Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 155 ( The end )


__ADS_3

Delapan tahun kemudian.


Langkah kaki secara bersamaan masuk ke area makam, dengan membawa bunga masing-masing di tangannya mereka.


Reyhan begitu cepat tumbuh dewasa, saat ini tingginya hampir sejajar dengan papanya, Erwin.


Sedangkan putri kembar tersebut yang diberikan nama Mesya dan Meysi sudah masuk sekolah dasar, wajah mereka sangat mirip tidak ada celah sama sekali, bahkan rambut mereka pun sama panjangnya.


“Aku datang kembali sayang, membawa buah hati kita lagi,” Ujar Erwin meletakkan bunga tersebut di dekat nisan.


Nisan yang bertuliskan nama lengkap Annisa Putri Fatimah.


“Lihatlah, mereka sangat cantik, bukan? Dan putra kita sekarang tingginya hampir sejajar denganku. Bahkan rambut putih ku sudah terlihat banyak, kau malah tidur nyenyak disini.”


Erwin duduk jongkok bersama tiga anaknya di makan Nisa, saat datang ke makam tersebut Erwin selalu berbicara tentang pertumbuhan anak-anak mereka.


“Hari ini adalah hari pernikahan Sifa, adik iparmu yang cantik dan juga sedikit cerewet itu. Bahkan sejak tadi dia menghubungi ku hanya bertanya bagaimana dengan Reyhan dan putri kembar kita, dia tidak pernah bertanya apa aku sudah bersiap atau tidak. Sungguh miris!”


“Sayang, kita memang sudah berbeda alam. Tapi, aku yakin suatu hari nanti dimana saat nya tiba kita akan bersama kembali,” ujarnya sambil meneteskan air mata.


Begitupun dengan Reyhan, tidak dapat di ungkiri jika dia juga sangat merindukan ibunya tersebut.


Walaupun usianya saat itu masih tujuh tahun, masih teringat di benaknya melihat ibunya sudah terbungkus dengan kain putih.


Flashback on.


Tepat tiga bulan usia si kembar Mesya dan Meysi, Nisa menghembuskan nafas terakhirnya.


Saat itu, Erwin baru saja beberapa langkah masuk ke dalam rumah, karena sebelumnya ia mendapat telepon dari Maminya jika putri kembarnya menangis terus menerus.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat nama adiknya di layar ponsel miliknya.


Deg!


Hatinya merasa cemas, karena sebelumnya ia berpesan kepada Sifa jika terjadi sesuatu dengan istrinya ia harus langsung menghubunginya.


“Halo, Sifa. Ada apa?” tanya Erwin.


“Kak! Kak Nisa kritis,” ujar Sifa dengan suara tangisnya.


Erwin langsung menutup panggilannya dan langsung memanggil Bu Anita.


“Mami!” panggilnya setengah berteriak.


Maminya kala itu kebetulan hendak keluar kamar.


“Ada apa, Erwin?” tanya Bu Anita setengah berteriak.


“Mi, aku ke rumah sakit sekarang. Nisa kritis!” ujarnya langsung berlalu pergi.


Mendengar itu, Bu Anita langsung menghubungi suaminya.


Sampainya di rumah sakit, Erwin berlari menyusuri koridor rumah sakit.


“Bagaimana?” tanya Erwin dengan nafas yang turun naik karena berlari dari parkiran.


“Masih di tangani Dokter,” sahut nenek Dira.


“Kak.”


Tangis Sifa pecah di pelukan kakaknya, Erwin memeluk adiknya tersebut.


“Kita berdoa sayang, semoga kak Nisa baik-baik saja.”


Begitupun dengan nenek Dira, bahkan kakinya gemetar tidak mampu lagi untuk berdiri.

__ADS_1


Beruntung Toni yang selalu ada di samping nenek Dira, Toni mengajaknya untuk duduk.


Terlihat dari kaca kecil, beberapa dokter berusaha memompa jantung Nisa dengan alat.


Dokter membuka pintu ruangan tersebut, Erwin menatapnya. Dokter mengerti dari tatapan Erwin padanya.


Dokter tersebut menggelengkan kepalanya pelan.


“Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, takdir berkata lain,” lirihnya


Erwin menghela napas berat, ia perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa sepatah kata pun.


Erwin menatap istrinya yang sudah terbujur kaku, bahkan alat yang ada di tubuhnya sudah di lepaskan oleh perawat.


Erwin mendekati istrinya, meletakkan kedua tangannya di pipi istrinya.


“Lihat aku sayang! Buka matamu, katakan padaku bahwa ini hanya mimpi! Buka matamu sayang,” ujar Erwin menatap wajah istrinya.


Matanya memerah bersamaan dengan air matanya mengalir.


“Buka matamu!”


“Kau membiarkan ku merawat sendiri anak-anak kita dan kau bahkan tidur sepanjang waktu. Siapa yang membangunkan ku setiap pagi, sayang?”


Masih memandang wajah pucat istrinya.


“Kenapa kau meninggalkan ku sendiri, hah... kenapa sayang?”


“Katanya kau sangat mencintaiku, tapi kau meninggalkan ku!”


“Bangun sayang!”


