Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 136


__ADS_3

“Bisa kah kau tidak memanggilku dengan sebutan nama? Aku sudah menjadi suamimu sekarang!”


“Jadi... aku harus memanggil apa? Aku masih belum terbiasa,” lirih Nisa.


“Terserah. Yang penting tidak memanggilku dengan sebutan nama! Kita punya anak kecil, aku takut jika ikut juga memanggil nama orang tua.”


“Iya baiklah. Bagaimana kalau babi eh maksudku Hubby?”


Nisa terkekeh, karena sengaja menggoda suaminya yang sedang kesal.


“Kau ini!”


Menggapit kepala istrinya menggunakan lengannya.


“Maaf, aku hanya bercanda.”


Erwin dan Nisa tertawa kecil keluar kamar tersebut, masih dengan menggapit kepala istrinya.


Aksi mereka di pergoki oleh Reyhan yang hendak menyusul mereka.


“Reyhan,” ucap Erwin.


Ia langsung melepaskan kepalanya istrinya tersebut.


“Reyhan kenapa kemari? Ayo kita turun makan,” ajak Nisa.


“Mama dan Papa lama sekali! Maka dari itu Reyhan menyusul,” protesnya.


“Iya, maaf. Tadi masih ganti baju,” ucap Nisa menjelaskan.


Nisa menggandeng tangan putranya untuk menuruni tangga, sementara Erwin mengekori mereka di belakang.


Sesampainya di meja makan, seperti biasa, Erwin menyuapi putranya terlebih dahulu. Setelah selesai ia baru makan makanannya yang disiapkan oleh istrinya.


Yang seharusnya makan siang. Namun, menjadi makan menjelang sore. Karena kelelahan mereka ketiduran kamar hingga melewatkan makan siang.


Setelah selesai makan kesorean, tampak Toni baru saja pulang dari kantor. Karena pekerjaannya di kantor sudah selesai, kini ia kembali pulang dan mengerjakan sisanya di rumah.


“Tuan Erwin,” panggil Toni.


Langkah Erwin terhenti, ketika Toni memanggilnya. Saat itu, ia hendak kembali menemui putranya di kamar.


“Iya. Ada apa?” tanya Erwin menatap Toni.


“Saya perlu bicara dengan Tuan. Apakah anda tidak sibuk?”

__ADS_1


Erwin menggelengkan kepalanya, ia menatap Toni seperti bicara dengan nada serius.


“Ada apa?” tanya Erwin ketika sudah masuk di ruang kerja yang ada di rumah tersebut.


Toni menghela napas kasar.


“Miranda dan pria yang mirip dengan Tuan Bara, mereka...” Toni menggantung ucapannya.


“Mereka kenapa?” tanya Erwin penasaran.


“Huh... mereka sudah datang ke tempat Reyhan bersekolah. Sepertinya mereka sudah mulai bertindak.”


“Apa kau yakin itu mereka?” tanya Erwin membenarkan duduknya.


“Menurut informasi yang saya dapat, sepertinya itu memang mereka.”


Ting, suara pesan masuk di ponsel milik Toni.


Seseorang mengirim sebuah video, Toni memutar rekaman video tersebut, mereka bersama melihatnya. Didalam rekaman video tersebut, memperlihat Miranda baru saja masuk ke dalam mobil.


“Sepertinya aku mengenal tempat ini?” gumam Erwin.


Ia mengambil ponsel tersebut, lalu menggapit dengan jarinya untuk memperbesar layar tersebut.


Terlihat ada nama rumah sakit tertera di dalam video tersebut, walaupun sedikit buram, namun Erwin sudah bisa menebak jika itu rumah sakit milik Pamanya.


Erwin melihat Toni.


“Iya, sepertinya begitu. Mungkin, mereka mendapatkan informasi jika, Reyhan sedang di rawat di rumah sakit tersebut.”


“Saya berharap, anda memberitahukan tentang hal ini kepada Nona Nisa. Agar tidak ada salah paham dan saya juga sudah memberitahu Nyonya.”


“Nenek sudah mengetahuinya?” tanya Erwin.


“Iya Tuan.”


“Nenek bicara apa?”


“Beliau hanya meminta agar keluarganya di lindungi. Tapi aku sudah meminta anak buahku, untuk memantau Miranda dalam 24 jam secara bergantian.”


“Bagus. Aku akan segera memberitahu Nisa,” sahut Erwin.


Ia menepuk bahu Toni, menandakan ia bangga terhadap Toni, yang selalu ada untuk nenek Dira.


“Aku sudah menikah dengan Nisa. Jadi, aku yang menjadi kepala keluarga disini. Jika ada sesuatu terjadi kau harus memberitahuku dulu. Oke, Toni?”

__ADS_1


“Iya, Tuan.”


“Baiklah, mulai sekarang kita harus berhati-hati.”


Toni mengangguk.


Erwin berpamitan meninggalkan Toni di ruang kerja tersebut, karena laptopnya di kamar. Jadi, ia harus mengerjakan pekerjaannya di kamar.


Nisa mengajak putra dan neneknya berjalan di kebun belakang rumahnya, agar Reyhan sedikit berkeringat.


Sedangkan Erwin sedang mengerjakan pekerjaannya di balkon kamar Nisa. Ditemani secangkir kopi hangat, yang sebelumnya ia meminta Nisa untuk membuatkannya.


Saat menjelang waktu magrib, Nisa mengajak putra dan neneknya masuk ke dalam rumah. Mereka melaksanakan Shalat magrib berjamaah, Erwin yang menjadi imam mereka.


Selesai Shalat, mereka duduk di balkon. Tempat yang biasa mereka semua berkumpul, sambil menatap keindahan lampu kota di tambah malam itu bintang yang bertaburan menghiasi langit-langit.


Mereka berbincang hangat, di temani susu hangat beserta camilannya.


“Oh ya. Kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian?” tanya nenek sambil menyeruput teh hijaunya.


“Secepatnya Nek. Tunggu orang tuaku kembali kesini, seminggu lagi.”


“Oh begitu. Kalau begitu, kalian harus mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang.”


“Semuanya serahkan kepadaku Nek dan aku menyerahkan semuanya kepada Dion,” ucap Erwin terkekeh.


Begitupun Nisa dan nenek.


“Hahaha... kau ini. Toni juga akan membantu, jangan biarkan dia duduk manis. Nanti jika dia menikah, kalian yang harus menyiapkan semuanya!” goda nenek. Karena di balkon tersebut juga ada Toni yang bergabung dengan mereka.


“Toni mau menikah?” tanya Nisa.


“Iya,” sahut nenek.


“Siapa calonnya?” tanya Nisa lagi penasaran.


“Dia ada di dalam rumah ini. Toni, cepat katakan, siapa nama calonmu?” ujar nenek.


Toni melirik ke arah mereka, yang menunggu jawabannya. Lalu mengangkat bahunya, bahwa ia tidak mau memberitahunya.


Semua orang tertawa kecil, melihat Toni yang malu-malu.


“Aku pikir, es sepertimu tidak bisa mencair!” goda Erwin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2