Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 54


__ADS_3

Bara mengendarai mobil dengan santai, menuju ke pusat perbelanjaan. Bara memarkirkan mobilnya, dan masuk dalam mall yang cukup terkenal di kota itu. Sambil menggandeng tangan istrinya, sesekali ia mencium punggung tangan istrinya.


“Sayang, aku tidak mempunyai kartu kredit. Kartunya sudah di blokir beberapa bulan yang lalu, apa kau tidak keberatan memakai uang cash saja.”


“Iya, itu tidak jadi masalah mas,” ucap Nisa tersenyum.


Bara tersenyum bahagia, mempunyai istri sebaik Nisa. Kenapa dia begitu bodoh, memperlakukan istrinya sangat buruk dulu.


Sebelum berbelanja, Bara mengambil uang terlebih dahulu di mesin ATM.


“Ayo sayang,” ajak Bara.


Mereka jalan beriringan dengan bergandengan tangan. Nisa memilih sayuran segar, serta kebutuhan dapur lainnya.


Bara masih setia mengikuti istrinya, sambil mendorong troli. Setelah di rasa cukup, Nisa ikut barisan untuk menuju meja kasir.


Usai melakukan pembayaran, Bara menenteng tas belanjaan istrinya, menuju ke mobil.


“Cape ya?” tanya Nisa melihat wajah suaminya seperti kelelahan.


“Sedikit. Entahlah beberapa hari ini, tubuhku terasa cepat lelah. Padahal aku tidak melakukan pekerjaan yang cukup berat,” ucap Bara.


“Jangan bergadang mas,” ucap Nisa lembut.


“Iya sayang. Itu semua ku lakukan demi kamu, demi masa depan kita,” sahut Bara lembut.


Bara mengendarai mobilnya keluar dari parkiran.


“Kita kemana lagi sayang?” tanya Bara ketika berhenti di lampu merah.


“Pulang saja mas. Kamu juga pasti cape dan butuh istirahat.”


“Baiklah nyonya,” sahutnya.


Saat berhenti di lampu merah, Bara menyipitkan kelopak matanya, melihat nomor pelat mobil yang ada di depannya.


“Kenapa mas?” tanya Nisa melihat suaminya menggosok matanya.


“Aku tidak bisa melihat berapa nomor pelat mobil di depan. Mungkin minus mataku bertambah, tolong ambil kaca mataku di dalam tas itu,” tunjuk Bara kepada tasnya.


Nisa menuruti apa yang suaminya katakan, dan menyerahkan kacamatanya.


“Terimakasih sayang.”


Nisa tersenyum, ia heran dengan sikap suaminya yang mengamati nomor pelat mobil yang ada di depannya.


“Ada apa dengan nomor pelatnya mas? Mau pasang nomor togel?” tanya Nisa terkekeh


“Togel? Aku tidak mengerti yang kau maksud.”


“Mataku seperti buram, melihat nomor mobil seperti berbayang,” ucap Bara.


“Apa kita ke Dokter saja mas. Akhir-akhir ini ku perhatikan, sering banget sakit kepala.”


“Aku takut kalau masalah serius,” tambah Nisa lagi.


“Ini hanya sakit kepala biasa sayang, mungkin karena kelelahan saja,” sahut Bara meletakkan kembali kacamatanya.


Percakapan mereka terhenti ketika lampu hijau menyala. Bara mengendarai mobil dengan santai. Tak butuh waktu lama, kini mereka tiba di kediaman mereka.

__ADS_1


Nisa membantu suaminya membawakan barang belanjaan masuk ke rumah, meskipun suaminya menolak ia bersikukuh mengambil satu kantong tas di tangan suaminya.


Saat di ruang tamu, Bara meletakkan tas belanja nya dengan kasar, Ia berlari menuju wastafel di dapur, dan mengeluarkan isi perutnya.


Hoek..., Hoek...Hoek..! Bara mengeluarkan isi perut hingga terbatuk-batuk.


Mendengar suara suaminya yang muntah, Nisa berlari mendatangi suaminya dan memijat pelan belakang suaminya.


“Mas,” panggil Nisa.


Terlihat nafas Bara naik turun, merasakan perutnya seperti di aduk. Bara terduduk di lantai, dengan mata yang terpejam.


“Sayang tolong ambilkan aku air hangat,” ucap Bara masih duduk bersandar.


Nisa bergegas mengambil gelas dan menuangkan air panas dicampur dengan air dingin biasa agar hangat.


“Sayang, ini minum lah.”


Nisa ikut duduk, membantu suaminya untuk minum. Nisa mengambil tisu di meja, lalu menyapu wajah suaminya yang basah dengan tisu.


“Mas, kamu baik-baik saja?” tanya Nisa khawatir. Melihat Bara masih memejamkan matanya, dengan nafas yang masih naik turun.


