Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 13


__ADS_3

“Ceritakan yang pendeknya saja!” Erwin terkekeh, ketika Nisa mencubit perutnya.


“Jangan mencubit ku cantik, aku sedang mengendarai motor,” ujar Erwin mengingatnya dengan lembut.


“Iya maaf,” lirih Nisa.


Entah lah, rasa nyaman di dekat Erwin, membuatku seakan lupa apa yang sedang terjadi di rumah mertuaku.


“Kok diam!” tanya Erwin.


“Tidak ada.”


“Habis modal ya,” ledek Erwin.


Nisa terkekeh mendengar nya, Erwin sudah sangat mengetahui dirinya sejak masih sekolah.


“Hmm, iya.”


“Aku lihat kamu sedang menyembunyikan sesuatu? Apa ada masalah?” tanya Erwin membuka obrolan.


Nisa sejak dulu, jarang terbuka tentang masalah nya pribadi nya, menurutnya itu sangat privasi.


“Sok tahu!” ketus Nisa.


“Dari raut wajah mu itu loh, tidak bisa di bohongi.”


“Tidak ada,” sahut Nisa singkat.


“Kita sudah tiba,” ujar Erwin.


“Iya.”


Nisa turun dan memberikan helm nya kepada Erwin.


“Rumah mu tertutup semua? Seperti tidak ada orang,” tanya Erwin heran.


“Iya, biasanya jendela selalu terbuka! Apa ibu tidak ada di rumah?”


“Coba kamu periksa, aku akan menunggumu disini.”


“Tapi, kamu kan harus pergi bekerja! Nanti telat loh.”


“Tidak usah memikirkan ku, cepat sana pergi periksa dulu.”


Nisa mengangguk, lalu mengetuk pintu rumahnya. Berkali kali menekan bel namun, tidak ada sahutan.


Nisa pergi ke tetangga nya, apakah ada yang melihat ibunya.


“Permisi bude, apa bude tahu ibu kemana? Soalnya sejak tadi ketuk pintu, tidak di buka.”


“Loh, nak Nisa enggak tahu juga? Tadi pagi sekali, Bu Dewi pergi membawa koper besar dan di jemput mobil.”

__ADS_1


Nisa menyeritkan dahi nya.


“Pergi bagaimana? Apa bude tahu ibu pergi kemana?”


“Nah itu, bude kurang tahu. Soalnya ibu Dewi terlihat sangat terburu-buru!”


“Oh gitu, makasih banyak yah bude!”


“Iya nak, sama-sama!”


Nisa kembali mendekati Erwin, yang masih setia menunggunya.


“Apa katanya?”


“Ibu pergi tadi pagi, tidak ada yang tahu kemana? Ibu membawa koper besar, kata tetangga sebelah.”


“Ibu kemana ya? Kok gak ngabarin,” Ujar Nisa mulai gelisah.


“Coba kamu hubungi lagi, siapa tahu bisa,” ujar Erwin memberi saran. Nisa mengangguk, hendak mengambil ponsel. Namun, baru menyadari tasnya tertinggal di mobil Bara.


“Astaga, ponsel ku tertinggal,” ucap Nisa lesu.


“Pakai ini aja, masih ingat nomornya?” tanya Erwin menyodorkan ponselnya.


“Iya, makasih ya.” Erwin mengangguk lalu tersenyum.


Nisa menekan berkali-kali nomor ibunya. Namun, tetap tidak bisa di hubungi. Nisa menggelengkan kepala nya kepada Erwin.


“Kenapa?” tanya Erwin lembut.


“Apa ibu pergi meninggalkan ku?” batinnya. Nisa duduk di teras, sambil melamun.


Erwin turun dari motor, lalu ikut duduk di sebelahnya.


“Kenapa? Kok murung, Mungkin saja ibu mu sedang ke tempat saudara nya!”


“Tapi ibu tidak mempunyai saudara,” lirih nya.


“Mau aku bantu mencarikannya? Aku selalu siap,”


“Astaga, kamu kan harus bekerja! Cepat, ini sudah telat loh.”


“Kamu ngusir?”


“Bukan begitu, kamu harus bekerja.”


“Aku sudah berhenti bekerja!” pernyataan Erwin membuat Nisa membulatkan matanya.


“Kenapa? Kok tiba-tiba?”


“Itu karena kamu berhenti, aku pun berhenti!” ujar Erwin serius. Namun, Nisa menganggap nya hanya bercanda.

__ADS_1


“Heleh, bisa aja canda nya.”


Nisa terkekeh, Erwin pun ikut tersenyum. Padahal dirinya sudah mencoba serius berbicara, namun Nisa malah sebaiknya.


“Hehe iya, tapi aku serius.” Erwin menatap nya dengan serius.


“Hm, baiklah. Terserah dirimu ” ucap Nisa pasrah lalu tersenyum.


“Ayo,” ajak Erwin.


“Kemana?”


“Ke bandara, mungkin saja ibu mu masih di bandara.”


“Iya ya, kenapa aku tidak kepikiran.”


“Ayo tunggu apa lagi,” ajak Erwin menarik tangan Nisa.


“Tapi, kamu gak keberatan kan?”


“Keberatan kenapa? Aku sudah bilang, aku selalu siap untukmu! Kapan pun kamu membutuhkan ku,” ujar Erwin ramah.


“Makasih ya."


“Kenapa terima kasih terus, seperti jual sayur saja bilang makasih melulu.”


Nisa terkekeh mendengar ocehan Erwin.


“Maaf, ayo pak ojek! Berangkat,” ujar Nisa menepuk bahu Erwin.


“Hm..,” deham Erwin.


Erwin melajukan motornya dengan kecepatan sedang, panas terik nya matahari dengan kendaraan yang berlalu lalang melakukan aktivitas masing-masing.


Tidak ada obralan di perjalanan, Erwin hanya fokus mengendarai motornya. Sedangkan Nisa sibuk dengan pikirannya. Kini mereka tiba di bandara.


“Kita berpencar ya,” usul Nisa. Erwin mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya.


“Ini bawa, agar aku bisa menghubungi mu.”


“Tapi, kamu gimana?”


“Aku masih punya satu,” Ujar Erwin mengeluarkan ponsel nya lagi. Nisa mengambilnya dan memasukkan ke dalam saku bajunya.


“Ayo, berhati-hati lah, ujar Erwin.


Nisa mengangguk.


Nisa merasa ada yang aneh dengan sikap Erwin yang perhatian, sejak dulu memang perhatian entah mengapa saat ini ada yang berbeda. Namun, Nisa tidak memusingkan hal itu, baginya Erwin dan dirinya hanya sebatas teman.


Erwin melihat kepergian Nisa, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


“hallo, bagaimana?”


Bersambung..


__ADS_2