SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
164. Perjalanan Waktu


__ADS_3

Waktu terus bergulir mengganti detik dengan menit, menit dengan jam, jam dengan hari. Hari pun berganti minggu tanpa ada makhluk yang mampu mencegah waktu untuk berhenti meski sesaat. Semua berjalan sesuai kehendak Sang Pencipta.


Athaya Zaydan Syahputra. Genap usianya tiga tahun. Seperti kebiasan sebelumnya, di keluarga Papa Roby tak pernah membuat perayaan ulang tahun. Cukup berkumpul keluarga, mensyukuri nikmat usia dengan makan bersama, memberi kado yang membuat Athaya senang.


Yang menuju bahagia juga dirasakan pasangan Ricky-Safa, satu bulan lagi mereka menuju halal dalam ikatan pernikahan. Segala persiapan sudah dilakukan, mereka merencanakan akan melangsungkan akad dan resepsi bersamaan di sebuah gedung Hall Center.


"Aku kurang setuju kamu nikah di gedung, Ky. Kita harus sama semua, nikah di hotel!" tegas Arya. Arya cs saat ini sedang duduk bersama di sebuah cafe selepas bubar kantor. Sudah lama mereka tidak hangout bersama karena kesibukan masing-masing juga setelah menikah kadang terbentur urusan keluarga.


"Tenang saja urusan hotel, aku yang tanggung. Kamu pilih aja mau di hotel mana..." lanjut Arya.


"Thank you bro, untuk tawarannya. Tapi aku udah sepakat sama Safa, mau di gedung. Acaranya pagi akad nikah, lanjut resepsi sampai jam 2 siang. Biar nggak cape dua kali lah...." jawab Ricky kalem. Disamping alasannya, itu adalah trik dirinya menghindari serangan di malam pertamanya.


"Ya sudah kalau itu maumu. Aku booking untuk kamar pengantin aja, gimana? Aku akan minta manajer hotel menghias kamar dengan sangat romantis." Arya kekeuh menawarkan diri. Karena dia pun punya misi menuntaskan pembalasan Si Pitung.


Ricky menggelengkan kepalanya. "Gak usah Ar. Beres acara, aku pulang ke rumah Safa, paling nginap semalam. Besoknya mau aku bawa pindah ke apartemen."


Ricky teguh dengan penolakannya, Arya pengkuh dengan penawarannya. Rendi dan William saling tatap dengan senyum tipis. Mereka tahu niat kedua orang itu. Yang satu ingin sukses malam pertama, yang satu ingin menggagalkan. Demi tercapainya kegagalan malam pertama semuanya, Arya.terus merayu Ricky.


"Sudahlah Ar. Ricky dan Safa kan sudah buat konsepnya begitu, kamu kasih mentahnya saja lah...." Rendi menengahi keduanya yang tak kunjung usai berdebat.


Ricky tersenyum lebar ke arah Rendi, mengacungkan dua jempolnya. "Kau memang dokter cerdas, sudah ngasih solusi terbaik."


Rendi hanya tersenyum sinis, "Gue tau lo ingin menghindar dari gangguan Arya," batin Rendi.

__ADS_1


Arya akhirnya mengalah, tapi dirinya tak akan menyerah. Tetap akan memikirkan lagi cara pembalasan si pitung di rumah Safa nanti.


"Aku sudah transfer tuh. Itu kado mentah dari aku dan Andina. Kado khusus dari Andina untuk safa nanti beda lagi..." Arya menyimpan hape di meja setelah melakukan transaksi M-Banking.


Mat Ricky membelalak sempurna, melihat notif bank yang masuk ke hapenya menampilkan angka. "Alhamdulillah....rejeki anak soleh....yeay" Ricky berdiri mengusap wajahnya, memekik girang. Sampai pengunjung cafe menoleh kepadanya.


William langsung menarik tanganya sampai Ricky terduduk kembali. "Norak lo...tuh diliatin orang-orang."


"EGP." jawab Ricky cuek. (Emang gue pikirin)


Empat gelas minuman yang masih mengepulkan panas tersaji di atas meja, menghembuskan aroma yang berbeda.


