Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 77


__ADS_3

“Tidak Nona, anda tidak salah dengar.”


“Dokter mungkin salah! Coba periksa lagi Dokter...! hiks.. hiks!”


Nisa tak kuasa menahan tangisannya lagi.


“Tenangkan diri anda Nona, semangatkan suami anda yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya. Anda harus kuat Nona,” ucap Dokter memberi semangat.


Dokter tersebut, memberikan segelas air putih kepada Nisa. Dirasa sudah cukup tenang, Nisa meminum air yang di berikan oleh dokter tersebut.


“Maafkan saya Dokter,” ujar Nisa.


Dokter tersenyum lalu mengangguk, ia memberikan tisu kepada Nisa.


“Terimakasih Dok.”


Melihat Nisa sudah cukup tenang, mereka melanjutkan lagi pembicaraan yang sempat tertunda.


“Apakah kanker otak bisa disembuhkan Dok?” tanya Nisa dengan suara paraunya.


“Kanker otak tidak disembuhkan, Karena sudah masuk stadium akhir. Tapi, pengobatan medis yang dapat membantu mengecilkan ukuran tumor ganas dan memperlambat pertumbuhan kanker.”


“Maka dari itu Tuan Bara harus segera di operasi. Operasi pengangkatan tumor, merupakan jenis pengobatan yang paling umum dilakukan untuk kanker otak. Prosedur medis bertujuan untuk menghilangkan sebanyak mungkin sel kanker dari otak.” Tambah dokter lagi.


“Lakukan yang terbaik untuk suami saya Dokter, saya serahkan semuanya kepada dokter.”


“Baik, anda harus menandatangani surat persetujuan operasi ini, silahkan baca dengan teliti.”


Dokter menyerahkan kertas tersebut kepada Nisa. Nisa membulatkan mata melihat biaya untuk operasi tersebut.


“Sera---seratus ju--juta,” batin Nisa ia menelan ludah kasar.


“Anda bisa membayarnya setengah terlebih dahulu nona, agar operasi bisa segera dilakukan.”


Mendengar ucapan Dokter, Nisa dengan cepat menanda tangani surat tersebut. Karena tidak mau menunggu lagi untuk mengoperasi suaminya.


“Terimakasih Dok,” ucap Nisa menyerahkan kembali kertas tersebut.

__ADS_1


“Sama-sama,” sahut Dokter tersebut.


Nisa berpamitan keluar ruangan, sebelum dioperasi ia harus membayar biayanya terlebih dahulu. Ia melangkah menuju ke meja kasir. Namun, ia merasa sangat mual dan pusing setelah mencium aroma obat-obatan yang sangat menyengat. Nisa berlari kecil ke arah toilet, ia langsung mengeluarkan isi perutnya di wastafel yang berada di toilet. Beruntung tidak ada orang di dalam toilet tersebut.


“Mual banget,” gumam Nisa lalu mencuci mulutnya.


“Aku lupa, jika aku belum sarapan. Membuat asam lambungku naik,” ucap Nisa dalam hati.


Dengan napas yang masih turun naik, Nisa kembali mengeluarkan isi perutnya lagi.


Huek...! huek..! huek..!


Setelah merasa baikkan, Nisa kembali mencuci mulutnya.


Nisa Keluar dari toilet tersebut, menuju meja kasir, untuk melakukan pembayaran.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Nisa merasakan perutnya yang sangat mual dan matanya seperti berkunang-kunang.


Bruak...! Nisa jatuh pingsan, beruntung saat itu ada beberapa perawat yang lewat dan dengan sigap membawanya ke UGD.


“Halo Nona, apakah masih terasa pusing?” tanya sang dokter wanita tersebut sambil meletakkan stetoskop di bagian dada Nisa.


“Halo Dok. Masih sedikit pusing Dok,” sahut Nisa.


“Apakah anda sebelumnya pernah melakukan tespack?”


Nisa menggelengkan kepalanya, ia baru menyadari jika bulan ini belum datang bulan. Seharusnya seminggu yang lalu, jadwalnya menstruasi.


“Kapan terakhir anda menstruasi Nona?”


“Seingat saya Tanggal 5 Dokter.”


Dokter mengangguk.


“Kita tes urine dulu ya.”


Dokter menyerahkan tempat plastik kepada Nisa.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Nisa menyerahkan tempat yang berisi urine nya.


“Berbaringlah nona jika anda masih terasa pusing.”


“Iya Dok,” sahut Nisa.


Karena Nisa memang masih merasa pusing, ia kembali berbaring di bangsal rumah sakit tersebut.


Seketika ia tersadar jika suaminya yang harus segera di operasi. Nisa langsung duduk dan hendak melangkah keluar. Namun, langkahnya terhenti ketika Dokter memanggilnya.


“Nona. Anda mau kemana?”


“Saya mau menemui suami saya Dok. Suami saya sebentar lagi mau di operasi.”


“Tenang dulu Nona. Suami anda sudah masuk dalam ruangan operasi, sudah di tangani Dokter ahlinya. Anda berdoa, agar operasinya berjalan lancar. Sekarang berbaringlah, saya ada kabar baik untuk anda,” ucap Dokter ramah.


“Kabar apa Dok? Apa suami saya baik-baik saja?”


“Suami anda pasti akan baik-baik saja.”


“Selamat ya nona. Sebentar lagi Anda menjadi seorang ibu,” ucap dokter memperlihatkan garis dua hasil pengecekan melalui tes urine nya.


Nisa mengerutkan keningnya.


“Maksudnya? saya kurang mengerti Dok,” tanya Nisa karena dirinya memang masih belum mengerti.


“Anda positif hamil Nona,” ucap dokter dengan tersenyum.


“Sa—saya Ha—hamil?” tanya Nisa lagi dengan suara terbata.


Dokter mengangguk tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2