
Andina menyadari akan bakat yang dimiliki Lala yang senang bernyanyi. Diakui, suara Lala bagus dan merdu. Suasana rumah tak pernah sepi dengan nyanyian Lala. Bukan lagu korea ataupun dangdut yang dinyanyikannya. Andina mengarahkan sang anak khusus membawakan genre religi berupa lagu bernuansa islami dan salawat Nabi. Setiap kenaikan kelas Lala selalu didaulat sekolah untuk tampil di panggung bernyanyi dengan musik gambus seperti yang tengah trend saat ini. Beberapa teman sesama wali murid menyarankan Lala untuk ikut ajang pencarian bakat bernyanyi anak yang diadadakan salah satu stasiun televisi. Andina menggeleng.
Termasuk Arya pun pernah menyarankan. "Sayang, Lala ikutin audisi aja. Kasih ruang buat ngembangin bakatnya."
"Papi, jika Lala didukung untuk bernyanyi genre bebas, terus dilatih dan dilatih, maka setiap bait akan terngiang, meresap ke hati dan pikiran. Bisa lupa akan mengaji dan lalai dalam shalat."
"Tapi kalau konsisten di nasyid atau secara umum musik religi, isinya kan salawat Nabi dan ajakan kebaikan. Setiap saat dilatih dan terus dilatih maka yang terngiang dan meresap Itu mengandung kebaikan dan menenangkan hati. Ini menjadi trik mendidik agar anak-anak cinta Islam dan senang bersalawat."
Arya manggut-manggut.
"Bukankah kita ingin anak-anak sukses tidak hanya dunia tapi juga akhirat kan, Pi?!"
"Kamu benar sayang. Makin cinta deh." Satu kecupan mendarat di pipi.
Obrolan Lala dan Athaya membuyarkan lamunan Andina yang tengah termenung mengingat percakapan seminggu yang lalu di tempat tidur, sebelum Arya meminta jatah kesukaannya.
"Telpon dong kak. Aku bentar lagi mau tampil."
"Iya, sabar."
"Telpon siapa, sayang?" Andina menatap Athaya yang mulai menempelkan ponsel di telinga.
"Manda, Ma. Kan semalam udah janjian mau nonton aku nyanyi." Lala yang menjelaskan.
"Itu Manda!" Athaya menunjuk pada anak berkaus pink dengan gambar My little pony yang tengah celingukan. Bergegas Athaya menghampiri.
"Manda, ditunggu Lala tuh." Athaya menunjuk dengan dagunya. Lala terlihat melambaikan tangan dengan senyum sumringah.
"Kak Taya, apa kabar? Kapan pulang dari pesantren?" Sambil berjalan diikuti pengasuhnya, Manda dengan rambut panjang dikepang dua antusias bertanya. Setiap main ke rumah Lala, ia tak melihat lagi Athaya sejak masuk SMP karena sekolah sambil mondok di pesantren Tahfidz di wilayah Tangerang.
"Alhamdulillah. Udah 3 hari, dijemput Papi dan semuanya."
"Ish, Lala kok gak bilang. Aku juga pengen ikut jemput...pengen liat sekolahnya kak Taya." Manda mengerucutkan bibirnya sebagai protes. Athaya hanya tertawa, tidak sempat menjawab keburu Lala dan Manda heboh saling berpelukan karena acara kontes nyanyi akan dimulai.
"Lala sama tante the best pokoknya. Cemungut yaaa." Manda mengacungkan jempol sebelum berpisah dengan Lala dan tante Andin yang akan bersiap di back stage. Tampak pasukan Memey duduk anteng sambil memakan es krim.
****
2 mobil meluncur meninggalkan mall menuju cafe zero. Sebelumnya Andina sudah menghubungi Celine, meminta disiapkan ruangan khusus untuk rombongan anak-anak yang akan merayakan kemenangan dengan makan-makan. Duet lagu Allahul Kafi mendapatkan penilaian tertinggi dari dewan juri sehingga keluar sebagai juara pertama. Aksi catwalk Albiru juga menyabet penghargaan juara 2. Sungguh aksi keseruan tanpa target itu berbuah hadiah. Lala dan Al menjadi peserta dengan suporter terbanyak dan terheboh.
"Yes. Makan-makan---" Heboh anak-anak begitu turun di parkiran cafe.
"Yuhuuu. Makan-makan di cafe mami akuuuu." Memey beralih memimpin pasukannya karena ia yang paling tahu tempat yang disebutkan mama Andin.
"Si Willi bikinnya gimana ya?" Ricky bersama Arya mengekori para istri yang berjalan di depannya.
"Bikin apa?" Arya menoleh sambil mengernyit. Tak urung para istri yang berjalan di depan juga menoleh sesaat.
