
Arya menggeliatkan badannya, merasakan posisinya yang tidak nyaman. Perlahan membuka mata, ia mengernyit merasa berada diruangan yang asing, tidur di sofa. Ia terduduk memicingkan mata melihat sekeliling ruangan yang temaram. Di sofa sebelah ada Ricky yang tidur meringkuk, diatas ranjang ada William dan Rendi tidur pulas. Diatas meja ada beberapa gelas dan botol cola kosong serta makanan ringan.
"Shiitttt, gue pasti abis dikerjain mereka. Astaga...jam berapa ini..." Arya membatin marah. Dirinya baru ingat kejadian sebelumnya.
"Hey setan kunyuuuk....bangun lo pada..." Arya berteriak, memukul-mukul Ricky dengan bantal sofa. Lalu berjalan ke ranjang menggoyang-goyang kasar William dan Rendi. "Bangun lo....bangsaaatt !" Arya kembali berteriak marah.
"Apaan sih....ngantuk tau..baru aja tidur.." ujar Rendi serak , dengan mata yang masih terpejam.
Arya menarik Ricky yang sudah terduduk di sofa, menyeretnya ke ranjang untuk diintrogasi bareng. "Hey kunyuk...kalau lo ga juga bangun, hitungan ketiga gue siram nih ya..." Arya berkacak pinggang didepan Willian dan Rendi. Mereka langsung terperanjat, duduk berjejer dengan Ricky.
"Cepat jelasin ! Kenapa gue sampe ketiduran disini hah," ujar Arya dengan nada tinggi, menatap tajam ketiganya.
"Itu...si Rendi ngasih lo obat tidur," jawab Ricky dengan mata yang sayu karena kantuk.
"Eh ng-nggak...bukan salah gue, gue cuma disuruh sama mereka," elak Rendi, menunjuk William dan Ricky.
"Argghh dasar setan kunyuk lo semua ! Mana si Michael...gue mau cincang juga dia..!" Arya kembali berteriak marah.
"Dia gak bisa dikejar...udah naik pesawat. Udah...balik ke kamar sana...kasian Andina nungguin !" usir William dengan kepala terantuk-antuk.
"Awas aja ya ! Lihat nanti pembalasan dari gue !!!" Aryq buru-buru pergi, membanting pintu dengan keras. Ketiga setan kunyuk pun menggelepar di ranjang, melanjutkan tidur.
__ADS_1
Arya PoV
Aku benar-benar kesal dan marah sama mereka, kurang ajar sudah mengerjaiku. Aku buru-buru berlari masuk ke dalam lift menuju kamar dilantai paling atas. Bagaimana kalau Andina khawatir menungguku....
Aku memasukkan kartu akses ke pintu kamar. Setengah berlari menuju ranjang yang temaram karena hanya lampu tidur yang menyala. Aku tersenyum lega, ternyata istriku sedang terlelap. Wajahnya yang cantik ayu terlihat tenang dengan hembusan nafas halus. Rupanya ia benar-benar kelelahan, sampai nggak sadar kalau aku mengecupi seluruh wajahnya.
Kudengar suara adzan berkumandang, kulihat jam ternyata sudah jam 4.30, aku putuskan untuk mandi dan melaksanakan sholat duluan. Selesai sholat, aku menuju ranjang untuk membangunkan istriku.
"Sayang...bangun...ini sudah subuh," aku merengkuhnya ke dalam pelukan, mengecup puncak kepalanya, mencium aroma wangi rambutnya. Andina mulai menggeliat dalam pelukanku. Ia mendongakkan wajah menatapku seperti bingung. Spontan ia mendorongku menjauhkan tubuhnya.
"Sayang, kamu kenapa ?" aku mengernyit heran.
Aku sampai menggelengkan kepala, gemas melihat ekspresi polosnya itu.
"Mas, maaf aku semalam tidak menunggumu, aku ngantuk sekali.." wajahnya memelas tapi terlihat lucu. Dia nggak tau aja kalau aku baru kembali pas subuh.