Erwin langsung memeluk istrinya, bahkan tangisnya langsung pecah.


Sebuah tangan mengusap bahunya pelan, Erwin mengangkat wajahnya dan melihat ke belakang.


“Nenek.”


Erwin langsung memeluk nenek Dira, yang bahkan lebih tegar dari Erwin.


“Ikhlas kan istrimu nak jangan seperti ini. Ini akan mempersulit jalannya,” ujar nenek berusaha tegar, walaupun hatinya sangat hancur.


Kedua orang tua Erwin baru datang langsung menghampiri mereka, ia melihat menantunya sudah terbujur kaku di bangsal rumah sakit.


Bu Anita terduduk lemas di lantai, suaminya juga berusaha menenangkannya bahkan air matanya keluar yang tidak terbendung lagi.


Cukup lama di ruangan tersebut, akhirnya jenazah di bawa pulang langsung ke rumah Erwin.


Bahkan saat itu Reyhan masih jam sekolah di jemput oleh Toni dan Sifa yang lebih dulu pulang.


Jenazah di makan hari itu juga di samping makam kedua orang tuanya.


Tiga hari setelah pemakaman istrinya, rumah tersebut masih di selimuti duka yang mendalam.


Bahkan Reyhan demam tinggi selama tiga hari dan harus di bawa ke rumah sakit.


Si bayi kembar tersebut, sudah tiga hari sangat rewel. Sudah tiga hari juga Bu Anita dan Erwin tidak tidur.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke rumah nenek Dira untuk sementara waktu dan benar saja putri kembar Erwin tersebut tidak rewel bahkan tidur dengan nyenyak di kamar Nisa.


Mereka bersama merawat bayi tersebut, hingga tumbuh besar. Seperti janji Erwin kepada istrinya, ia akan menyayangi semua anaknya dan tidak ada pilih kasih.


Flashback off.


“Ma, lihat. Papa nangis lagi,” ejek Reyhan.

__ADS_1


Dua putrinya tersebut ikut meneteskan air matanya.


“Tidak sayang. Papa hanya merindukan Mama, tapi Papa sudah ikhlas,” sahut Erwin.


“Huh anak Papa yang cantik, maaf ya Papa membuat kalian ikut menangis juga.”


Erwin mengusap air mata kedua putrinya tersebut, lalu memeluknya bahkan Reyhan juga ikut memeluk mereka.


Setelah puas bercerita di makam, mereka kembali ke mobil. Karena sejak tadi Sifa sudah menghubunginya berulang kali.


Mereka melaju ke gedung tempat resepsi pernikahan Sifa.


Sifa baru saja terbuka hatinya untuk menikah, karena setelah kepergian kakaknya dirinya sangat terpuruk dan tidak mau menikah. Karena dirinya bertekad untuk ikut membantu merawat keponakannya.


“Kok lama sekali sih kak?” protesnya melihat kakaknya yang baru datang.


“Huh cantiknya bidadari Aunty.”


Langsung memeluk keponakan kembarnya tersebut.


“Kalian pasti dari makam, bukan?” menatap kakaknya sinis.


“Iya,” sahut Erwin santai.


“Huftt, kenapa tidak membawaku? Tega sekali!” keluh Sifa.


“Ini siapa yang mau menikah? Coba lihat, pengantin prianya duduk sendiri disana!” ujar Erwin menunjuk pria yang baru saja menjadi suami adiknya tersebut.


“Oh, iya. Aku lupa!” Ujar Sifa terkekeh.


“Astaga!” ujar Erwin sambil menggelengkan kepalanya.


Sifa mengajak keponakan kembarnya tersebut untuk duduk bersamanya sambil menyambut tamu.


Sebelum acara selesai, Erwin mengajak putrinya pulang karena sudah mengantuk.


Mereka malam ini menginap di rumah nenek Dira, tidur bersama di kamar tempat Erwin dan Nisa.


Setalah berganti pakaian, Erwin menyusul ketiga anaknya yang duduk di balkon. Tapi sebelum itu, ia memandang foto istrinya yang ada di dalam kamar tersebut.


Foto Mereka yang Erwin edit ada Nisa dan ketiga anaknya, bingkai besar tersebut terpajang di dinding kamar.


Reyhan dan kedua adiknya berbaring di balkon sambil melihat bintang yang bertaburan di langit.


“Itu pasti Mama,” Ujar Mesya menunjuk bintang yang paling terang di langit.


“Iya, itu paling terang!” sahut Meysi.


Reyhan terkekeh mendengar percakapan kedua adik kembarnya tersebut.


Erwin datang dan bergabung dengan mereka, bahkan Erwin berbaring di tengah-tengah putri kembarnya sambil memeluknya bahkan Reyhan juga ikut bergabung dengan mereka sambil menatap ke arah langit.


\*Sekian terima kasih\*


**TAMAT**


Terima kasih banyak atas dukungan kalian semuanya.


Maaf jika ada salah dalam penulisan, karena author juga masih belajar.


Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya saya dan memberikan gift, vote serta like dan komennya.


Cerita ini masih tahap Revisi, tapi revisi tersebut tidak akan merubah isi cerita ya.


Terima kasih banyak 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2