"Itu waktu bikin Memey. Anak itu gak bisa duduk diam, centilnya kayak ulet kepanasan."
Pletak.
Arya menyentil kening Ricky. "Udah serius dengerin. Dasar---" Disusul dengan memiting leher orang yang paling sering berada bersamanya itu.
__ADS_1
"Beb, suami mu--" Andina geleng-geleng kepala disusul tawa melihat sahabatnya itu yang tepuk jidat.
"Congrats, Andin." Celine menyambut kedatangan rombongan dan memeluk Andina sebagai ungkapan turut bahagia. Willi kebagian tugas melerai anak-anak yang ribut karena rebutan tempat duduk.
"Makasih, Ci. Padahal cuma seru-seruan aja. Eh alhamdulillah, nggak nyangka menang." Keseruan makin ramai dengan kedatangan Marisa dan Rade yang baru bisa menyusul karena menunggui dulu Rendi dan Satya yang akan berangkat ke Jakarta.
Tiga meja disusun rapat memanjang demi bisa menampung semua pasukan. Makanan dan minuman sudah memenuhi meja. Saatnya memulai acara makan.
"Alhamdulillah hari ini kita bisa kumpul bersama meskipun tidak komplit." Arya pun memanggil Athaya yang asyik ngobrol dengan Manda di kursi palin ujung. "Kak, pimpin do'a dulu!"
"Aku aja Papi." Al unjuk tangan dengan semangat. "Bismika allahumma---"
"Ihh adek salah---" Lala memotong sembari terkikik. Sontak yang lain pun mentertawakan kepedean Al.
"Itu doa mau bobo, Al." Lala lanjut berbisik di telinga Al yang kini manggut-manggut dengan wajah berbinar. Al pun mengulang membaca doa, kali ini dengan benar.
Hening hanya tercipta selama makan saja. Setelahnya, berisiknya anak-anak kembali mengudara di area bermain yang tersedia ayunan, perosotan dan jungkat-jungkit.
"Kak Taya, ayo main perosotan." Manda menghampiri Athaya yang menjadi pengawas para bocil.
"Nggak ah. Aku bukan anak kecil." Athaya tetap fokus mengawasi Nana dan Rezvan main jungkat-jungkit.
"Kak Taya, besok aku mau ke Jakarta. Liburan di rumah Oma terus ke Bali sama Oma, mau liburan di hotel tante Nita." Manda mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Ini buat kak Taya."
"Apa ini?!" Athaya memperhatikan benda berbahan seperti kaca dengan bunga sakura warna kuning di dalamnya.
"Itu bisa jadi gantungan kunci atau tas." Manda mempraktekan memutar bulatan atas sehingga berfungsi menjadi pengait. "Aku beli waktu liburan ke Jepang sama Papa. Sekarang buat kak Taya aja. Kan nanti kita gak ketemu lagi, keburu kak Taya pergi pesantren lagi. Buat kenang-kenangan, hi hi hi." Pungkasnya malu-malu.
"Makasih ya Manda." Athaya tersenyum senang. "Wah, ada namanya Amanda Molek." Ia terperangah takjub melihat ada tulisan latin di bagian belakangnya."
****
Baru aja sehari berpisah udah kangen lagi.
Andina menghela nafas panjang. Ia menutup pintu kamar Athaya setelah cukup lama berada di kamar itu. Hanya dengan cara menatap semua trofi yang berada di lemari kaca, meraba figura si sulung yang riang dalam balutan seragam taekwondo, sedikit mengobati kerinduannya.
"Ma, sebulan lagi kakak ikut lomba story telling tingkat SMP. Doain ya."
Wajah semangat si sulung masih tergambar saat kebersamaan kemarin di asrama pesantren. Kepada papinya juga meminta doa yang sama.
Turun ke lantai bawah ia mendapati Lala yang tengah menemani Al bermain lego. Hatinya menghangat melihat bersaudara tampak akur dan saling menyayangi. Termasuk Athaya yang juga selalu terlihat melindungi kedua adiknya. Selama libur, Lala dan Al tampak lengket bermain selalu bertiga. Mungkin karena kangen lama tidak bertemu.
"Kalau nyari Mama ada di kamar ya. Mama mau mandi dulu." Andina mengusap kepala dua anaknya yang tampak fokus membuat robot transformer.
"Iya, Ma." Lala yang menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari memilih warna lego yang akan di pasang. Al hanya mengangguk.
Guyuran air dingin dari shower yang memancar kuat, seolah totok refleksi yang menyegarkan kepala dan seluruh tubuh. Berbalut bathrobe dan rambut yang berbungkus handuk, Andina keluar kamar mandi usai 15 menit membersihkan badan untuk menyambut suaminya pulang 2 jam lagi.
