SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
135. Dibawa Pergi (2)


__ADS_3

Arya menarik tangannya dari genggaman Andina. Terkejut dengan cerita yang baru didengarnya. "Kenapa tidak mengabari dari siang sih..." Arya menatap tajam Andina, sorot matanya seolah menahan marah dan kesal.


"Mas...maafkan aku. Tadi aku dan Mama masih optimis untuk menunggu, mungkin Oma Opa nya itu masih kangen jadi diajak main seharian..." sahut Andina.


"Aku juga tidak langsung cerita pas mas baru datang karena mas belum sholat dan belum makan. Maaf kalau aku salah...." suara Andina langsung tercekat karena buliran air mata akhirnya jatuh tak tertahan.


"Athaya nggak bisa jauh dari aku mas, dan aku menahan rasa khawatir ini dari siang karena nggak mau melihat Mama merasa bersalah....aku teringat terus kaka Mas....aku takut kaka nggak mau makan...hiks," Andina meluapkan perasaan yang menyesak di dadanya sambil menangis terisak.


Arya mengusap kedua pipi istrinya yang basah, malah membuat air matanya terus mengalir. Rasa marah yang tadi muncul perlahan mereda saat melihat sorot mata Andina yang sedih dan rapuh. Arya menarik Andina ke dadanya. "Sudah sayang, jangan menangis...tenangkan diri dulu.... kita ke rumah Mama sekarang," Arya mengusap-ngusap punggung istrinya itu. Andina hanya mengangguk lemah.


Arya bangkit dari duduknya menuntun Andina untuk ikut. "Sebentar, aku ambil hape dulu diatas !" Arya menaiki tangga setengah berlari. Tiba di dalam kamar ia coba menghubungi Om Agung, mantan mertuanya itu. Nomernya memang tidak aktif. Dia memijat pelipisnya, kejadian diluar dugaan ini membuat perasaannya campur aduk.


Arya menghampiri kembali Andina yang sudah menunggu di pintu keluar. "Ayo..." ajak Arya datar.


"Mas, aku mohon nanti tahan diri ya...jangan memojokkan apalagi memarahi Mama...Mama sudah merasa diri bersalah...tadi juga minta maaf terus sama aku..." Andina tampak memelas, wajahnya masih terlihat sembab.


Arya menghembuskan nafas berat, sejenak memejamkan kedua matanya untuk menenangkan diri. "Ayo..." Arya berjalan lebih dahulu dengan cepat, Andina segera mengikuti di belakang.


****


"Arya, maafkan mama...gara-gara Mama hiks..." Mama tak kuasa melanjutkan bicaranya. Marisa langsung mengusap-usap punggung Mama, memberi ketenangan.


"Papa sudah suruh teman di Surabaya mengecek rumahnya. Tapi pembantunya bilang belum kembali, masih di Bandung....kita cari kemana ya..." Papa menatap Arya yang masih duduk diam.


"Ma...tadi mereka bilang nggak menginap dimana ?" tanya Arya datar. Mama menggelengkan kepalanya. "Mama tidak bertanya sedetail itu Ar, Mama kira mereka tidak akan lama membawa Athaya." Mama menyeka hidungnya yang berair.


"Harusnya tadi Mama telepon Arya dulu...padahal jam 7 Arya sudah ada di rumah..." Arya berkata lirih, dia merebahkan kepalanya ke sandaran sofa, sambil meremas rambutnya.

__ADS_1


Mama hanya diam, menyeka sudut matanya yang berair.


"Sudahlah Ar jangan salahkan Mama mu....ini sudah kehendak Allah. Papa yakin mereka tidak akan menyakiti atau mengambil Athaya dari kita. Mungkin mereka hanya ingin puas-puasin bermain dengan Athaya. Sekarang kita pikirkan mau mencari kemana...kamu mungkin tahu tempat yang dulu suka disinggahi, Ar..." ujar Papa bijak.


"Aku akan mencari ke hotel YZ, tempat kerja Vita dulu. Dulu mereka setiap ke Bandung, menginapnya disana.. " Arya beranjak dari duduknya untuk pergi.


Andina menahan lengan Arya. "Mas, aku ikut ya..." Andina memohon. Arya tampak diam berpikir.


"Sebaiknya Andina ikut Ar, Athaya akan senang melihat Mama nya..." ujar Papa.


Arya dan Andina akhirnya pergi meninggalkan rumah Mama. Arya menyetir sendiri mobilnya, sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, hening. Andina melirik sekilas wajah suaminya yang sedang menyetir, tampak datar hanya memandang jalan di depannya.


