
Nisa kembali masuk untuk menemui putra dan juga Neneknya.
“Ma. Papa mana? Kok mama datang sendirian,” tanya Reyhan dengan polosnya.
Karena melihat sang Mama hanya datang seorang diri.
“Emm, itu. Oh Papa ada pekerjaan penting, jadi Papa pulang terlebih dahulu,” sahut Nisa berbohong.
Melihat Nisa tampak gugup, nenek Dira tahu jika cucunya tersebut sedang berbohong.
“Yah Papa. Kenapa tidak berpamitan sama Reyhan sih?” dengan wajah cemberut.
“Anak pintar. Papa banyak kerjaan sayang, kan ada Eyang sama Mama disini. Nanti Papa pasti menemui Reyhan lagi,” ucap Nenek Dira mencoba menghiburnya.
Nisa menghela napas berat.
“Ayo kita pulang. Kasihan Toni lama menunggu,” ucap Nisa.
Nenek Dira mengangguk, namun ia tidak melihat ada senyum di bibir ranum cucunya tersebut.
“Mama ... gendong,” ucap manja Reyhan kepada Mamanya.
“Ayo,” ajak Nisa menggendong tubuh Reyhan.
“Jika kamu kesusahan menggendong Reyhan, panggil saja Toni.”
“Tidak perlu nek, mulai sekarang aku harus terbiasa.”
Nenek menggelengkan kepalanya, melihat sifat kerasnya Nisa.
“Iya baiklah,” sahut nenek pasrah.
Nisa menggendong putra ke parkiran, tampak Nisa seperti kelelahan menggendong tubuh putra ke mobil, apalagi dengan tubuh Reyhan yang cukup berisi.
“Nisa. Kamu kenapa? Sejak tadi Nenek perhatikan, kamu seperti sedang memikirkan sesuatu.”
“Hah. Em ... tidak ada nek.”
“Nenek siap mendengarkan jika kamu ingin mengeluarkan keluh kesahmu, jangan memendam seorang diri.”
“Nisa tidak mempunyai masalah nek,” tutur Nisa lembut.
Ia memperlihatkan senyumnya kepada Neneknya tersebut.
Terlihat Reyhan tidur pulas di pengakuan Mamanya. Sementara Toni, hanya jadi pendengar sambil fokus menyetir.
__ADS_1
***
Dikantor, Erwin meletakkan bokongnya dengan kasar di sofa empuknya.
Dion mengerutkan kening heran, melihat wajah sahabatnya tersebut.
“Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Kau sudah bertemu Reyhan kan.”
“Iya, sudah,” sahutnya singkat.
“Terus?” tanya Dion lagi.
“Terus ya nabrak!” celetuk Erwin.
“Sialan kau!” umpat Dion membuat Erwin terkekeh.
“Kau itu banyak bertanya, seperti di interogasi saja!”
“Terserah kau lah, aku malas berdebat.”
Dion kembali fokus dengan layar monitornya.
“Kapan kalian menikah?” tanya Erwin.
“Bukankah kemarin kau sudah bertanya?”
Erwin diam sejenak, untuk mengingatnya.
“Oh iya ya. Maaf aku lupa,” sahut Erwin cengengesan.
“Astaga! Cepatlah kau menikah, keburu tua.”
“Hm ...!” deham Erwin mengambil ponsel miliknya.
Ia membuka layar ponselnya, terlihat jelas foto Reyhan di jadikan wallpaper ponsel miliknya.
Dion melihat Erwin menatap foto Reyhan yang ada ponsel tersebut.
“Ada apa? Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Bicaralah, siapa tahu bisa mengurangi beban pikiranmu,” ucap Dion.
Ia tahu betul tentang sifat Erwin, jika Erwin saat ini sedang menyembunyikan sesuatu.
“Entahlah, aku bingung harus bercerita yang mana dulu. Yang jelas, untuk ke depannya aku tidak bisa bertemu dengan Reyhan lagi.”
“Kenapa? Apa mereka tidak mengizinkanmu?”
__ADS_1
Erwin mengangguk.
“Lebih tepatnya, Nisa ingin aku menjauhi Reyhan,” tutur Erwin bersandar di bahu sofa sambil memijit pelipisnya.
“Kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja. Kenapa Nisa memintamu menjauhi Reyhan?”
Erwin mengangkat kedua bahunya.
“Kenapa kau tidak nikahi saja Nisa?”
“Pertanyaanmu itu sungguh konyol! Jika Nisa mau, bahkan detik ini aku siap ke penghulu. Tapi, seperti Nisa sangat membenciku.”
“Mungkin Nisa punya alasan.”
“Entahlah. Sejak kepergian Bara, Nisa jadi berubah.”
“Bersabarlah. Aku sarankan saat ini kau sedikit menjaga jarak dengan Reyhan,” usul Dion.
“Aku akan berusaha.”
Percakapan mereka terhenti ketika ada yang mengetuk pintu.
Tok, tok, tok!
“Masuk,” sahut Dion.
“Sayang ...,” panggil perempuan tersebut kepada Dion.
“Loh, kamu disini? Bukankah pesawat tiba nanti malam.”
“Maafkan aku, aku berbohong.”
Perempuan tersebut langsung memeluk Dion.
Membuat Erwin berdecap kesal.
“Kalau pamer kemesraan, jangan di depanku!” ketus Erwin beranjak meninggalkan kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara tersebut.
Membuat keduanya terkekeh melihat wajah Erwin pergi dengan kesesalan.
.
.
.
__ADS_1