"Sudah jarang ya kita nongkrong bersama..." ujar Willi mulai mengenang kebersamaan sejak SMA. Dimana dulu tiada hari tanpa ngumpul bareng, lebih seringnya ngumpul di rumah Arya. Karena Papa Roby sangat tegas, boleh nongkrong dan begadang diluar hanya malam minggu saja. Jangan sampai mengganggu jam sekolah. Dan hasil disiplin itu, membuat keempatnya sukses saat ini.


"Semua ada saatnya bro, terutama setelah menikah, waktu kita jadi terbagi-bagi. Untuk keluarga, untuk pekerjaan, baru terakhir me time." ujar Rendi menimpali.


****


"Ayang, kenapa cemberut gitu hmm, jelek tau..." Rendi yang sedang mengemudi, mencolek dagu Marisa yang duduk di jok sampingnya. Mereka baru pulang dari tempat praktek, Marisa ikut menemani suaminya itu karena bosan di rumah sendiri.


"Aku sebel, hubby. Pasien hubby mahmud semua, cantik-cantik lagi...." Marisa mencebikan bibirnya.


Rendi tertawa lepas melihat istrinya merajuk karena cemburu. "Sayang....pasien aku kan anaknya bukan Mamanya..." Rendi mencium punggung tangan sang istri dengan tangan kirinya. Menyalurkan rasa sayangnya agar Marisa tenang.

__ADS_1


"Iya aku tahu...tapi aku memperhatikan mereka selalu curi-curi perhatian sama kamu hubby..." Marisa masih saja bete. Bagaimana tidak, para mahmud (mamah muda) selalu menatap penuh pesona saat dokter Rendi sedang memeriksa pasien. Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang ramah membuat dokter Rendi menjadi buah bibir dan viral dikalangan emak-emak.


"Jangan-jangan sengaja ya anaknya disuruh sakit biar mereka bisa sering ketemu suamiku si dokter tampan...." Marisa masih saja meluapkan kekesalannya. Rendi tidaklah marah, malahan terkekeh senang istrinya yang manja itu cemburu padanya.


"Jangan suudzon Ayangku yang cantik, yang penting aku ini milikmu luar dan dalam..." Rendi menggoda Marisa dengan menarik tangan Marisa ke tengah selangkangannya. Sontak, Marisa tersenyum malu dan menyenderkan kepalanya di bahu Rendi yang tetap fokus menyetir.


Rendi tahu betul sifat Marisa karena sejak lama mengenalnya. Meskipun manja tapi ia baik dan penurut. Justru itu yang membuat Rendi jatuh cinta pada anak bungsu Mama Rita itu.


"Yang, itu mobil kakakmu kan?" Rendi memelankan laju mobilnya, mengganti sorot lampu dekat dengan lampu jauh untuk memastikan plat mobilnya.


Marisa yang sedang menyender di bahu sang suami langsung menegakkan duduknya. "Iya benar hubby, kenapa ya mobil Kak Arya?" Marisa ikut heran karena lampu hazard mobil Arya menyala.


Rendi menepikan mobilnya tepat di belakang mobil Arya. Jalanan di daerah itu nampak sepi, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang karena jam menunjukan jam 10 malam. Ia turun dari mobilnya diikuti Marisa, melangkah menuju pintu kemudi.


Rendi mengetuk kaca beberapa kali tapi tak dibuka. Ia tidak bisa melihat kedalam karena kaca mobilnya riben 80%.


"Pak Asep....Arya...." Rendi memanggil keduanya tapi tak ada sahutan.


"Astagfirullahaladziim Pak Asep...Pak Asep bangun...." Rendi terkejut saat membuka pintu mobil yang ternyata tak terkunci. Sopir itu dalam keadaan pingsan, kepalanya berlumuran darah.


"Ya Allah, Pak Asep kenapa...apa yang terjadi..." Marisa ikut memekik, ia menutup mulutnya melihat keadaan sopir kakaknya itu.


"Kak Arya...kakak dimana...hik hiks" Marisa berteriak panik sambil menangis. Tak ada kakaknya yang biasa duduk di samping sopir.

__ADS_1


"Hubby....ini ada apa...kak Arya kemana....hwuaaa..." Marisa menangis keras di pelukan Rendi.


Rendi mengusap-ngusap punggung istrinya memberikan ketenangan, sambil dirinya menghubungi Ricky dan Willi.


__ADS_2