
“Entah apa lagi yang ia rencana kan?” Batin Nisa.
“Aku harus berhati -hati, dan ku tidak boleh lemah. Ayah aku berjanji, akan merawat suami ku seperti janji ku kepada ayah,” batin Nisa.
“Pasti kau sedang mengumpat ku ya sekarang?” tanya Bara dengan nada mengejek.
“Terserah Tuan saja berpikir apa. Tapi, aku kasihan kepada mu Tuan, kenapa di kepala anda selalu ada pikiran negatif tentang saya,” celetuk Nisa.
“Shit...,” umpat Bara.
“Itu karena di wajah mu itu tidak ada aura positif,” ejek Bara lagi dengan senyum mengejek, lalu mendahului Nisa keluar kamar.
“Huff, hati nya terbuat dari apa sih?” kesal Nisa. Ia sudah benar-benar lelah menghadapi suami nya.
“Sabar,” batin Nisa menghela nafas.
Nisa mengekori belakang suami nya dengan satu di tangan kanannya, langkah mereka terhenti, ketika terdengar suara pria paruh baya yang baru saja memasuki rumah.
“Selamat pagi menjelang siang Tuan Bara,” sapa nya dengan senyum.
“Paman,” gumam Bara.
Sejenak Nisa dan Bara saling berpandangan.
“Kenapa kalian berdiri saja di tangga?”
“Maaf paman, ini seperti kejutan untuk kami,” sahut Bara langsung turun memeluk pamannya. Begitupun dengan Nisa, ia langsung mengambil telapak tangan dan menciumnya.
“Maaf kalau kedatangan ku membuat kalian terkejut.”
“Iya paman, tidak apa-apa.”
“Kalian mau kemana?” tanya pamannya, melihat dua koper besar.
“I—itu kami mau pergi berbulan madu,” sahut Bara berbohong.
“Oh, maaf paman tidak tahu kalau kalian akan pergi bulan madu.”
“Iya paman, kami pergi mendadak.”
“Kalau begitu, paman ingin meminta waktu sebentar, ada yang ingin bicarakan Kepada istri mu.”
“Iya paman silahkan.”
Nisa yang bingung, melihat Bara mendekat pada dan membisikan sesuatu.
__ADS_1
“Awas saja kamu berani bicara macam-macam! Aku pastikan, hari ini adalah hari terakhir mu,” ancam Bara hingga membuat Nisa bergidik ngeri.
“Ayo Nisa,” ajak pamannya.
Nisa bergegas mengikuti nya, menuju halaman belakang rumah dan duduk di kursi berhadapan dengan nya.
“Maaf, ada apa paman membawa ku kesini?”
“Aku tahu pasti kamu akan bertanya seperti ini nak!”
“Ini...” mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas nya.
“Apa ini paman?” tanya Nisa penasaran.
“Ini wasiat dari Ayah mertua mu. Nak, percayalah, Ayah mertua mu sangat menyanyimu melebihi anaknya sendiri. Walaupun aku bukan adik kandung nya, tapi aku bisa merasakan kasih sayang nya kepada mu.”
“In—ini...,” Nisa terbaca membaca surat itu.
“Iya, salah satu perusahaan nya di alihkan atas namamu.”
“Ini tidak mungkin paman,” sahut Nisa mulai meneteskan air mata nya.
“Nak, beliau banyak cerita tentang mu saat kami masih di luar kota! Aku tidak menyangka, kalau itu adalah perbincangan terakhir kami.”
Flashback on.
“Iya kak,” sahut nya lalu menyusulnya untuk duduk di balkon, karena mereka baru saja menyelesaikan meeting penting di salah satu hotel di kota A.
“Tumben Kaka minum kopi?”
“Sesekali gak apa-apa lah.”
“Iya deh.”
“Ridwan, jika aku sudah tidak ada nanti, tolong kamu berikan ini kepada menantu ku.”
“Apa ini kak?”
“Aku berniat memberikan salah satu perusahaan ku atas nama nya.”
“Maksudnya, bagaimana dengan Bara jika dia tahu suatu saat nanti?”
“Biarkan saja, ia kan punya perusahaan sendiri, biarkan dia mandiri. Bahkan dia tak pernah menghargai ayahnya sendiri.”
“Baiklah, kalau itu kemauan kakak.”
__ADS_1
“Sungguh malang nasib anak itu, dia bahkan tidak mempunyai siapa-siapa saat ini kecuali kita.”
“Aku tahu, saat ini hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Tapi, aku percaya kepada menantu ku ia pasti bisa melewati itu semua.”
“Kamu simpan baik-baik, jika aku tidak ada nanti, tolong berikan ini padanya.”
“Kakak jangan bicara seperti itu.”
“Usia ku sudah tidak muda lagi, Ridwan.”
“Iya aku tahu itu kak, aku pun sama, sudah tidak muda lagi,” ucap Ridwan dengan senyum nya.
Flashback off.
“Ayah..,” lirih Nisa. Sudah berapa kali dirinya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Nak, kamu wanita hebat. Paman yakin, kamu bisa merubah seseorang yang berhati batu.”
“Bagaimana kalau aku tidak bisa paman?”
“Yakin lah nak, batu saja kalau terus menerus terkena air pasti akan berlubang nak,” ujar pamannya memberi semangat.
“Akan aku coba paman,” sahut Nisa.
“Maaf, paman baru bisa datang sekarang. Saat itu perusahaan paman sedang mengalami masalah besar yang berada di luar negeri. Jadi, paman tidak bisa mengantar tempat peristirahatan terakhir kakak ku.”
“Iya paman,” sahut nya lembut.
“Tapi paman sudah lega saat ini, karena sudah memberikan semua nya apa yang beliau wasiatkan.”
“Terima kasih banyak paman. Tapi...,”
“Tapi apa? Bicara kan saja, jangan sungkan.”
“Aku tidak bisa menerima ini paman.”
“Kenapa nak?”
“Bagaimana dengan Bara? Bahkan aku tidak mengerti apa pun cara mengelola perusahaan ini, paman.”
“Kamu tidak perlu khawatir, ada asisten kamu yang akan mengajari kamu semuanya dan tentang Bara biar paman yang akan urus.”
“Tapi, paman...”
“Sudah, paman tidak mau mendengar alasan lagi,” ucap nya menepuk pelan bahu Nisa dan berlalu pergi.
__ADS_1
“Apa yang kalian bicara kan? Sepertinya sangat rahasia, hingga aku tidak boleh ikut mendengarkan,” tanya suara lantang Bara dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
Bersambung...