kepada mu kemarin.” Erwin tersenyum kecut mendengar permintaan maaf Bara.


“Lupakan!” sahut Erwin.


“Oh ya, bagaimana kabar Nisa sekarang? Aku tidak melihat nya seharian kemarin, apa kau mengurung dan menyiksa nya?” bertanya dengan geram.


“Nisa baik-baik saja, saat ini dia sedang di rawat.”


“Apa? Di rawat, apa yang terjadi dengan Nisa?” secara tiba-tiba Erwin menghentikan mobil nya.


“Hei, bodoh! Perhatikan jalan mu, apa kau mau kita celaka?” bentak Bara. Terdengar suara klakson dari arah belakang saling bersahutan.


Erwin menepi mobil nya, lalu menarik kerah baju Bara.


“Apa yang kau lakukan, hah? Jawab!” bentak Erwin.


Bentakan Erwin tidak membuat Bara takut sama sekali, ia menarik kasar tangan Erwin dari baju nya.


“Aku tidak melakukan apa pun! Singkirkan tangan mu, bodoh!”


“Kau dengar baik-baik ya! Jika terjadi sesuatu dengan Nisa, aku tidak akan membiarkan mu tetap hidup!”


Bara hanya tersenyum kecut, mendengar ancaman Bara.


“Terserah kau!” sahut Bara tanpa takut sedikit pun.

__ADS_1


“Di rumah sakit mana Nisa di rawat?” Sudah mulai mengontrol emosi nya.


“Di rumah sakit xx.”


“Terus, kenapa kau meninggalkan nya sendiri? Apa kau sengaja?”


“Bicara yang sopan! Aku tidak meninggalkan nya, aku hanya pulang sebentar untuk mengambil ponsel ku dan beberapa uang simpanan ku, dan sial nya ban mobil ku bocor.”


“Alasan saja!” ketus Erwin.


Ia mulai menjalankan mobil nya, bukan untuk mengantar Bara. Melainkan putar balik menuju ke arah rumah sakit.


“Bisnis ku mengalami masalah, kredit card ku sudah di blokir.”


“Kau pantas menerima itu!” ucap Erwin tersenyum kecut.


Erwin tidak peduli dengan ucapan Bara, ia masih melaju kan mobil nya.


“Itu hukuman pantas untuk mu!” Ketus Erwin tanpa merasa iba sedikit pun.


Bara hanya diam mendengar perkataan Erwin, ia bahkan tak mengelak kalau ini semua adalah karma bagi nya.


Mereka tiba di parkiran rumah sakit, tanpa menunggu Erwin sudah keluar terlebih dahulu.


“Aku benar-benar bingung sekarang,” gumam Bara.


“Astaga, aku benar-benar bodoh!” umpat nya.


Bara bergegas keluar menuju kasir.


Membuang rasa malu, Bara berucap pelan dengan petugas rumah sakit.


“Iya, silahkan,” sahut salah satu petugas karena merasa kasihan.


Ia mulai menekan nomor yang akan di hubungi.


“Halo Bima, kau dimana? Aku benar-benar butuh bantuan mu saat ini.”


“Ada apa Bara? Kau terdengar sangat cemas sekali,” sahut pria di balik telepon.


“Saat ini aku butuh uang, istri ku sedang di rumah sakit. Aku butuh uang untuk biaya rumah sakit, saat ini aku tidak mempunyai uang sama sekali.”


“Apa? Istri? Sejak kapan kau menikah, kenapa tidak memberitahu ku? Dasar teman durhaka!”


“Panjang cerita nya, aku akan menceritakan nya nanti. Sekarang bisa kah kau meminjam kan aku uang?”


“Iya, aku akan mengirim ke rekening mu,” sahut nya.


“Terima kasih Bim,” ucap Bara tersenyum. Ia merasa lega karena sudah mendapat kan pinjaman untuk biaya rumah sakit istrinya.


Setelah mengakhiri panggilan nya, ia berbalik badan hingga hampir menabrak Erwin yang sejak kapan berdiri di belakang nya.


“Astaga, orang ini sejak kapan disini? Apa dia mendengar pembicaraan ku tadi?” Batin bara.

__ADS_1


“Ada apa?” Tanya Bara sinis.


“Kau butuh uang?” tanya Erwin penuh selidik.


“Bukan urusan mu!” ketus Bara. Hendak berlalu pergi, namun di tahan oleh Erwin.


“Aku akan membayar biaya perawatan rumah sakit Nisa.”


“Terima kasih, tapi aku bisa membayar nya sendiri!” ujar Bara menatap nya.


Erwin tersenyum kecut mendengar ucapan Bara.


“Kau tak perlu mengemis kepada teman mu untuk meminjam uang!”


“Jaga bicara mu!” bentak Bara menunjuk wajah Erwin.


“Maaf pak, mohon untuk tidak melakukan keributan di rumah sakit ini,” ucap salah satu petugas yang menghampiri mereka.


“Dia ini yang mencari ribut.”


Dengan perasaan marah, Bara meninggalkan Erwin.


“Dasar gila!” umpat Erwin melihat kepergian Bara.


Erwin hendak bertanya kepada Bara dimana ruangan Nisa. Namun, ia tanpa sengaja mendengar percakapan Bara di telepon.


“Aku akan membayar biaya rumah sakit Annisa Putri,” Ujar Erwin menyodorkan kartu nya.


“Baik pak,” ucap ramah kasir nya.


Setelah membayar semua, Erwin bergegas mencari ruangan tempat Nisa di rawat. Karena sebelum nya ia sudah bertanya kepada petugas dimana ruangan Nisa tempat ia di rawat.


Ceklek, suara pintu terbuka.


Terlihat Bara duduk di samping ranjang Nisa, dengan kepala di letakkan di ranjang dengan bertumpu kedua tangan nya sambil memejamkan mata. Tampak Nisa masih tertidur pulas.


“Baru jam 2 dini hari,” gumam Erwin.


“Aku tahu kau belum tidur,” ucap pelan Erwin.


Bara membuka mata nya, melihat Erwin duduk di sofa dengan menyilangkan kaki nya.


“Kenapa kau kemari? Ini bukan jam besuk!” ketus Bara.


“Terserah saya, ini rumah sakit milik paman ku dan aku ikut menanam saham disini! Kau mau apa?”


“Sombong sekali, pelan kan suara mu! Apa kau buta, istri ku saat ini sedang istirahat!” ketus Bara.


“Cih...! sekarang kau panggil dia istri, kemarin kau jadikan dia pelampiasan kemarahan mu!”


“Kalau kedatangan mu kemari hanya untuk mencari keributan, lebih baik kau keluar!”


“Aku tidak mencari ribut, aku berbicara fakta!” ujar Erwin.

__ADS_1


“Apa yang kalian ribut kan?”


Bersambung...


__ADS_2