Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 106


__ADS_3

“Erwin ... Erwin ... astaga Erwin ...” panggil Nisa berulang kali. Melihat Erwin yang sejak tadi melamun, entah apa yang dia pikirkan.


“Erwin ...” teriak Erwin di telinganya membuat sang pemilik nama langsung melonjak kaget.


“Hah ... eh maaf Nisa, aku tidak melihatmu,” tutur Erwin merasa bersalah.


“Iya. Jika kau banyak pekerjaan, aku akan naik taksi saja. Jadi... kau tak perlu mengantarku.”


“Tidak. Aku tidak ada pekerjaan,” sahut Erwin cepat.


Lalu membuka pintu mobil untuk Nisa.


“Tapi ...”


“Cepat masuklah!” ucap Erwin sedikit memaksa.


Nisa mengangguk, terpaksa masuk ke dalam mobil.


Erwin tersenyum melihat Nisa yang patuh.


Dengan perasaan yang berbunga-bunga, Erwin juga ikut memasuki mobil.


Erwin menghidupkan mobilnya dan mau mengendarai mobil miliknya keluar dari restoran tersebut.


Di perjalanan, tidak ada yang memulai percakapan di antara mereka.


Erwin fokus menyetir, sambil melirik ke sampingnya di mana tempat Nisa duduk.


Sedangkan Nisa, melihat keluar jendela.


“Bagaimana dengan perusahaanmu? Apakah ada kesulitan untuk memahaminya?” tanya Erwin memulai pembicaraan.


“Awalnya cukup sulit. Namun, sekarang aku sudah mulai mengerti, ada Toni yang selalu mengajariku.”


Erwin mengangguk mengerti.


“Aku tidak menyangka, jika kau adalah cucu dari perempuan yang kaya raya. Nasib kita tidak tahu bagaimana ke depannya kan, begitu juga denganmu.”


“Iya ...” sahutnya singkat.


“Aku juga tidak menyangka, jika kau juga mempunyai perusahaan sendiri. Sejak dulu kau menutupinya dariku!”


“Tapi itu semua terserah padamu, aku juga tidak punya hak untuk mengetahuinya,” tutur Nisa masih menatap ke arah depan.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu, hanya saja aku malu,” sahut Erwin merasa bersalah.


“Tak perlu meminta maaf. Aku mengerti kok ...”


“Terima kasih.”


Kembali hening, tidak ada percakapan lagi hingga tiba di kediaman Nisa. Keduanya masih begitu canggung untuk berbicara banyak, karena hampir lima tahun lamanya hubungan pertemanan mereka renggang.


“Apa kau tidak mau mampir dulu?” tanya Nisa ketika hendak keluar mobil.


Erwin berpikir sejenak, lalu mengangguk.


“Aku akan mampir sebentar. Aku sungguh merindukan Reyhan, apa aku boleh bertemu dengannya?” tanya Erwin untuk memastikan.


Nisa mengangguk.

__ADS_1


“Ayok turunlah. Pasti Reyhan sangat senang melihat kedatanganmu,” ajak Nisa yang lebih dulu membuka pintu.


“Iya ...” sahut Erwin keluar dari mobil.


Nisa lebih dulu melangkah, lalu menekan bel rumah.


Tidak lama pintu itu pun terbuka, yang pertama Nisa lihat adalah wajah Nenek yang menatapnya dengan wajah yang tak terbaca.


“Ada apa Nek? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Nisa heran.


“Apa yang kau lakukan terhadap Erwin? Apa kau memarahinya, hah? Dia tidak salah sama sekali,” Ucapnya.


Membuat Nisa tersenyum simpul.


“Kenapa kau tersenyum?!” ketus Nenek.


“Tidak ...” sahut Nisa singkat.


“Katakan pada Nenek. Apa yang kau bicarakan pada Erwin? Apa kau melarangnya untuk bertemu Reyhan lagi?!” Nenek menghujani Nisa dengan pertanyaan.


“Nek, biarkan aku masuk dulu.”


“Tidak. Nenek tidak mengizinkan mu masuk, sebelum kau memberitahu Nenek,” ucap Nenek masih berdiri di depan pintu.


“Kalau aku yang masuk. Apa nenek mengizinkannya?” sela Erwin yang baru saja tiba.


Membuat Nisa tersenyum melihat Neneknya, yang terkejut melihat kedatangan Erwin.


“Kau disini?” tanya Nenek memastikannya.


“Iya Nek. Aku disini,” sahut Erwin.


“Nek, sampai kapan aku tidak di perbolehkan masuk?” gurau Nisa.


Membuat Erwin terkekeh, melirik Nisa yang masih berdiri di ambang pintu.