Mobil sudah memasuki parkiran hotel. Arya memegang tangan Andina berjalan menuju lobby. Dirinya merasa dejavu, dulu saat Vita hamil Athaya, dia sering menjemput istrinya pulang, di lobby berlantai marmer ini. Arya menggelengkan kepalanya, menepis kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul.


Arya berjalan menuju resepsionis, tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Arya...!"


Arya dan Andina menoleh ke asal suara. Seorang pria paruh baya berjalan tergesa menghampiri. "Om yakin kamu akan kesini..." terlihat raut wajah lega Om Agung.


"Duduk dulu Ar...." Om Agung mengajak ke kursi yang kosong di sudut ruangan. "Kamu ibu sambungnya Athaya...?" Om Agung menatap Andina yang duduk di sisi Arya.


""Iya Om dia istri Arya dan Mama sambung Athaya...jadi mana Athaya nya..." Arya yang menjawab. Dia sudah tidak sabar melihat sekeliling.


"Arya, maafkan Om sudah membuat semuanya khawatir. Om nggak tahu kalau istri Om belum mengantarkan Athaya ke rumah Mama kamu..." Om Agung menghela nafas.


"Tadi jam 10, Om pergi mendadak karena teman Om menelpon minta bertemu saat itu juga. Terus terang Om ada disini untuk meminjam dana ke teman, usaha Om sedang menurun." ujar Om Agung. Gurat lelah terlihat di wajahnya.


"Mamaaa.....Mamaaa....hwua...." seorang pemuda datang menggendong Athaya yang menangis saat melihat ada Mama Andin. Athaya langsung meronta ingin turun.

__ADS_1


"Kaka sayang..." Andina menghambur mengambil Athaya, dia menciumi seluruh wajah Athaya. Ikut menangis bahagia. "Mamaaaa kaka tangen Mamaaa....hwuhwuu..." Athaya kembali menangis, mengeratkan kedua tangannya ke leher Andina. Arya tersenyum haru menyaksikan pemandangan itu.


"Om, lanjutkan ceritanya...jangan sampai Arya berprasangka buruk dengan Om dan Tante," Arya memfokuskan diri lagi ke Om Agung, wajahnya kembali datar.


"Iya Ar, istri Om bilang akan mengantar pulang saat itu juga. Om kan merasa tenang pergi, kebetulan juga hape Om lowbat. Om baru kembali kesini pas magrib bersama asisten yang tadi menggendong Athaya. Ternyata Athaya ada di di kasur sedang menangis memanggil manggil Mama...." Om Agung menjeda ceritanya, dia mengusap kasar wajahnya.


"Istri Om malah senang lihat Athaya nangis-nangis, merasa terhibur. Ternyata dia depresinya kambuh lagi Ar...." Om Agung tertunduk sedih.


Arya tampak terkejut mendengarnya. "Apa tante menyakiti Athaya, Om ?"


"Tidak, Ar. Dia hanya akan marah kalau ada yang menggangu kesenangannya. Tadi Om langsung memberikan obat tidur agar bisa bisa membawa Athaya keluar..."


"Semenjak kematian Vita, tante mengalami depresi karena hukuman sosial. Berita dan sindiran tetangga saat itu membuatnya malu dan stres. Om sudah membawa ke psikiater dan dinyatakan sembuh. Makanya Om ajak ke Bandung sekalian refreshing."


"Maafkan kami Arya....Om mohon jangan benci kami ya..." Om Agung mengatupkan kedua tanganya di dada.


Arya mengangguk. Dia langsung memeluk tubuh Om Agung, "Arya juga sama minta maaf."


Athaya tak mau lepas dari dekapan Andina yang duduk di jok depan memangkunya. Sampai dirinya tertidur lelap dengan mata yang bengkak bekas lama menangis. Andina mengusap-ngusap rambut Athaya yang tidur nemplok itu. Mencium puncak kepalanya penuh sayang.


"Sayang, maafkan aku ya...tadi sempat marah..." Arya mengusap kepala Andina dengan tangan kirinya dan mengecupnya lama, saat lampu merah menyala.


"Iya Mas."


********


Mohon ijin, selama 2 hari aku libur up dulu karena ada pekerjaan urgent. Ketemu lagi dengan A3 selasa ya, InsyaAllah. (aku blm pernah absen up sebelumnya lho 😄)

__ADS_1


Semoga readers masih pada betah dengan karyaku yg bagaikan remahan rengginang ini dibanding karya author lainnya.


Always laf u all 😍


__ADS_2