Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 120


__ADS_3

“Kok lama banget Pa?!” protes Reyhan.


“Maaf sayang, Papa sedikit kesulitan menemukan tempat parkir yang kosong,” ucap Erwin berbohong.


Namun, Nisa menangkap kebohongan dari wajah Erwin, bahkan sejak datang menemui mereka, Nisa memperhatikan Erwin yang sering menengok ke belakang.


“Ayo kita masuk.”


Erwin menggandeng tangan Reyhan, lalu melangkah menuju pusat bermain.


Nisa yang setia mengikuti belakang mereka, sambil melihat sekeliling.


Setibanya di tempat tersebut, Erwin mengisi saldo untuk menaiki permainan yang ada di dalam dan memberikannya kepada Reyhan.


“Sayang bermain lah apa yang ingin Reyhan main, Papa ingin ke toilet sebentar,” bisik Erwin.


Reyhan mengangguk.


“Mau kemana?” tanya Nisa.


“Mau ke toilet. Mau ikut?” tanya Erwin terkekeh.


“Hhmm...” deham Nisa meninggalkan Erwin untuk menghampiri putranya.


Erwin meninggalkan mereka, lalu mencari letak tempat toilet.


Nisa mencari tempat duduk, ia tersenyum melihat putranya yang sibuk bermain.


Cukup lama Nisa menunggu Erwin, akan tetapi tak kunjung datang. Senyumnya mengambang ketika melihat kedatangan Erwin dari kejauhan, karena cukup cemas Erwin yang begitu lama di toilet. Setelah melihat kedatangan Erwin, kecemasanannya itu langsung sirna.


“Lama sekali!” gerutu Nisa.


“Iya, maaf. Perutku mules,” ucap Erwin menyengir kuda.


“Astaga! Bagaimana sekarang, apa masih sakit?”


“Sudan membaik,” sahut Erwin.


“Aku senang melihatmu begini, sedikit ada perhatian kepadaku,” tambah Erwin.


Nisa hanya diam, tanpa ingin membalas ucapan Erwin.


“Ma, Pa,” teriak Reyhan sambil berlari.


“Pelan-pelan sayang. Tidak perlu berlari seperti itu,” tegur Nisa dengan lembut.


“Ma, Pa itu teman Reyhan. Mereka juga ada di sini,” ucap Reyhan menunjuk temannya bersama Ibunya yang menghampiri mereka.


Karena ibu dari temannya Reyhan, juga kenal dengan Nisa. Karena setiap hari bertemu di sekolah.


“Eh Ada ibu Nisa. Kalian ada disini juga?”


“Iya Bu,” sahut Nisa.


“Ini siapa?” tanyanya melihat Erwin di sampingnya.


Karena setahunya, Nisa masih menyandang status janda.


“Ini Papa aku, namanya Papa Erwin,” sela Reyhan.


Entah kenapa, bagi Nisa saat ini ia begitu sulit untuk menelan salivanya.


“Erwin,” ucap Erwin mengulurkan tangannya.


“Saya Nindy,” sahutnya.


“Anak-anak, kalian bermainlah sesuka hati kalian,” ucap Nindy.

__ADS_1


Reyhan dan temannya bersorak gembira, mereka berlari menuju permainan yang ingin mereka mainkan.


“Tidak perlu tegang Bu Nisa, aku paham karena sudah pernah ada di posisimu,” ucapnya melihat ketegangan Nisa.


“Hah... enggak Bu!” sahut Nisa memperlihatkan senyumnya.


“Tapi, wajah kalian sekilas mirip. Kata orang dulu, kalau mirip itu berjodoh loh,” godanya.


“Saya permisi dulu,” pamit Erwin.


Karena kebetulan Reyhan melambaikan tangan kepadanya, untuk meminta bantuan.


“Iya,” sahut keduanya.


Bu Nindy, duduk mendekati Nisa.


“Bu Nisa kalian serasi loh. Kapan undangannya?”


“Hah, tidak Bu! Saya hanya berteman dengannya.”


Nisa merasa kurang nyaman dengan pertanyaan Bu Nindy.


“Maaf jika pertanyaan saya membuat Bu Nisa kurang nyaman,” tuturnya.


“Jangan meminta maaf Bu, Bu Nindy tidak salah.”


“Aku baru ingat, jika Pak Erwin ini adalah rekan kerja suamiku. Pak Erwin pernah ke rumah, untuk membicarakan bisnis dengan suamiku. Namun, saat itu saya hanya sekilas melihatnya. Ia sering menceritakan Erwin kepadaku, dia sangat telaten menjaga Reyhan dan terlihat ia begitu sayang kepada Reyhan.”


“Jangan di tunda Bu. Pria seperti Erwin ini langka, bahkan banyak wanita yang menginginkan pria seperti Erwin.”


Nisa hanya tersenyum mengangguk.


