Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 14


__ADS_3

Setelah menerima telpon, ia langsung menghubungi Nisa. Untuk memberitahukan kalau ibunya ada di bandara.


Nisa antusias bertanya, lalu berlari kecil menuju ke arah yang beritahu oleh Erwin. Dan benar saja, sang ibu tengah duduk menunggu keberangkatan nya.


“Ibu...,” teriak Nisa. Namun, terhalang oleh dinding kaca yang kedap suara.


Berulang kali Nisa memanggil ibunya, dan ketika hendak masuk. Dirinya di halang oleh petugas untuk meminta tiket nya.


“Maaf, nona tunjukan tiket mu terlebih dahulu.”


“Ak—aku tidak punya tiket, aku hanya ingin menemui ibu ku disana.”


Petugas melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nisa.


“Maaf nona, anda tidak boleh masuk.”


Dengan berat hati, Nisa kembali dan mencoba menghubungi nomor ibunya. Namun, tetap saja tidak bisa di hubungi.


Terlihat sang ibu beranjak untuk menuju pesawat yang akan terbang.


“Ibu,” lirihnya.


“Apa benar yang di katakan oleh Bara? Tapi ibu tidak mungkin melakukan itu,” batin Nisa. Nisa berjalan gontai, menuju keluar.


Sedangkan Erwin hanya menatap dari kejauhan dengan penuh arti, lalu berjalan menghampiri Nisa.


“Kamu disini?” tanya ku. Melihat Erwin yang menatap ku dengan penuh arti.


“Ada apa kamu melihatku?”


“Tidak ada!” ucap Erwin. Lalu memalingkan wajahnya.


“Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan ibu mu? Maaf aku terlambat!”


“Sudah, Namun, ibu sudah pergi!” sahut nya sedih.


“Aku akan mencari tahu, kemana ibu mu pergi?”


“Tidak perlu, ibu pasti akan menghubungi ku nanti.” Sahut Nisa yakin.


“Baiklah, kalau itu mau mu! Jangan sungkan untuk meminta bantuan ku.”


Nisa mengangguk tersenyum.


“Ayo,” ajak Erwin.


Nisa mengangguk, lalu berjalan menuju parkiran.


“Kamu tidak apa-apa?”


“Memang nya kenapa denganku?” sahut ku sambil tersenyum dengan menyembunyikan wajah sedihku.

__ADS_1


Erwin hanya menggelengkan kepala.


“Tidak!” jawabnya singkat.


“Pasti kamu sedang mengasihani nasibku sekarang? Iya kan?”


“Kamu bicara apa? Tentu saja aku kasihan kepada temanmu! Apa tidak boleh?” ketus Erwin. Namun, dengan nada lembut.


“Tidak!” jawabku singkat.


“Nisa, sekarang ikut lah dengan ku! Dan menikah dengan ku, aku akan membuat kamu bahagia.”


Pernyataan Erwin, sukses membuat Nisa terkejut dan menatap nya penuh arti.


Lalu kemudian nisa tertawa, ucapan Erwin menurutnya sangat lucu. Hingga tak bisa menahan tawanya.


“Apa, hahaha! Kamu selalu bercanda.”


“Tapi kali ini aku serius!” ujar Erwin.


Nisa awal nya berpegangan di bahu Erwin, lalu menurunkan tangannya.


“Erwin, Kamu tahu kan? Kalau saat ini aku sudah menikah!”


“Kalau kamu bercerai, kamu mau kan?”


“Kamu ini bicara apa? Aku baru saja menikah, dan tidak mungkin berpisah,” ketus Nisa. Ia mulai jenuh dengan pembicaraan Erwin, yang menurut nya tidak masuk akal.


“Iya, maaf kan aku! Aku tadi hanya bercanda,” lirih Erwin.


Nisa hanya diam tanpa menjawab permintaan maaf Erwin, dan tak lama kini mereka sudah tiba di kediaman suaminya. Nisa mengerutkan dahinya, bagaimana Erwin bisa tahu kediaman suaminya.


“Kamu tahu dari mana rumah suamiku?” menatap Erwin dengan penuh tanya.


