
Di siang hari, Nisa baru selesai menunaikan ibadah Shalat. Terdengar dari kamarnya, ada yang menekan bel pintu. Menandakan ada seseorang yang datang.
“Siapa yang bertamu?” Batin Nisa.
Ia bergegas keluar kamarnya, menuju lantai bawah.
Saat didepan pintu, Nisa tidak langsung membuka pintu. Ia terlebih dulu mengintip dibalik tirai jendelanya.
“Paman,” ucap Nisa merasa heran dengan kedatangan paman Ridwan, sedangkan ia sudah tahu jika Bara masih bekerja.
Nisa membuka pintu, dengan senyum di wajahnya.
“Paman,” panggil Nisa.
“Nisa,” sahutnya paman Ridwan.
“Silahkan masuk paman.”
Paman Ridwan tanpa ragu masuk ke dalam rumah.
“Nisa. Maaf jika paman mengganggumu.”
“Iya paman, tidak sama sekali. Tapi mas Bara saat ini sedang bekerja,” ujar Nisa.
“Nisa. Kedatangan paman kesini, tidak ingin bertemu dengan Bara. Tapi, ingin bertemu denganmu,” ucap paman Ridwan.
“Denganku?” sahut merasa heran.
“Ada apa paman? Sepertinya serius sekali.”
Nisa merasa ada yang aneh dengan paman Ridwan.
Paman Ridwan, membuka tas miliknya dengan penuh uang yang tersusun rapi.
“Ini untukmu,” ucap pamannya meletakkan uang tersebut di atas meja.
“Untukku? Aku tidak mengerti yang paman bicarakan.”
“Kita langsung ke intinya saja, tidak perlu banyak basa basi!”
Membuat Nisa di tambah penasaran.
“Tinggalkan Bara!” ucap pamannya.
Seketika jantung Nisa terasa berhenti berdetak, bumi pun seperti berhenti berputar mendengar ucapan paman Ridwan.
“Paman. Paman bercanda kan?” ucap Nisa memastikan bahwa yang di ucapkan pamannya gurauan semata.
“Saya tidak bercanda Nisa!”
“Paman, ini tidak mungkin!”
__ADS_1
Air mata yang lolos begitu saja.
“Nisa. Aku akan menjamin biaya hidupmu, kamu tidak perlu khawatir tentang semua itu. Tapi tolong tinggalkan Bara,” ucapnya dengan memohon.
“Kenapa jadi seperti ini paman? Bukankah sebelumnya, paman tidak ada masalah dengan hubungan kami! Tapi kenapa sekarang paman meminta ku meninggalkan suamiku? Aku tidak bisa paman! Tidak bisa!” seru Nisa menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu rela jika seorang anak lahir tanpa ayah!? Sedangkan kamu adalah seorang wanita!” bentak paman.
Sejenak, Nisa terdiam. Masih mencerna yang perkataan paman Ridwan.
“Apa mak---sud paman?” tanya Nisa bingung.
“Aku tahu kamu bukan wanita bodoh! Kamu pasti mengerti apa yang aku katakan!”
“Nisa. Sebelum menikah denganmu, Bara sudah menikah siri dengan kekasihnya. Bara terpaksa menikah siri, karena tidak disetujui oleh ayahnya Bara. Saat itu paman sendiri yang menjadi saksi pernikahan mereka. Dan saat ini, istrinya sedang hamil besar,” ucap Paman Ridwan berbohong.
“Lalu, kenapa ayah menikahkan ku dengannya? Apa ayah sengaja?” tanya Nisa tak bisa lagi menahan air matanya.
“Sebelumnya, Bara memperkenalkan kekasihnya dengan ayahmu. Namun, ayah mertuamu tidak setuju dan beberapa bulan kemudian, ayah mertuamu meminta Bara menikah denganmu. Tapi sebelum itu, Bara sudah menikah siri tanpa sepengetahuan ayah mertuamu.”
“Nisa, kamu sebagai seorang perempuan! Apa kamu tega membiarkan anak itu lahir tanpa ayah?” tambahnya lagi.