“Hehe ... Nenek lupa. Masuklah sayang,” Ucap Nenek lembut.


Mereka masuk beriringan, dan duduk di sofa empuk yang ada di ruang tamu.


“Reyhan dimana Nek?” tanya Erwin.


Melihat sekeliling tidak ada Reyhan.


“Ada di kamarnya. Mungkin sekarang sudah selesai mandi,” sahut Nenek.


“Pergilah, temui dia di kamar, pasti ia sangat senang.”


“Iya. Aku akan ke kamarnya. Permisi Nek ...” pamit Erwin.


Sebelum Erwin beranjak dari duduknya, Nisa menghentikan nya.


Nenek Dira mengerutkan keningnya, berpikir Nisa akan melarang Erwin lagi untuk menemui Reyhan.


“Ini, kau sendiri yang memberikannya langsung,” ucap Nisa menyerahkan jam kecil yang sempat ia belikan untuk Reyhan.


Nenek bernapas lega.


“Iya ...” sahut Erwin mengambil jam tersebut dari tangan Erwin.

__ADS_1


Nenek dan Nisa menatap punggung Erwin yang mulai menjauh.


Ekhem ...! deham Nenek melihat cucunya yang ketahuan menatap Erwin. Nisa gelagapan, langsung membuka layar ponselnya karena malu.


“Nenek senang kamu sudah menyadari semuanya,” ucap Nenek merasa lega.


“Iya Nek. Maafkan keegoisan Nisa nek.”


Memeluk, neneknya.


“Nenek lebih bahagia lagi, jika kau mau membuka hatimu untuk Erwin,” sambung Nenek.


“Ah Nenek ... Nisa belum siap membuka hati untuk siapa pun Nek!” Celetuk Nisa melepaskan pelukannya.


“Jangan membahas masalah itu sekarang ya Nek, Nisa belum siap. Nek, Nisa mandi dulu ya... gerah!” tambah Nisa lagi.


Neneknya mengangguk.


Nisa beranjak dari duduknya meninggalkan Nenek sendiri di ruang tamu.


Nenek Dira bernapas lega, melihat Cucunya dan Erwin sudah kembali membaik.


“Pelan-pelan, Nenek akan berusaha membuatmu jatuh cinta lagi dan mau membuka hatimu kembali,” gumam Nenek melihat kepergian Nisa.


Saat melewati kamar Reyhan, samar-samar Nisa mendengar gelak tawa dari dalam kamar.


Karena pintu sedikit terbuka, Nisa mengintip mereka dari balik pintu. Terlihat jelas, mereka berbaring bersama di kasur, dengan perut Erwin menjadi bantalan Reyhan berbaring. Mereka menonton serial kartun anak dari ponsel milik Erwin, membuat keduanya tertawa bersama.


Tanpa sengaja Erwin melihat Nisa yang mengintip dari balik pintu, membuatnya langsung membisikkan sesuatu kepada Reyhan.


“Mama ...” panggil Reyhan yang langsung turun dari atas tempat tidur.


Membuat Nisa melonjak kaget, ia sangat malu Karena ketahuan mengintip.


“Sialan, kenapa bisa ketahuan sih? Ah ... ini sungguh memalukan,” umpat Nisa mengambang senyum paksa melihat Reyhan membuka pintu.


“Mama. Lihat, Papa membelikan aku jam tangan. Baguskan?”


Memperlihatkan jam tangan yang terpasang di pergelangan tangannya.


“Iya bagus sayang. Apalagi Reyhan yang memakainya, anak Mama semakin tampan,” goda Nisa.


“Ayo masuk Ma ...” ajak Reyhan menarik paksa tangan Nisa.


“Sayang... Mama belum mandi, bermainlah dengan Papa. Setelah selesai mandi, Mama akan menyusul kemari. Oke...”


“Yah, Mama... gak seru!” protes Reyhan.


Ia melangkah gontai mendekati Erwin yang duduk di pinggiran tempat tidur.


Nisa menggelengkan kepalanya melihat Reyhan yang cemberut. Namun, itu tidak mengurungkan niatnya untuk mandi. Karena memang dirinya merasa sangat gerah, akibat seharian beraktivitas. Nisa melangkahkan kakinya menuju kamarnya, meninggalkan Reyhan yang masih cemberut.


“Biarkan Mama mandi dulu. Kasihan Mama belum mandi, karena seharian bekerja. Setelah Mama selesai mandi, Mama akan menemui kita disini,” bujuk Erwin.


Reyhan kembali tersenyum, mereka melanjutkan kembali menonton yang sempat terjeda karena melihat kedatangan Nisa tadi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2