
Pagi hari.
Nisa baru saja menyelesaikan mandi, karena menurutnya pagi ini sangat gerah.
“Hubby, bangun. Hari ke kantor atau tidak?” tanya Nisa pelan sambil mengelus pipi suaminya yang masih terlelap.
“Hm...” gumam Erwin.
“Ayo Bangun, sudah hampir jam tujuh.”
Saat hendak beranjak, Nisa teringat kertas yang Paman Ridwan berikan kemarin waktu di mall.
Nisa mengambil kertas kecil tersebut dari dalam tasnya dan kembali duduk di tepi kasur.
Nisa membuka perlahan kertas tersebut, di khawatirkan akan robek jika tidak membukanya perlahan, sebab warna kertas tersebut sudah mulai kusam.
Tulisan dalam kertas tersebut, menggunakan tulisan tangan, tanpa di ketik oleh keyboard.
( Mungkin saat kalian membaca surat ini, aku sudah tiada. Sebelumnya aku minta maaf atas perbuatannya terhadap Kakak dan kakak ipar, aku tahu kesalahan ku tidak bisa di maafkan. Akan tetapi aku tidak pernah berhenti untuk meminta maaf kepada kalian. Namun, aku juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian, bahagia di dunia dan di akhirat dan semoga kalian selalu bersama.)
Nisa menghela napas melihat tulisan tersebut, terasa sesak di dadanya, bahkan air matanya jatuh begitu saja.
Karena mendengar Isak tangis, Erwin langsung menoleh ke sampingnya, melihat istrinya yang menghapus air matanya.
“Kenapa sayang?” tanya Erwin dengan suara paraunya duduk menatap istrinya.
Nisa menggelengkan kepalanya.
Erwin melihat kertas kecil di tangan istrinya, ia mengambil kertas tersebut lalu membacanya.
Erwin mengelus pelan bahu istrinya, memang benar jika wanita hamil itu perasaannya sedikit sensitif.
“Dia sudah tenang disana,” ujar Erwin.
Nisa mengangguk.
Tok! Tok!
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
“Itu pasti Reyhan,” tebak Erwin.
“Sebentar sayang, aku akan membuka pintu terlebih dahulu,” pamit Erwin perlahan menggeser tubuhnya.
Ia membuka pintu, melihat wajah Sifa yang tersenyum kepadanya.
“Sifa. Ada apa?” tanya Erwin melihat adiknya mengetuk pintu kamar tidak seperti biasanya.
“Dimana Kakakku?” tanya Sifa melirik ke kamar.
“Memangnya yang ada di depan ini siapa? Kuntilanak!” ketus Erwin.
“Bukan kakak. Maksudku kak Nisa,” ujar Sifa membenarkan ucapannya.
“Memangnya ada kuntilanak cowok?” tanya Nisa sebelum masuk ke kamar.
“Ada mungkin! Aku belum pernah bertemu sih,” sahut Erwin.
“Ada apa Sifa? Kakak ada disini, masuklah,” sahut Nisa mendengar dari dalam kamar.
“Permisi Kak,” ujar Sifa sedikit mendorong tubuh Erwin karena. Menghalangi jalannya.
Erwin menggelengkan kepalanya menutup kembali pintu kamar.
“Hai, Baby. Apa kabar?” tanya Sifa mengelus perut kakak iparnya tersebut.
“Sangat baik Aunty,” sahut Nisa menirukan suara anak kecil.
“Kak,” panggil Sifa duduk di samping Nisa memeluknya.
“Ada apa?” tanya Nisa lembut.
“Manja sekali!” protes Erwin yang berlalu meninggalkan mereka masuk ke kamar mandi.
“Apaan sih kak Erwin!” gerutu Sifa.
__ADS_1
“Kak, Sifa lagi dilema!”
“Dilema kenapa sayang?” tanya Nisa lembut.
“Kakak masih ingat teman pria yang ku ceritakan ke kakak, yang datang bersama ku saat kakak baru menikah?”
Nisa terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Iya. Terus kenapa?” tanya Nisa.
“Huhuhu... pria itu ingin datang ke rumah kak,” ujar Sifa.
“Ya kenapa memangnya kalau mau datang ke rumah? Tamu harus di sambut sayang,” ujar Nisa lembut.
“Bukan begitu kak,” pungkas Sifa.
“Terus?”
“Pria itu datang ingin melamar Sifa,” bisik Sifa.
Nisa membulatkan matanya.
“Serius?” tanya Nisa antusias.
“Iya. Tapi, aku takut!” sahut Sifa suara pelan.
“Takut kenapa?”
“Aku takut sama kak Erwin dan kak Dion. Mereka itu galak jika Sifa membawa teman cowok, apalagi datang langsung melamar Sifa, mereka tidak tahu jika Sifa punya kekasih.”
“Tolong aku ya kak, please!” tambahnya lagi.
“Iya, nanti kakak bicara dengan Erwin dan Dion.”
“Ah... terima kasih banyak kak,” ucap Sifa senang berulang kali mencium pipi Nisa.
Ceklek! Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Erwin yang baru saja selesai mandi.
“Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat serius, apa kalian sedang menggosipku?”
Nisa terkekeh melihat tingkah adik iparnya tersebut.