Nisa terdiam, tanpa bisa berkata- kata lagi. Diam membisu di tempat duduknya, dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
“Perkiraan Dokter, bayi itu akan lahir tiga Minggu lagi.”
“Paman harap, kamu mempertimbangkan tawaran paman. Kamu jangan menjadi wanita egois! bagaimana jika wanita itu ada di posisimu?” ucap paman Ridwan.
“Paman,” panggil Nisa.
Paman Ridwan berbalik badan, melihat Nisa yang menatapnya serius.
“Bawa uang paman! Aku tidak butuh uang itu!”
“Apa ini kurang? Aku akan memberikan sesuai yang kamu minta,” ucap paman Ridwan.
“Aku tidak ingin uang paman sepersen pun! Aku hanya ingin mendengar pengakuan dari mulut Bara sendiri!” tegas Nisa.
“Kamu jangan bodoh!” seru Paman terlihat ada sedikit kepanikan di wajahnya, namun berusaha ia sembunyikan.
“Bara tidak akan mengatakan itu! Bahkan akan membahayakan janin yang ada di kandungan istrinya!” bentak paman Ridwan.
“Kenapa? Aku tidak menyentuh bayi itu! Aku hanya ingin pengakuan dari suamiku sendiri,” ucap Nisa tidak mau kalah.
“Kalau kamu ingin pengakuan Bara, dia pasti tidak mengakuinya. Pasti dia akan memilihmu! Dasar bodoh!” bentak pamannya.
“Kamu ingin pembuktian? Bukan! Besok datang lah ke restoran xx pukul 9.00 pagi, aku akan memberikan buktinya.”
Paman Ridwan berlalu pergi, dengan membawa tas yang berisi uang tersebut.
Nisa terduduk di lantai, seakan kakinya tidak mampu lagi untuk berpijak, dunia seakan runtuh.
__ADS_1
Ia tidak menyangka, nasibnya akan menderita seperti ini.
“Paman pasti berbohong kan? Ini pasti hanya mimpi,” lirih Nisa.
***
Di kantor, Bara baru saja menyelesaikan makan siangnya. Bara menyimpan kembali kotak makannya ke dalam tasnya, saat ini ia merasa sangat beruntung mempunyai istri yang sangat perhatian.
Tok, tok, “Permisi pak Bara,” panggil pak Zaky yang langsung masuk.
“Iya pak,” sahut Bara.
“Apa kau sudah makan siang?” tanya Pak Zaky.
“Sudah pak,” sahutnya singkat.
“Apa kau sudah tahu?” tanya pak Zaky, membuat Bara mengerutkan kening heran dengan pertanyaan pak Zaky.
“Tahu apa pak? Sumedang,” ucap Bara sambil terkekeh.
“Kau ini! Bisa saja bercandanya,” sahut pak Zaky yang juga terkekeh mendengar gurau Bara.
“Aku baru melihat berita. Apa perusahaan Ayahmu sedang di ambang kebangkrutan?” tanya Pak Zaky tanpa basa basi lagi.
Tangan yang sibuk menekan Alfabet langsung berhenti, mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh pak Zaky.
“Saya tidak tahu pak,” sahutnya singkat lalu kembali dengan kesibukannya.
“Oke baiklah,” sahut Pak Zaky melihat wajah Bara yang kurang bersahabat.
“Oh saya hampir lupa. Kita ada meeting penting nanti sore, jam kerjamu akan bertambah. Kamu tidak perlu khawatir, perusahaan akan membayar lebih uang lembur mu, jika kau berhasil mendapatkan kontrak ini.”
“Saya usahakan pak,” ucap Bara melihat pak Zaky.
“Bagus. Saya permisi,” pamit pak Zaky.
Melihat kepergian pak Zaky, Bara membuang napas kasar.
“Ternyata berita ini sudah tersebar,” lirihnya.
“Berita apa pak?” tanya Andi yang masuk ke ruangan tersebut, tanpa Bara sadari.
“Hah, tidak. Bukan berita penting,” sahut Bara kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Oh..,” sahut Andi yang kembali duduk di kursi kerjanya.
.
.
.
__ADS_1