Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 33


__ADS_3

Hujan deras mengguyur kota itu beserta kilat menyambar.


Sepulang nya dari kantor, Erwin mengendarai mobil dengan santai. Tanpa sengaja menoleh ke arah toko yang sudah tutup, melihat perempuan duduk meringkuk akibat kedinginan.


“Nisa, apa benar itu Nisa? Mau kemana hujan begini?” ucap Erwin dalam hati.


Erwin menepikan mobil nya dan mengambil payung lalu keluar mobil.


“Nisa...,” panggil Erwin.


Nisa menoleh ke sumber suara, tampak Erwin turun dari mobil dengan payung sebelah tangan nya berjalan menghampirinya.


“Erwin...,” batin nya.


“Sedang apa kau disini?” tanya Erwin.


“Ini...?” tanya heran melihat koper kecil di samping nya.


“Ak-aku...”


Belum sempat Nisa menjawab, Erwin sudah menarik tangan nya.


“Kita bicara di mobil, disini hujan.”


Erwin membuka pintu mobil untuk Nisa, setelah memastikan Nisa masuk, ia kembali mengambil koper Nisa dan meletakkan nya di bagasi mobil.


Erwin masuk ke dalam mobil, melihat Nisa mengigil kedinginan. Erwin langsung melepaskan jaket nya dan menyerahkan kepada Nisa.


“Ini pakai lah,” ujar nya.


Nisa hanya melihat jaket yang di serahkan oleh Erwin, tanpa berniat mengambil nya.


“Apa yang kamu lihat? Cepat, pakai lah!”


Melihat Nisa hanya diam, Erwin berinisiatif memakaikan Nisa jaket nya karena tidak tega melihat Nisa kedinginan.


“Kau mau kemana hujan-hujan begini? Dengan membawa tas mu?” Tanya Erwin menatapnya serius.

__ADS_1


“Apa ini ada hubungan nya dengan Bara?” tanya nya lagi.


“Ti-tidak ada, ini tidak ada hubungan dengan nya,” sahut Nisa gugup.


“Lalu, mau kemana membawa tas mu? Apa kamu tidak lihat di luar hujan sangat deras.”


Nisa hanya diam, tanpa menjawab pertanyaan Erwin.


Melihat Nisa hanya diam, Erwin menghela nafas.


“Baiklah, aku akan mengantar mu pulang.”


“Hah, jangan...!” jawab Nisa cepat.


“Kenapa? Bukan kan ini tidak ada hubungan nya dengan Bara,” ujar Erwin menatap nya.


Nisa Kembali terdiam.


“Aku akan mengantar mu!” ujar Erwin mulai menghidup kan mesin mobil nya.


“Sebenar nya aku...,” Ucapan Nisa terjeda.


“Sebenarnya apa?” tanya Erwin penasaran.


Nisa menarik nafas nya dan mulai menceritakan bahwa dirinya akan segera bercerai dengan Bara, menceritakan semua nya tanpa sedikit pun tertinggal.


“Kurang ajar!” umpat Erwin.


“Erwin aku mohon, kamu tahan emosi mu. Ini tidak semua nya salah Bara.”


Erwin tampak membuang nafas kasar.


“Baiklah,” ucap nya dengan senyum paksa.


“Terima kasih,” ucap Nisa.


“Lalu, apa rencana mu sekarang?”

__ADS_1


“Aku ingin mencari pekerjaan, tapi sebelum itu aku mencari kontrakan kecil terlebih dahulu.”


Terlihat hujan sudah mulai mereda, sisa gerimis halus terlihat jatuh di kaca mobil.


“Erwin, hujan sudah reda. Aku akan pergi,” pamit Nisa.


“Kamu mau kemana? Sebentar lagi malam, aku akan mengantar mu.”


“Ke-kemana? Aku kan sudah bilang, tidak ingin pulang!”


“Sebentar lagi hari mulai malam, banyak kejahatan di luar sana! Besok aku akan menemani mu untuk mencari kontrakan.”


“Sekarang kamu menginap di Apartemen ku saja,” tambah nya lagi.


“Apartemen?” tanya Nisa bingung, memutar leher nya melihat Erwin.


“Iya, kamu akan tinggal disana untuk sementara waktu,” ucap Erwin mulai menghidupkan mobil nya.


“Ta-tapi...”


“Sudah, jangan membantah!”


Nisa pasrah, dan mulai duduk tenang di mobil dengan memandang keluar jendela.


“Aku turut senang, kamu sudah sukses sekarang,” ucap Nisa tersenyum melihat Erwin.


“Apa Bara tahu kepergian mu?” tanya Erwin mengalihkan pembicaraan.


Karena sebenarnya, ia belum menceritakan kepada Nisa kehidupan nya yang sebenarnya.


“Iya,” lirih Nisa.


Lagi- lagi Erwin membuang nafas kasar, mencoba menahan emosi nya.


“Brengsek kau Bara!” umpat Erwin dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2