Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 94


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Nisa berlari kecil langsung menuju UGD. Karena Nenek tidak bisa berlari, ia membiarkan Nisa lebih dulu menemui Reyhan.


“Reyhan,” panggil Nisa setelah masuk ke ruangan UGD tersebut.


“Mama, hu-hu-hu.” Tangisan Reyhan langsung pecah ketika melihat Mamanya.


“Reyhan kenapa sayang? Apa yang sakit?” tanya Nisa yang begitu khawatir sambil memeluk anaknya.


“Sakit, mah. Hu-hu-hu, sakit,” dengan suara yang terbata.


“Ada Mama sayang. Tahan ya, Biarkan Dokter mengobatinya,” ujar Nisa menenangkan Reyhan.


“Apa luka parah Dok?” tanya Nisa.


“Ini hanya luka kecil Nona. Mari kita bersih kan lukanya agar tidak infeksi,” ucap Dokternya.


Nisa melepaskan dekapan anaknya, ia duduk di bangsal tersebut lalu memangku Reyhan untuk duduk di pangkuannya.


“Anak pintar, kita bersihin dulu ya.”


Reyhan mengangguk, sambil membunyikan wajahnya.


“Tidak apa-apa sayang, Reyhan anak kuat,” tutur Nisa.


Erwin masih di posisi yang sama, ia merasa sangat bersalah sudah mengajak Reyhan untuk bermain. Karena sebelumnya Nisa tidak memperbolehkannya.


Erwin keluar dari ruangan tersebut, duduk di kursi. Merasa ada yang memegang bahunya, Erwin menoleh.


“Nyonya,” ucap Erwin.


“Maafkan aku Nyonya, aku tidak becus menjaga Rey--,” ucapan Erwin terpotong.


“Kamu jangan khawatir, anak kecil usia seperti Reyhan, pasti sangat aktif,” sela Nenek Dira.


Erwin mengangguk.


“Saya tinggal sebentar,” pamit Nenek Dira.

__ADS_1


Nenek Dira masuk meninggalkan Erwin dengan wajah yang masih bersalah, didalam UGD Nenek Dira melihat Dokter masih membersihkan luka Reyhan.


Selesai membersihkan luka tersebut, Nisa meletakkan kembali Reyhan di bangsal tersebut.


“Ini resep obatnya Nona. Anda tidak perlu khawatir, ini hanya luka biasa.”


Nisa mengangguk, mengambil resep obat tersebut.


“Terima kasih Dok,” ucap Nisa.


Nisa beralih ke Reyhan, ia tampak sibuk dengan mainannya yang sempat mereka beli di mall tadi.


“Mama tinggal sebentar ya, ada eyang bersamamu.”


“Iya Mah. Papa dimana?” tanya Reyhan melihat Erwin tidak ada.


Nisa melihat sekelilingnya, ia pun tak melihat keberadaan Erwin.


“Mama akan mencari Papa dulu ya,” tutur Nisa.


Nisa melangkah keluar, melihat Erwin duduk di kursi yang tersedia.


“Bagaimana dengan Reyhan?” tanya Erwin yang begitu khawatir.


Nisa menatapnya tajam.


“Aku ingin bicara denganmu!” ketus Nisa melangkah lebih dulu meninggalkan Erwin.


“Nisa yang dulu berbeda dengan sekarang. Aku bahkan tidak mengenalnya lagi,” batin Erwin mengikuti langkah Nisa.


Nisa melangkah menuju parkiran.


“Ada apa?” tanya Erwin.


“Mulai sekarang, menjauh dari Reyhan!”


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

__ADS_1


“Aku yakin kau tidak bodoh! Kau pasti mengerti maksudku! Menjauh dari kehidupan Reyhan!” bentak Nisa.


“Kenapa? Beri aku alasan!”


“Karena aku tidak mau Reyhan tahu siapa dirimu sebenarnya, aku tidak mau menyakiti hati anakku, jika dia tahu yang sebenarnya.”


“Kalau begitu, menikahlah denganku. Masalah selesai,” sahut Erwin santai.


“Kau pikir dengan menikah, semua akan selesai! Hah?”


“Lihat apa yang kau lakukan pada anakku sekarang!”


“Apa maksudmu? Aku tidak melakukan tindak kejahatan pada Reyhan. Reyhan terjatuh, karena berlari. Maaf itu memang kelalaianku.”


“Aku minta mulai dari sekarang pergi dari kehidupan anakku, sebelum semuanya terlambat!” tutur Nisa sambil menahan emosinya.


Erwin menghela napas berat.


“Baiklah. Jika itu membuatmu bahagia, aku akan pergi. Satu hal yang perlu kamu tahu, jangan korbankan Reyhan demi kebahagiaanmu!” tatap Erwin dengan serius.


“Sebelum aku pergi, izinkan aku bertemu dengan Reyhan untuk terakhir kalinya.”


“Tidak perlu. Kalian sudah bertemu dan bermain bersama, bukan? Itu ku rasa sudah cukup!” ketus Nisa.


Erwin menggelengkan kepalanya, atas sikap Nisa yang sangat berbeda.


“Aku sungguh tidak mengenalimu lagi,” Tutur Erwin.


Erwin melangkah meninggalkan Nisa yang masih menatapnya, Nisa merasa bersalah sudah berkata kasar kepada Erwin.


Tanpa mereka sadari, sepasang bola mata memperhatikan perdebatan mereka berdua sejak tadi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2