“Entahlah, kepalaku sangat pusing jika membuka mata,” lirih Bara.


“Kita ke kamar mas,” ajak Nisa. Perlahan Nisa menggandeng suaminya, untuk masuk ke kamar tamu.


“Istirahat lah dulu. Aku akan mengoles minyak telon di perut mu.”


Dengan telaten Nisa menggosok minyak telon tersebut diperut suaminya, dan juga memijat pelan kepala Bara.


“Apa mas sebelumnya pernah mengalami Vertigo?” tanya Nisa.


“Apa masih pusing?” tanya Nisa melihat suaminya sudah mulai membuka matanya.


“Sudah tidak,” ucap Bara berbohong.


Melihat di wajah istrinya sangat khawatir, ia terpaksa berbohong walaupun sakit kepalanya masih terasa sakit. Namun, tak sesakit tadi.


“Aku akan membuatkanmu teh hangat, agar perutmu merasa hangat.”


Bara mengangguk.


Beberapa menit kemudian, Nisa membawa nampan yang berisikan makanan dan teh hangat. Seingatnya suaminya belum makan malam, karena telat makan hingga membuatnya masuk angin pikirnya.


“Mas, diminum dulu tehnya.”


Nisa duduk di pinggiran kasur, dengan memangku nampan di kedua pahanya. Mendengar panggilan istrinya, Bara duduk menghadap Nisa.


Mengambil gelas yang berisikan teh hangat, meminumnya beberapa teguk, lalu meletakkan di nakas samping kasurnya.


“Makan mas, sejak tadi kami belum makan. Karena telat makan jadi masuk angin,” ucap Nisa.


Nisa mencampur nasi beserta kuah sup, yang ia masak sore tadi.


Nisa menyuapi suaminya, dengan patuh Bara membuat mulutnya perlahan mengunyah makanan tersebut.


Beberapa kali suapan, Bara kembali merasakan mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya. Berusaha ia tahan agar tidak mengeluarkannya.


“Sudah sayang, aku sangat mual,” ucap Bara bersandar dikepala kasur.

__ADS_1


“Tolong ambilkan kotak obat di kamarku ya,” perintah Bara.


Nisa mengangguk, meletakkan nampan di nakas. Lalu bergegas keluar mengambil obat yang berada di kamar suaminya.


Ia kembali membawa kotak obat dan segelas air putih.


“Ini,” ucap Nisa memberikan kotak tersebut.


Bara mencari obat tersebut, yang Nisa sendiri tidak mengerti obat apa yang suaminya cari. Tampak Bara membuka bungkus obat tersebut, dan mengambil air putih di tangan istrinya.


“Makasih sayang,” ucap Bara meletakkan gelas tersebut.


“Istirahat lah.”


Nisa menarik selimut menutupi sebagian tubuh suaminya.


“Sayang, berbaringlah bersamaku disini,” ajak Bara menepuk kasur sebelahnya.


Nisa tersenyum, lalu ikut masuk ke dalam selimut bersama suaminya. Tanpa ragu, Bara langsung memeluk istrinya wajahnya tepat di da*anya istrinya.


“Sayang, empuk sekali.”


Wajahnya bermain di area favoritnya.


Plak...! suara pukulan tangan Nisa, tepat di bahu suaminya. Bukannya marah, Bara malah terkekeh.


“Katanya pusing, tapi masih sempat-sempatnya berbuat mesum!" protes Nisa.


Bara mengangkat wajahnya, hingga sejajar dengan wajah istrinya dengan hanya berjarak satu senti.


“Aku mesum dengan istriku sendiri,” ucap Bara bicara pelan sambil tersenyum simpul.


“Sialan, kenapa aku yang malu,” batin Nisa menahan senyumnya.


“Sayang. Terimakasih sudah merawatku.”


Nisa mengangguk tersenyum.


“Ini sudah tugasku sebagai seorang istri, tidurlah.”


Bara mengangguk, mencium sekilas bibir ranum istrinya.


Perlahan mulai memejamkan mata, terlihat nafas yang sudah mulai beraturan dan terdengar dengkuran halus.


Melihat suaminya sudah tertidur pulas, Nisa perlahan memindahkan tangan suaminya dari atas perutnya.


Nisa keluar kamar, menuju ke dapur. Ingin membereskan barang belanjaan mereka. Menyimpan sayuran di kulkas yang mereka beli di pusat perbelanjaan, dilanjut mencuci piring bekas suaminya makan.


Hampir tiga puluh menit berkutik di dapur, akhirnya Nisa menyelesaikan semuanya.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya, yang sedang memperhatikan dirinya.


Hup..., seseorang memeluknya dari belakang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2