Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 91


__ADS_3

Nisa berlari menuju ruang ICU dimana suaminya di rawat, sudah ada Dokter dan perawat di dalam ruangan tersebut, karena sebelumnya Toni sudah memanggil Dokter. Terlihat Dokter berusaha untuk membantu Bara untuk sadar kembali. Namun, selang beberapa menit, Dokter menggelengkan kepalanya pelan.


“Ada apa Dok? Kenapa dengan suamiku? Suamiku sebelumnya sudah membuka matanya. Kenapa matanya tertutup lagi?”


Raut wajah yang begitu sangat khawatir.


“Maaf Nona, kamu sudah berusaha semampu kami.”


“Apa maksudnya Dokter?! Coba periksa lagi, mungkin suami saya masih tidur. Hiks, hiks.”


Nisa melihat Dokter tersebut, dengan airmata yang mengalir di pipinya. Membuat sang Dokter, tak tega melihatnya.


“Maaf Nona. Jantung pasien sudah berhenti berdetak dan denyut nadinya pun, sudah tidak ada lagi. Sekali lagi kami minta maaf, nona.”


“Tidak mungkin Dok, tidak mungkin! Dokter pasti bercanda?” ucap dengan suara seraknya.


“Tolong coba periksa lagi, Dok. Hiks, hiks,!”


Nisa menyatukan kedua tangannya. Melihat beberapa perawat melepaskan alat yang terpasang di tubuh suaminya, Nisa langsung menahannya.


“Kenapa di lepas?! Suamiku masih tidur,” histeris Nisa yang menahan perawat tersebut.


“Jauhkan tangan kalian! Biarkan suamiku tidur,” teriak Nisa dengan mata yang memerah.


Erwin yang baru masuk terkejut, melihat Nisa yang berteriak histeris. Erwin menatap Dokter tersebut, begitupun Dokternya.


Dokter menggelengkan kepalanya, Erwin yang mengerti apa yang di maksud oleh Dokter tersebut. Ia menghela napas berat, lalu melangkah mendekati Nisa yang memeluk suaminya.

__ADS_1


“Nisa ...” panggil Erwin lembut.


“Jangan menyentuh suamiku!”


“Nisa ..., ini aku.”


Nisa mengangkat kepalanya.


“Erwin, katakan padaku. Jika suamiku baik-baik saja, katakan! Dokter itu berbohong kan?! Suamiku hanya tidur kan? Iya kan ... mereka semua berbohongkan!” Menarik kerah baju Erwin, masih dengan suara serak akibat menangis.


Erwin menarik Nisa ke dalam pelukannya, Nisa sedikit memberontak untuk melepaskan dekapan Erwin.


Namun, Erwin sekuat tenaga menahannya. Nisa pun akhirnya berhenti berontak karena sudah tidak punya tenaga lagi dan membiarkan Erwin memeluknya, terdengar Isak tangis di dalam dekapannya.


“Ikhlaskan Bara, Dokter juga sudah berusaha. Namun, takdir berkata lain.”


Perawat memberi kode meminta izin kepadanya Erwin, untuk melepaskan alat yang masih melekat di tubuh Bara. Erwin mengangguk pelan.


Nenek Dira yang masih berdiri di dalam sana, tak kuasa menahan airmatanya.


“Saya turut berduka Nyonya,” ucap Toni kepada Nenek Dira.


Nenek Dira menghapus airmatanya, dengan sapu tangan yang diberikan oleh Toni.


“Persiapkan semua untuk pemakamannya, Toni.”


Toni mengangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Sudah tak terdengar Isak tangis Nisa, Erwin perlahan melonggarkan dekapannya.


“Nisa ..., kamu harus kuat. Ingat ada Bara kecil yang tumbuh didalam rahimmu,” Ucap Erwin mengelus kepala Nisa.


“Aku ingin melihat suamiku. Lepaskan aku!”


Erwin melepaskan dekapannya, Nisa berbalik ke arah suaminya yang sudah terbujur kaku.


“Sayang. Kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, kamu yang tenang disana. Anak kita pasti bangga, mempunyai Ayah sepertimu.”


“Aku berjanji akan menjaga dan mendidik anak kita, mas. Aku ikhlas mas, aku ikhlas ... hiks ... hiks...!” ucap Nisa kembali menangis. Cairan bening mengalir secara bersamaan dari hidung dan matanya.


Nenek Dira mendekat, mengusap pelan bahu Nisa.


“Nenek ...,” ucap Nisa memeluk wanita paruh baya tersebut.


Nisa kembali terisak, di pelukan wanita tersebut.


“Aku akan menjaga mereka berdua, aku janji. Tenanglah disana, aku akan mengujudkan semua keinginanmu, nak Bara.” Ucap Nenek Dira dalam hati.


Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Bara menitip pesan kepadanya untuk menjaga istri dan anaknya yang belum lahir. Karena sebelumnya, nenek Dira menceritakan jika istrinya sedang mengandung anaknya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2