Sambil menungguinya mandi dan sholat, aku buru-buru kirim pesan ke Marisa agar Athaya langsung dibawa pulang saja jangan mampir dulu kesini bisa-bisa gagal lagi urusanku. Aku akan stay 1 malam lagi, kali ini tidak akan ada lagi yang mengganggu. Semua akan check out pagi ini. Rentetan chat ucapan selamat aku abaikan dulu, hape aku matikan.
Bidadariku sedang membuatkan teh di pantry. Aku duduk santai di sofa menunggunya. Sarapan pagi sudah tersaji dimeja, aku sengaja memesan awal karena sudah tak sabar untuk memulai hasrat yang tertunda.
Andina duduk disisiku dengan gaun tidur seksinya. Aku sengaja melarang menggantinya. Dibalik busana muslimnya ternyata tersimpan pemandangan cantik indah menawan, laksana bidadari. Kami makan dengan bercanda mesra, senyum manis dengan lesung pipinya selalu membuat jantungku berdebar lebih kencang.
__ADS_1
Aku sudah tak tahan lagi, ku gendong tubuhnya menuju ranjang. Kurebahkan perlahan diatas kasur, dia tampak pasrah menerima perlakuanku. Dengan cepat kulucuti pakainnya dan pakainku. Tubuh polosnya sungguh sangat menggoda. Aku mulai melakukan foreply agar tidak terlalu sakit untuknya.
Ku eksplor dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia tampak meringis sambil mencengkram bahuku saat aku melakukan penyatuan. Aku memberi jeda sebentar "Tahan ya sayang, sakitnya hanya sebentar kok." Ku kecup mesra kelopak matanya yang terpejam, terakhir bibirnya aku ***** saat kembali aku lesakan pasak bumi ke dalam gua yang sempit. Jerit tertahan dari bibirnya yang terbungkam dengan bibirku, saat goal terjadi. Aku berhenti sejenak merendam pasak bumi dalam gua.
Aku mengusap air mata yang menggenang disudut matanya. "Sayang, buka matanya...lihat aku !" Aku membelai lembut pipi halusnya. "Sakitnya sudah lewat kok, boleh aku lanjut ya..." dia hanya menganggukkan kepala. Kembali aku bergerak penuh irama, sampai akhirnya Andina meremas rambutku saat akan menuju puncak bersama.
A****ndina PoV
Aku terbangun dalam posisi tidur dipelukan Mas Arya. Dadanya yang bidang membuatku nyaman. Aku tersenyum malu membayangkan percintaan tadi. Kini, aku sudah milik Mas Arya seutuhnya lahir batin. Kulihat Mas Arya masih tertidur, tangannya tak lepas dari pinggangku.
Aku sedikit menggerakan tubuhku yang polos dibalik selimut. Bagian bawah terasa perih dan bengkak, sampai-sampai aku meringis. Aku ingin turun tapi takut membangunkan Mas Arya juga badanku terasa lelah dan remuk. Aku ukir kata didada Mas Arya dengan telunjukku. "I love you too, sayang." Mas Arya berkata dengan mata masih terpejam. Eh, kok dia tahu kalimat yang ku ukir.
Dia tersenyum tipis saat aku mendongakkan wajah melihatnya. "Sayang makasih....kamu sudah menjaganya untukku. I love you so much." Mas Arya berkata dengan menatap sayu, ada kilatan gairah di manik matanya. "Sayang, lagi ya ?" pintanya. Aku menggeleng kepala cepat. "Jangan dulu Mas, aku masih sakit," keluhku.
"Baiklah sayang, masih ada waktu sore, malam, dan besok pagi disini." Mas Arya mengedipkan matanya, dengan mengangkat tiga jari.
Aduh...apakah aku tidak akan pingsan nantinya.....
**********
Poinnya jangan lupa ya untuk Arya yang sudah buka puasa siang-siang....😍
__ADS_1