
Pagi menjelang, suara burung berkicau masuk melalui celah-celah jendela. Namun, tidak membangun kan dua insan yang sedang tidur terlelap.
Sebelum nya, Nisa sudah bangun untuk melakukan Shalat subuh. Akan tetapi ia tidur kembali, ia merasakan tubuh nya sangat lelah.
Terdengar gumam dari balik selimut, Bara perlahan membuka matanya. Ketika membuka mata, ia melihat Nisa yang masih tidur dengan pulas nya.
“Hhmm, cantik,” puji Bara. Seketika ia tersadar, bahwa ini bukan lah kamar nya.
“Astaga, bagaimana bisa aku tidur disini?” menepuk jidat nya pelan. Ia beranjak dari kasur, perlahan menutup tubuh Nisa dengan selimut yang tergeletak di lantai.
“Kasihan, dia tidur disini. Dia sangat manis saat tidur.” Lagi-lagi pujian itu keluar dari mulut nya.
Sekian detik memandang istrinya tidur, ia perlahan keluar kamar menuju kamar nya.
Sesampai nya di kamar, Bara langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan rutinitas nya, ia keluar dan langsung ke dapur berinisiatif untuk membuat sarapan.
***
Di kamar, Nisa mengencangkan otot-otot nya hingga menguap beberapa kali. Ia melihat ke arah kasur tampak kosong.
“Dia sudah bangun? Astaga jam berapa ini?” ia melirik ke arah jam dinding, menunjukkan pukul 8.29.
“Huft..., sudah siang. Aku belum membuat sarapan.” Ia bergegas ke kamar mandi. Tidak seperti biasa nya, Nisa hanya mandi sebentar.
Setelah berpakaian, ia segera turun hendak menuju dapur. Ia melihat Bara yang begitu tampan menggunakan apron, sambil menggoyangkan sendok.
“Maaf Tuan, saya terlambat bangun,” ujar Nisa bersalah.
__ADS_1
“Kamu sudah bangun?”
“Apa dia buta?” gerutu Nisa dalam hati.
“Iya, biar saya yang memasak,” ucap Nisa hendak mengambil alih.
“Sudah selesai, kamu duduk saja.” Sejenak Nisa melihat Bara.
“Apa yang kau lihat? Kau tidak dengar yang ku katakan?” ucap Bara lembut. Namun, dengan nada memerintah.
Nisa berjalan menuju meja makan, ia masih bingung dengan sikap Bara saat ini.
“Sepertinya, saat ini otak nya sudah berada di tempat nya! Kemarin dia hampir saja membunuhku.”
“Apa yang kau pikirkan, hah? Pasti kau sedang mengejek ku, pasti kau bilang otak ku sudah berada di tempat nya. Iya kan?”
“Hei...,” panggil Bara.
“Aku bicara dengan mu!”
“Hah, maaf Tuan.”
“Makan lah, cepat!” Nisa melihat dua piring nasi goreng yang cukup menggiur kan.
“Aku akan mengambil air minum nya,” ucap Nisa hendak berdiri. Namun, di tahan oleh Bara.
“Tunggu! Biar aku saja, kau duduk lah dan habiskan sarapan mu.”
__ADS_1
Lagi-lagi Nisa heran dengan sikap Bara pagi ini.
“Makan lah! nasi goreng itu aman, aku tidak meracuni mu.” Perlahan Nisa memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut nya, perlahan-lahan ia mulai menikmati nya.
“Enak?” tanya Bara, melihat Nisa makan dengan lahap.
“I-iya, enak,” jawab Nisa gugup.
“Nisa...,” panggil Bara pelan. Nisa berhenti mengunyah, mendengar Bara memanggil namanya untuk pertama kalinya.
“Aku minta maaf, atas perlakuan ku selama ini. Jika kamu tidak memaafkan ku, tidak masalah. Karena aku pantas menerima itu, dan mulai sekarang berhenti memanggil ku Tuan.”
Nisa menatap nya dengan tatapan bingung.
“Dan...,” Bara menggantungkan ucapan nya.
“Dan apa?” tanya Nisa serius.
“Aku membebaskan mu, pergilah cari kebahagiaan mu. Selama ini aku hanya memberi mu penderitaan, aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang,” ucap Bara tanpa melihat Nisa.
Nisa meletakkan sendok nya, seharusnya ia bahagia, tapi ada rasa kecewa mendengar ucapan Bara.
“Saya permisi dulu,” pamit Nisa. Ia beranjak meninggalkan Bara di meja makan.
“Kamu mau kemana? Sarapan nya belum di habiskan!” teriak Bara. Namun, Nisa tidak mempedulikan teriakan Bara.
Bersambung...
__ADS_1