Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 36


__ADS_3

“Sialan!” geram Bara memukul setir mobil.


Ia kehilangan mobil Erwin, akibat mobil lain menyalip di depan nya hingga membuat dirinya kehilangan jejak Erwin.


“Brengsek kau Erwin!” Bara tak berhenti mengumpat.


“Nisa, kamu dimana?” Bara tampak frustasi, mengacak rambut nya.


Bara kembali melajukan mobil nya, karena sempat menepi sebelumnya.


***


Setiba nya di parkiran Apartemen, Erwin tertawa puas melihat Bara tidak bisa mengejar nya tanpa mempedulikan teman nya yang hampir pingsan oleh nya.


“Sialan kau!” umpat Dion merasa mual.


“Jantung ku hampir copot, tau!” mengelus dada nya, dengan napas naik turun hingga membuat Erwin terkekeh.


“Ada-ada saja, gak ada yang suruh kau ikut!” ledek Erwin tertawa kecil sambil keluar mobil dan ikuti oleh Dion di belakang nya.


Mereka memasuki lift, menuju ke kamar yang di lantai atas.


Setelah tiba di depan kamar nya, Erwin membuka pintu dengan mudah karena tidak terkunci. Ia sudah mengirim pesan kepada Bi Susi bahwa dirinya sedang berada di lift.


Saat membuka pintu, mata nya langsung tertuju kepada perempuan yang tertidur pulas meringkuk di sofa berbantal kan lengannya.


“Apa yang kau lihat? Cepat masuk, aku sudah tidak tahan ingin memuntahkan isi perut ku,” Ujar Dion melihat Erwin yang berdiri di depan pintu, karena menghalangi nya untuk masuk.


Saat keluar dari mobil tadi, Dion sudah tidak tahan ingin segera masuk ke kamar mandi. Karena, perut nya seperti di aduk-aduk.


Melihat Erwin masuk, Dion mengekori belakang Erwin. Namun, langkah nya terhenti ketika melihat wanita yang tertidur pulas di sofa ruang tamu.


“Astaga, wanita ini cantik sekali. Apa wanita ini yang bernama Nisa?” batin Dion bertanya. Ia menatap Nisa tanpa berkedip, melihat sahabat nya mematung Erwin meninju bahu nya.

__ADS_1


“Apa yang kau lihat? Jangan bilang kau memuji nya cantik,” ujar Erwin menatap nya sinis.


“Hah, enggak!” sahut nya berlalu pergi ke kamar mandi.


“Astaga, bagaimana dia bisa tahu? Selain pandai menyembunyikan istri orang, ternyata dia juga pandai membaca pikiran,” gumam Dion sambil berjalan menuju kamar mandi.


“Sungguh miris! Tapi, wanita itu benar-benar sangat cantik sih. Pantas saja Erwin tergila-gila padanya, termasuk aku,” gumam nya terkekeh dengan ucapan nya sendiri.


Nisa mengerjapkan mata perlahan, samar-samar mendengar suara yang ia kenal.


“Jam berapa ini?” gumam nya dengan suara serak khas bangun tidur, duduk dari tidur nya.


“Sudah jam tiga.” Melirik jam yang menempel di dinding.


“Kamu sudah bangun,” tanya Erwin yang muncul dari arah dapur.


“Iya, maaf ketiduran. Aku tidak tahu kalau kamu sudah datang.”


“Ayo, kamu sudah janji ingin mengantar ku kan. Aku menunggu mu sejak tadi,” ajak Nisa mengambil tas kecil nya di meja.


“Kemana?” tanya Erwin.


“Bukan kamu sudah janji kemarin, membantu ku mencari kontrakan. Apa kamu tahu? Aku sudah mendapatkan lowongan pekerjaan dan besok aku interview, aku mencari nya di internet.”


“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Nisa berdiri mengambil koper nya di belakang sofa.


“Kamu tidak akan pergi kemana-mana,” ucap Erwin datar.


“Apa maksud mu?” menatap Erwin serius.


“Iya, kamu tidak akan pergi kemana- mana! Aku tidak mau mengantar mu,” ucap Erwin lagi.


“Baiklah, aku akan pergi sendiri,” ucap Nisa ingin melangkah pergi.

__ADS_1


Melihat Nisa hendak melangkah keluar, dengan cepat Erwin mengambil koper nya.


“Kenapa mengambil koper ku? Kembali kan!” ucap Nisa yang mulai kesal dengan sikap Erwin.


“Kamu tidak boleh keluar dari sini,” perintah Erwin.


“Kenapa?”


“Nisa, tolong! Tinggal saja di sini, aku akan membiayai semua kebutuhan mu,” ucap Erwin menatap Nisa.


“Apa maksud mu? Aku tidak mengerti,” tanya Nisa mengerutkan kan kening nya mulai kesal.


“Aku akan memberikan kamu uang untuk biaya hidup mu, kamu tidak perlu cape untuk bekerja.”


Nisa menarik napas lalu membuang nya dengan kasar, sangat kesal mendengar ucapan Erwin.


“Kamu kira aku wanita simpanan mu! Aku bisa membiayai hidup ku sendiri!” ucap Nisa lembut, namun penuh penekanan.


“Tidak ada yang bilang kamu wanita simpanan, aku hanya ingin menolong mu.”


“Iya oke, aku sangat berterima kasih selama ini kamu sudah menolong ku. Tapi, bukan berarti kamu berhak atas diri ku!” ujar Nisa.


“Kamu dengar ya, aku masih berstatus istri orang dan belum resmi bercerai. Kita hanya sebatas berteman, tidak lebih! Aku tidak mau ada pemberitaan di luar sana yang tidak baik tentang kita!” Tambah Nisa.


Erwin berdiri dan melangkah bersejajar tubuh nya menghadap Nisa.


“Aku tidak peduli dengan pemberitaan di luar sana! Aku hanya ingin melindungi mu, karena aku mencintai mu sejak dulu, sebelum kamu menikah dengan Bara!” lulus dari mulut Erwin.


Mereka saling bertatapan, Nisa masih mencerna ucapan Erwin.


“Jangan gila!” kesal Nisa langsung memalingkan wajah nya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2