“Dimana bajuku, sayang?” tanya Erwin karena masih memakai handuk yang melilit di kamarnya.
“Itu,” ujar Nisa menunjuk arah sofa, karena sebelumnya ia meletekkan pakaian suaminya di sofa.
Nisa merapikan tempat mereka tidur, walaupun sedikit susah bergerak.
Melihat suaminya yang sudah selesai memakai pakaian, Nisa menghampiri suaminya tersebut lalu memakaikan dasi untuk suaminya.
“Sayang, kalian bicara apa tadi? Sepertinya sangat serius?” tanya Erwin berhati-hati.
“Oh itu...” ucapan Nisa menggantung.
Sebenarnya ia juga sedikit takut membicarakan tentang pria yang sedang dekat dengan adik iparnya tersebut.
“Apa?” tanya Erwin penasaran karena istrinya menggantungkan ucapannya.
“Duduk dulu,” ajak Nisa.
Erwin menurutinya, mereka duduk di sofa empuk.
Nisa menatap nanar wajah suaminya tersebut.
“Ada apa?” Tanya Erwin.
“Sebenarnya, ada pria yang ingin datang ke rumah.”
“Pria? Apa kau membawa pria ke rumah ini?!” mantap istrinya tajam.
“Ish... dengarkan dulu aku bicara!” protes Nisa karena kesal dengan suaminya yang selalu menyela pembicaraannya.
“Hahaha iya, iya. Maaf!” seru Erwin mencubit pelan pipi istrinya karena sangat lucu melihat wajah istrinya yang cemberut.
“Jadi... pria itu siapa?” tanya Erwin lembut.
“Hubby jangan marah ya! Sebenarnya Sifa mempunyai kekasih, pria itu ingin datang ke rumah ingin bersilahturahmi,” ujar Nisa menatap suaminya.
__ADS_1
“Terus?”
“Kalau terus, ya nabrak!” celetuk Nisa.
Erwin terkekeh.
“Ya bagaimana? Apakah Hubby setuju, karena Sifa takut membicarakan ini. Takut jika kalian memarahinya,” tambah Nisa lagi.
Erwin menghela napas, lalu tersenyum.
Sebenarnya, Erwin sudah mengetahuinya jika adiknya tersebut sudah mempunyai kekasih. Saat pertama kali Sifa dan Nisa bertemu, Dion sudah menyelidikinya bahwa Sifa datang dengan seorang pria, akan tetapi belum berani memberitahu kepada kedua kakaknya tersebut.
“Memang dulu aku melarangnya dekat dengan pria, karena Sifa masih sekolah. Katakan pada Sifa, pria itu harus datang ke rumah untuk menemui aku dan Dion,” ujar Erwin mengelus rambut halus istrinya.
“Sekarang Sifa sudah dewasa, dia berhak menentukan jalan hidupnya.”
Nisa tersenyum mendengar ucapan suaminya tersebut.
“Sayang, anak Papa sehat terus ya. Papa mau berangkat kerja dulu,” ucapnya sembari memberi ciuman di perut istrinya.
“Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Ingat! Jangan melakukan apapun di rumah ini!” ujar Erwin.
“Iya, Hubby.”
“Ayo kita turun, aku harus memastikan mu sarapan dulu,” ajak Erwin.
Erwin membantu istrinya untuk berdiri, berat badan Nisa naik drastis saat mengandung yang kedua ini ditambah lagi ada dua janin yang di dalam perutnya.
“Dimana Reyhan? Tumben gak ke kamar pagi ini! Apa dia tidak tahu jika, Papanya yang tampan ini merindukannya,” ucap Erwin menyombongkan dirinya.
“Iyakan sayang? Aku sangat tampan, bukan?”
“Hm...” deham Nisa.
“Awas saja kau bilang aku jelek! Aku akan memakanmu sekarang!” ancam Erwin.
“Terserah!” ketus Nisa.
Membuat Erwin terkekeh.
Erwin masih setia menggandeng tangan istrinya menuruni tangga, bahkan ibu mertuanya datang menghampiri mereka dan menggandeng tangan Nisa juga.
“Aduh Mi, maaf! Nisa merepotkan Mami,” imbuh Nisa merasa tidak enak.
“Tidak perlu minta maaf sayang.”
Setelah itu, mereka bergabung di meja makan. Ada Reyhan yang duduk manis, sarapan bersama Sifa.
Erwin memicingkan matanya menatap adiknya tersebut, yang tengah menyuapi Reyhan makan.
“Kakak,” bisik Sifa.
Nisa yang mengerti maksud adiknya tersebut, langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Erwin di samping.
Plak!
Nisa memukul bahu Erwin, bahkan Bu Anita yang tengah sibuk mengoleskan selai roti pun menoleh ke arah Nisa.
“Aw... sayang!” pekik Erwin sambil mengelus bahunya.
“Kenapa kau memukulku?!” tanya Erwin.
“Berhenti menatap Sifa seperti itu, kau membuatnya takut!” pungkas Nisa.
“Siapa yang menatapnya?” ujar Erwin kembali memakan roti yang maminya buatkan.
“Wah, ada pewaris Mami ternyata,” ejek Bu Anita kepada putranya.
“Apaan sih Mi!” gerutu Erwin.
Bu Anita terkekeh melihat putranya cemberut.
.
.
.
__ADS_1