
Arya merebahkan badan dikursi kebesarannya, melepas lelah dan penat tubuhnya. Baru saja ia selesai melakukan rapat internal selama 2 jam bersama para staf diruang rapat.
Ia meraih hape didalam laci karena selama rapat tidak dibawanya. Dilihatnya ada beberapa chat, salah satunya dari "Andinaku".
"Mas....jangan telat makan siang ya."
Senyum tersungging dibibir Arya. Ia membalas chat yang dikirim 40 menit yang lalu itu.
"Aku baru selesai rapat, yank. Kamu kesini ya....temani aku makan."
Tak lama, ada balasan dari Andina.
"Okay...Mas. Aku jalan sekarang."
Arya langsung menghubungi Meta untuk memesankan makanan di restoran Seafood.
Hanya menunggu 30 menit, Andina sudah sampai diruangan Arya.
"Assalamualaikum..." Andina mendorong pintu, tersenyum tipis menatap Arya yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Waalaikumsalam...duduk, Yank," balas Arya sambil berdiri melenturkan badannya.
"Cape ya, Mas ?" tanya Andina.
"Iya, Yank. Tapi ada kamu datang, cape jadi hilang." Arya melangkah menuju sofa ikut duduk disamping Andina.
"Huh gombal," Andina mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya jangan seperti itu, Yank...aku takut khilap." Arya memencet hidung Andina gemas, sampai berbekas merah. Andina buru-buru melipat bibirnya, pipinya jadi merona karena malu.
Andina membuka makanan yang masih terbungkus, piring dan air mineral sudah tersedia dimeja. Ia sajikan dalam piring, udang saus asam manis, ikan kakap bakar, dan tumis kangkung. Semua masih hangat karena dimasak dadakan.
"Mau pakai sendok atau pakai tangan langsung, Mas ?" Andina menyerahkan piring yang sudah diisi nasi dan lauknya ke tangan Arya.
"Hmm sepertinya lebih nikmat pakai tangan langsung." Arya menuju washtafel untuk mencuci tangannya diikuti oleh Andina.
__ADS_1
Mereka makan dengan hening tanpa obrolan. Sepertinya Arya memang sudah kelaparan, ditambah menu yang menggugah selera, ia menyodorkan piringnya minta ditambahin nasi lagi.
"Yank, kok udahan makannya..." Arya melihat Andina telah selesai, mengambil air minumnya.
"Aku makan nasi gak banyak, Mas. Tapi lauknya yang dibanyakin, lihat tuh pada habis kan..." ujar Andina menunjuk dengan matanya.
"Pantesan kamu langsing singset, aku suka...." Arya mengedipkan matanya.
"Mas !" Andina memelototkan matanya. Arya hanya terkekeh melihat reaksi kekasihnya itu.
Suara nada dering terdengar dari atas meja kerja Arya. "Mas, hapenya bunyi. Gak diangkat dulu... ," ujar Andina.
"Nanti, tanggung...mau minum dulu."
Dering hape kembali berbunyi, Arya bergegas mencuci tangannya. Ia mengengkerutkan kening saat melihat nama pemanggil "Papa Agung".
"Assalamualaikum, Om."
"Apa ???"
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun....."
"Baik, Om. Arya akan bantu Om....kita bertemu dibandara Kualanamu saja Om."
"Om yang sabar ya....Waalaikumsalam."
Andina yang sedari tadi memperhatikan keterkejutan Arya, datang menghampiri.
"Mas, apa yang terjadi ?" Andina menatap penasaran.
Arya, mulutnya sudah terbuka untuk menjawab. Tapi hape nya berdering..."Mama"
"Hallo Ma..."
"Ar, Mama lihat Breaking News pembunuhan...."
__ADS_1
Belum selesai Mama bicara, Arya memotongnya.
"Iya Ma, Om Agung barusan telepon Arya. Itu benar Vita..."
"Innalillahi...Ya Allah, Vita....kenapa bisa seperti itu..." pekik Mama disebrang telepon.
"Ma, Arya akan ke Medan hari ini untuk dampingi Om Agung, tolong packing baju Arya ya Ma....suruh Mang Rahmat anterin ke kantor."
"Iya, Nak...Mama siapkan dulu....Kamu nanti hati-hati ya..."
"Iya, Ma." Arya menutup teleponnya.
Arya terduduk dikursinya, dirinya masih tidak percaya denga kabar yang didengar. Penasaran, ia buka berita online dari hape nya.
*Hari ini, s*ekitar pukul 11 siang WIB penghuni gedung apartemen Y digegerkan dengan temuan mayat disalah satu unit apartemen dilantai 7. Korban pertama kali ditemukan oleh petugas kebersihan yang sedang membersihkan koridor lantai 7. Saksi mencium bau tidak sedap dari pintu unit no. 204G . Karena curiga, saksi lalu melaporkannya kepada security dan ditindak lanjuti dengan dilaporkan lagi ke Polres Medan. Menurut keterangan Polisi, korban adalah seorang wanita yang sedang hamil perkiraan usia 6 minggu. Korban berinisial VE (27 tahun) diduga meninggal 4 hari yang lalu karena kehabisan nafas, melihat adanya tanda luka lebam dilehernya. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, korban dibawa ke RSUD Kota Medan untuk dilakukan autopsi mengingat kondisi jasad korban yang sudah mengeluarkan bau..............
Arya tidak kuasa untuk melanjutkan lagi membaca berita yang mulai viral itu...
"Mas ?" Andina menyentuh bahu Arya, khawatir.
"Din.....Mami nya Athaya meninggal karena dibunuh," ujar Arya menatap sendu.
"Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun.....Mas yang sabar ya..." Andina menepuk-nepuk bahu Arya, tampak ikut sedih.
Arya menggelengkan kepalanya. "Aku gak apa-apa, Yank. Vita masa lalu aku, aku sudah tidak ada lagi perasaan terhadapnya. Yang aku rasa sekarang hanya prihatin dengan nasibnya, aku mau membantu Om Agung mengungkap motif pembunuhannya semata-mata rasa kemanusiaan. Kamu jangan salah faham ya..." Arya menggengam kedua tangan Andina, menatapnya lembut.
"Aku mengerti, Mas...Niat Mas Arya mulia, aku mendukungmu..." Andina mengulas senyum, memberi suport.
"Makasih sayang...." Arya cepat mengecup punggung tangan Andina saat pegangan tangannya mulai dilepas.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang aja ya. Mas Arya hati-hati....semoga lancar dan selamat sampai urusannya selesai," tulus Andina, dengan senyum lembutnya.
"Aamiin. Makasih, Yank. Makin cinta deh..." Arya kembali greget, mencolek hidung mancung Andina.
Arya mengantar Andina ke bawah, sampai depan mobilnya. Ia lalu menghubungi Meta mencarikan tiket pesawat tercepat hari ini untuk tujuan Medan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...