Drrrtt...! suara getar ponsel milik Bu Nindy.


“Maaf, saya terima telepon dulu.”


Nisa mengangguk dan bernapas lega. Ia menatap Erwin yang tertawa bersama putranya.


***


Di rumah.


Nenek menatap tajam Toni yang duduk di depannya.


“Jelaskan Toni! Aku menunggumu!” tegas nenek.


“Maaf Nyonya.”


“Aku tidak butuh maaf mu! Aku hanya ingin kau memberitahu ku kejadian yang sebenarnya.”


Toni masih bungkam.


“Cepat katakan!” bentak Nenek Dira, membuat nyali Toni menciut.


“Sebenarnya, ada yang menyalahgunakan Kembali uang perusahaan. Kali ini jumlahnya tidak main-main,” ucap Toni mulai menjelaskan.


“Kok Bisa?! Kejadian ini terulang lagi, bahkan aku sudah pernah memperingatkan mu, bukan?”


“Bahkan dia sudah berani menculik cucuku! Ini sudah keterlaluan! Apa ini ada hubungannya dengan enam tahun yang lalu?”


“Sebenarnya... Dalang di balik semua ini adalah Andi. Mereka yang menjadi korban enam tahun lalu, kini sudah di bebaskan. Mereka hanya korban dan di jadikan kambing hitam oleh Andi.”


“Dia sudah mengakuinya kepada pihak kepolisian. Maafkan saya Nyonya, saya kembali lengah.”


“Huft... kau bukan lengah, tapi mereka yang terlalu cerdik,” ketus Nenek.


“Bagaimana dengan para korban itu?”

__ADS_1


“Saya sudah menggantikannya uang korban selama mereka di dalam penjara dan memperkerjakan mereka kembali.”


“Bagus, setidaknya kamu punya otak sedikit. Terus bagaimana dengan Andi?”


Toni menelan salivanya dengan kasar.


“Andi masih menunggu sidang putusan pengadilan dan di hukum sesuai undang-undang yang berlaku.”


Nenek mengangguk mengerti.


“Anak dan istrinya bagaimana?” tanya nenek masih menatap Toni.


“Nona Nisa meminta agar memberikan uang tiap bulan untuk anak dan istrinya. Jangan sampai mereka kelaparan, biarkan Andi menanggung akibatnya di penjara,” ucap Toni menjelaskan.


“Iya, aku dengar. Jika menculik Nisa karena ingin balas dendam, keluarga kelaparan karena ulahmu!”


“Jangan biarkan mereka kelaparan. Aku tidak ingin nama baik perusahaan tercoreng, aku bersusah payah membangun perusahaan tersebut!”


“Sekali lagi saya minta maaf, nyonya.”


“Hah... sudahlah! Yang penting pelakunya sudah di tangkap. Tolong kau suruh anak buahmu itu untuk mengawasi cucuku dan cicitku, jangan sampai kejadian ini terulang lagi!”


“Iya Nyonya.”


“Aku ingin istirahat,” ucap nenek Dira.


Sebelum nenek melangkah pergi, ia kembali mengingatkan Toni lagi.


“Ingat! Tolong awasi mereka dimana pun mereka berada.”


“Oh iya... Jangan beritahu Nisa, jika aku mengetahui ini,” tambahnya lagi.


“Iya Nyonya.”


Lalu melangkahkan kakinya, menaiki tangga perlahan menuju kamar tidurnya.


Saat tiba di kamar tidur, nenek merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.


“Sepertinya... aku harus beraksi agar mereka cepat menikah, ini semua untuk kebaikan mereka. Bahkan aku tidak sabar menunggu mereka pulang,” gumam Nenek.


Ia mengambil ponsel miliknya yang terletak di nakas samping tidurnya.


Lalu menekan nomor yang ingin hubungi di layar ponselnya.


Tutt...! Tanda suara panggilan terhubung.


“Halo...” ucap suara di dalam ponsel milik nenek Dira.


“Halo.”


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?”


“Ada, saat ini aku butuh bantuanmu,” ucap nenek tersenyum licik.


“Apa kau bisa datang sekarang ke rumah ku?”


“Aku akan menjelaskan semuanya disini dan aku akan membayarmu tiga kali lipat,” tambahnya lagi.


“Saya akan datang setengah jam lagi, Nyonya.”


Nenek Dira tersenyum, ketika rencananya sesuai dengan keinginannya.


“Bagus, saya tunggu di kamar. Kau langsung ke kamar saja, tidak perlu bertanya kepada orang rumah dan jangan banyak bicara. Karena jika kau banyak berbicara semuanya akan gagal!”


Karena ia sangat tahu, jika seorang yang ia hubungi ini adalah orang yang tidak bisa berbohong. Nenek terpaksa meminta bantuan, karena tidak ada orang lain yang dapat membantunya saat ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2