"Eh Papi kok udah pulang?" Andina cukup kaget melihat Arya sudah berada tiduran di sofa menselonjorkan kaki.
"Meeting sama pak Wisnu mendadak dibatalin. Padahal aku sudah sampe hotelnya." Arya menepuk sofa agar Andina duduk didekatnya.
"Anaknya pak Wisnu ditangkap polisi. Kasus narkoba." Arya memeluk pinggang Andina. Menyesap aroma wangi sabun di tubuh istrinya itu.
__ADS_1
"Kasian---" Andina tulus berempati dengan kabar yang tentu membuat shock keluarga relasi suaminya itu.
"Sayang, anak kita semunya harus masuk pesantren." Arya beralih membaringkan Andina dan ia beranjak naik di atasnya dengan kedua tangan bertumpu di sofa. "Pergaulan jaman sekarang makin mengkhawatirkan. Anak-anak harus dibekali agama yang kuat." Ia mulai membuka simpul tali bathrobe dan menyusupkan wajah ke bagian dada.
"Papi jangan deh. Nanti Lala sama Al masuk!" Andina berusaha menahan wajah Arya. "Papi, hmph---" Satu ******* lolos dari mulutnya karena permainan bibir Arya di titik kelemahannya.
"Pintunya sudah dikunci, sayang." Satu tanda kepemilikan berhasil dibuat di bagian kesukaannya itu. Gairahnya makin naik ke ubun-ubun mendengar lenguhan Andina yang lolos untuk kedua kalinya.
Arya mendongak dengan mata yang sudah berkabut hasrat. Dibelainya wajah ayu istrinya itu penuh sayang. "Sayang, 3 tahun lagi Lala SMP sambil mondok. Athaya masuk SMA mondok juga. Rumah bakalan sepi cuma ada Albiru."
"Maksudnya?!" Andina memejamkan mata menikmati permainan tangan Arya yang menyusur turun ke lembah.
"Kita bikin adik untuk Al biar dia ada teman main di rumah." Bibirnya menyapu leher yang putih dan halus, bergerak sampai ke daun telinga.
"Hmph, modus." Andina menggeleng. Namun respon tubuhnya yang menggelinjang meminta Arya melakukan lebih. Ia menatap nanar dengan kedua tangan yang mencengkram punggung suaminya itu dengan kuat.
Arya tersenyum puas menatap sang istri yang mulai 'sakaw' karena perbuatannya. Ia membuang celananya sembarang arah. Melakukan apa yang harus dilakukan.
Dari kaca jendela yang gelap dengan tirai putih mengayun pelan tertiup hembusan angin dari sela looster, tampak hari masih terang karena baru pukul 3 sore dan cuaca sangat cerah. Hawa sejuk di dalam kamar berubah panas dan gerah. Tampak dari 2 insan yang tengah menyatu dengan keringat mengembun di punggung dan kening.
"Mama---"
Gedoran di pintu terdengar keras setelah suara Lala terdengar memanggil.
"Mama kenapa pintunya dikunci."
"Kan kalo masih siang jangan kunci pintu."
Protes Lala membuat Andina membuka matanya. "Papi, itu Lala---" matanya yang sayu meminta pengertian Arya.
"Tanggung, sayang. Sebentar lagi nyampe." Arya tak peduli. Kerja kerasnya untuk membuat adiknya Al baru dimulai. Dan ia akan terus 'bekerja' setiap harinya karena selama ini Andina menggunakan kb kalender. So, say goodbye kb kalender.
"Mama---Buka pintu!" Suara Al yang hampir menangis kini terdengar. "Hwuaaa---"
"Mama---Papi--- adek nangis." Lala menggedor lagi pintu.
Bersamaan dengan itu, di dalam kamar terjadi erangan panjang dengan suara tertahan dan ambruknya Arya di atas tubuh Andina. "Papi, bukain pintu, aku ke kamar mandi." Andina mengatur nafasnya yang masih tersengal. Sama halnya juga Arya.
"I love you, babe." Arya mengecup berkali-kali kening, pipi, dan bibir Andina sebelum turun. Bertambah tahun hidup bersama, semakin bertambah pula rasa cinta dan sayangnya terhadap ibu dari anak-anaknya itu. Sungguh ia merasa bersyukur berjodoh dengan Andina yang hadir menyempurnakan hidupnya.
...🌷🌷🌷🌷...
...T A M A T...
Alhamdulillah PR ku selesai juga. Legaaaa 😃
Makasih banyak untuk semua bentuk dukungan dari pembaca setia SP. Aku senang banget novel pertamaku ini berkenan di hati readers semua.
Apakah akan ada sekuel Athaya??? Tidak janji ya.
Pokona mah love love untuk semua pembaca atas apresiasinya.
Big hugs for all of you 🤗😍
__ADS_1
Me Nia