“Ak—aku tidak...,” ucap Erwin terpotong ketika melihat kedatangan mobil.


“Bara,” lirih Nisa.


“Siapa dia? Apa ini suami nya Nisa?” batin Erwin menatapnya sinis.


“Siapa sayang?” tanya Bara.


Nisa awalnya bingung dengan panggilan suaminya, namun tersadar disini bukan hanya mereka.


Bara tiba-tiba mencium kening Nisa, hingga membuat Nisa membulat kan matanya. Erwin langsung memalingkan wajah nya.


“Kenapa tidak memberi tahu ku kalau sudah pulang? Aku kan bisa menjemput mu sayang.”


Sambil menyelipkan rambut yang jatuh ke telinga ku. Saat ini Jantung Nisa Kini berpacu dengan cepat dengan perlakuan manis Bara.


“Aku tanpa sengaja bertemu di jalan tadi,” ujar Nisa gugup.

__ADS_1


“Iya, aku bertemu nya di pinggir jalan tadi, berjalan kaki di tengah panas nya terik matahari pagi.” Erwin bicara dengan penuh penekanan.


“Aku tidak bertanya dengan mu! Oh ya, terima kasih sudah mengantar istriku. Kamu tahu kan jalan pulang?” ucap Bara tanpa melihat Erwin.


Erwin mendengus kesal dengan ucapan Bara.


“Nisa, aku pulang dulu ya! Kamu hati-hati. Kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan menghubungiku.”


“Istriku tak butuh bantuan mu, suaminya masih ada disini,” ketus Bara.


Nisa bingung melihat sikap Bara saat ini, bahkan saat ini dirinya ingin bersembunyi di lubang semut karena malu dengan sikap suaminya


“Erwin kamu hati-hati.”


“Jangan bicara dengan nya, suami mu ada disini kamu masih berani bicara dengan orang lain.”


“Ak—aku....,” Ucap Nisa terpotong.


“Jaga diri kamu baik-baik.”


Erwin mengambil motor dan berlalu pergi, sebelumnya ia menatap sinis Bara.


Setelah kepergian Erwin, Bara menarik kasar tangan istri nya menaiki tangga dan masuk ke kamar.


“Aww... sakit,” desis Nisa memegang pergelangan tangan nya yang sedikit memerah akibat cengkeraman kuat Bara.


“Apa? Kamu bilang sakit? Setelah ketahuan selingkuh dengan pria lain,” bentak Bara.


“Apa maksud mu?” menatap tajam suaminya.


“Turun kan pandangan mu, kamu sudah mulai berani sekarang ya! Hah?


Kamu tahu kan, kalau kamu itu sudah bersuami! Hah?” bentak Bara lagi.


“Aku tidak pernah berselingkuh, Erwin adalah teman kerja ku. Dan apa peduli mu? Bukan kah kamu tidak menganggap aku istrimu!”


“Kamu sudah mulai kurang aja sekarang ya!” Bara mencengkeram kuat leher Nisa, hingga sedikit kesulitan bernafas. Berkali kali Nisa memukul tangan Bara, Bara melepaskan cengkeraman nya. Hingga membuat Nisa terbatuk batuk duduk di lantai.


“Kamu harus ingat baik-baik, Jangan Sampai aku melihat mu bertemu dengan nya lagi,” ancam Bara dengan menatapnya tajam.


Melihat Nisa hanya diam, Bara kembali emosi dan menarik paksa Nisa membawa nya ke tempat tidur.


“Dimana dia menyentuh mu? Hah?” tanya Bara dengan mata memerah, sambil membuka kemeja nya.


Lalu menunjuk leher dan beberapa bagian tubuh lainnya.


“Disini? Disini? Dimana lagi?” bentak Bara. Dengan amarah yang memuncak, Bara mencium paksa bibir Nisa dengan kasar seperti orang kelaparan.


Nisa mencoba mendorong tubuh suaminya. Namun kalah dengan tenaga Bara yang super, hingga membiarkan Bara melakukan nya tanpa membalas ciuman dari suaminya.


Bara membuka baju istri nya dengan kasar, Nisa membulat kan mata nya hingga mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga dengan kakinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2